A. Judul
“SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card
Edukasi Seks Bagi Anak-anak Melalui Permainan Kartu dengan Metode Ceria
sebagai Alternatif Langkah Preventif Waspada HIV AIDS di Lokalisasi Gang Dolly

Gambar 1.1 stop free sex
B. Pendahuluan
1. Latar
Belakang
Sebelum era globalisasi, bangsa Indonesia
terkenal dengan budaya ketimurannya yang sangat mengedepankan norma,
nilai-nilai sosial serta budaya ewuh
pakewuh (punya rasa malu), akan tetapi beberapa tahun belakangan ini norma
dan nilai-nilai sosial yang dipegang teguh kian luntur, apalagi dengan adanya
pengaruh negatif budaya kebarat-baratan (westernisasi).
Hal ini amat berpengaruh pada pergaulan para
remaja yang semakin bebas. Sehingga budaya seks bebas (free sex) dipandang suatu hal yang wajar apabila dari kedua pihak
setuju berdasarkan asas suka sama suka. Selain itu akses internet dan jejaring
sosial yang kian mudah didapatkan tanpa adanya filter yang jelas sedikit banyak menyumbang aksi seks bebas tadi.
Bayangkan, secara kasarnya anak-anak SD pun dapat mengakses situs-situs porno
dengan mudah kapan saja dan dimana saja baik itu via telepon genggam, laptop,
maupun warung internet.
Akibatnya budaya seks bebas kian marak.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi
Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2007 terhadap 4500 remaja di 12 kota
besar di Indonesia menunjukkan 97% pernah menonton situs porno, 93,7% pernah
ciuman, petting, dan oral sex, 62,7% remaja SMP pernah berhubungan seks dan
21,2% siswi SMA pernah aborsi.
Berdasarkan survei tadi 62,7% pelajar SMP
pernah berhubungan seks, hal ini tentunya menimbulkan beberapa masalah baru
diantaranya: PMS (Penyakit Menular Seksual), praktik aborsi hingga penyebaran
virus HIV AIDS. Berdasarkan data
Kementerian Kesehatan pada akhir Juni 2010 tercatat 21.770 kasus AIDS dan
47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni
48,1%.
Hal ini semakin parah apalagi di
kota-kota besar seperti Surabaya, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2011 terdapat 811
kasus HIV AIDS 161 kasus berasal dari Pekerja Seks Komersial. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Surabaya tepatnya di kawasan Gang
Dolly yang notabene menjadi lokalisasi
yang disebut-sebut terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang bahkan
mengalahkan lokalisasi lain seperti Patpong (Thailand) dan Geiyang (Singapura).
Sejarah Dolly sendiri sejak jaman
Belanda yaitu berawal dari wanita keturunan Belanda yang menetap di Surabaya
bernama Dolly Van De Mart yang menyulap area pemakaman menjadi lokalisasi yang
dikhususnya untuk tentara Belanda, akan tetapi seiring berjalannya waktu tempat
tersebut terbuka untuk umum termasuk para pribumi, saudagar hingga turis
mancanegara sehingga banyak orang yang bertumpu perekonomiannya pada Gang Dolly
mulai dari tukang parkir, laundry, pedagang kaki lima,
pemilik losmen, hingga hotel.
Konsekuensi dari lokalisasi Dolly
tersebut tentunya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat dewasa, akan tetapi
dirasakan pula oleh remaja dan anak-anak sekitar. Sehingga perlu adanya edukasi
seks yang benar yang disesuaikan dengan usia mereka. Yang tujuan jangka
panjangnya dapat mengurangi resiko penyakit HIV AIDS yang banyak menyerang
orang di sekitar mereka.
Melalui kegiatan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dengan media permainan kartu yaitu “SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card Edukasi Seks Bagi Anak-anak Melalui
Permainan Kartu dengan Metode Ceria sebagai Alternatif Langkah Preventif
Waspada HIV AIDS di Lokalisasi Gang Dolly. Diharapkan selain bertujuan
memberikan pendidikan seks sejak dini agar terhindar virus HIV AIDS termasuk
proses penularannya serta sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat
sekitar yang merupakan tujuan dari 3 pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi
yaitu pendidikan, Penelitian, dan pengabdian masyarakat.
2. Rumusan
Masalah
a. Bagaimana
memberikan edukasi seks sejak dini bagi anak-anak yang hidup di lingkungan
lokalisasi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa?
b. Bagaimana
mengombinasikan edukasi seks dengan permainan konvensional anti
individualistis?
c. Bagaimana
metode tersebut dapat diterapkan pada anak-anak yang jangka panjangnya untuk
mencegah HIV AIDS?
3. Tujuan
Penulisan
a. Sosialisasi
edukasi seks melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan lokalisasi.
b. Menghidupkan
kembali permainan konvensional yang syarat akan kebersamaan.
c. Langkah
preventif untuk mencegah HIV AIDS pada generasi muda di Gang Dolly, Surabaya.
C. Pembahasan
1.
Pemahaman
mengenai Seks bebas, HIV AIDS, dan Edukasi Seks
a.
Seks
Bebas (Free Sex)
Gambar 1.2 stop
free sex
Definisi
seks bebas menurut (Sarwono, 2000) adalah tingkah laku yang didorong oleh
hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku. Tingkah laku ini
beranekaragam, mulai dari saling tertarik dengan lawan jenis, lalu berkecan,
bercumbu dan diakhiri dengan dampak yang tidak baik, lalu akhirnya dampak
tersebut akan timbul baik bagi lingkungan, sosial, maupun pribadi terutama
sangat berdampak pada psikologis. Jika lingkungan psikologis terganggu maka
sosial pun akan berubah.
Berdasarkan definisi di atas pengaruh
lingkungan cukup berperan penting, apalagi kontrol yang lemah dari keluarga
maupun lingkungan sekitar membuat seseorang dengan bebasnya melakukan seks
bebas khususnya mereka yang hidup di kota besar seorang diri dan jauh dari
orang tua. Apalagi pengaruh lingkungan lokalisasi yang sudah jelas menghadapkan
anak-anak dan remaja setiap harinya untuk terpaksa menyaksikan perilaku maupun
tata cara berbusana yang tak sepatutnya.
b.
HIV
AIDS
Gambar 1.3 cegah HIV AIDS
Pengetahuan
remaja tentang HIV AIDS masih cukup rendah, berdasarkan
suvei yang dilakukan oleh SKRRI pada tahun 2002, tercatat hanya 42% mengetahui
HIV AIDS. Definisi HIV AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem imun
(kekebalan tubuh) yang ditularkan melalui beberapa cairan, sehingga orang yang
terjangkit virus HIV apabila terkena penyakit sekalipun itu penyakit sederhana
seperti flu, batuk, luka lecet dapat berakibat fatal karena sistem imun mereka
amat lemah. HIV AIDS sendiri dapat menular melalui 3 cairan, yakni:
1.
Darah (melalui
jarum suntik, tindik, tato yang tidak steril dan terkontaminasi HIV).
2.
ASI
(proses menyusui ibu yang terkontaminasi virus HIV AIDS terhadap bayinya).
3.
Cairan
kelamin (sperma dan vagina).
c.
Edukasi
Seks (Sex Education)
Gambar 1.3 edukasi seks
Adalah Suatu bentuk pendidikan seks yang baik
dan benar yang di dalamnya berisikan apa itu seks, bagaimana seks bisa terjadi,
bahaya yang ditimbulkan seks bebas, penyakit kelamin yang diakibatkan seks
bebas serta termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai HIV AIDS dan
penularannya.
Edukasi seks merupakan langkah pencegahan
yang efektif untuk mengurangi angka seks bebas yang kian memprihatinkan di
Indonesia, khususnya bagi mereka generasi muda penerus bangsa. Hal ini bisa
dilakukan melalui materi pembelajaran di sekolah, seminar kesehatan, poster dan
spanduk, gerakan anti seks bebas maupun melalui permainan konvensional yang
menarik bagi anak-anak dan remaja pada khususnya.
2.
Deskripsi
Kegiatan
a.
Definisi
Program
“SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card adalah bentuk edukasi seks sederhana yang
dilakukan oleh mahasiswa melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dalam bentuk
permainan kartu dengan metode ceria kepada anak-anak dan remaja di kawasan
lokalisasi Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur sebagai alternatif langkah
pencegahan seks bebas dan HIV AIDS beserta pemahamannya.
b.
Pelaku
Mahasiswa yang tengah menjalankan kegiatan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk pengabdian mahasiswa terhadap
masyarakat sesuai dengan 3 pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni
pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Selain itu bentuk kontribusi
nyata ini diharapkan untuk mengurangi paradigma negatif masyarakat terhadap
citra buruk mahasiswa kini seperti tawuran, demonstrasi yang berakhir ricuh,
dan aksi kriminalitas yang sama sekali tidak mencerminkan hakikat mahasiswa itu
sendiri.
Gambar 1.4 mahasiswa
Program ini dilakukan saat mahasiswa
melakukan kegiatan KKN, pada awalnya mahasiswa memberikan sosialisasi kepada
para anak-anak dan remaja di Gang Dolly, Surabaya mengenai pemahaman seks
bebas, HIV AIDS dan penularannya, setelah itu mahasiswa mengenalkan apa itu
“SANTOS CARD” dan bagaimana cara memainkannya, tentunya program ini memerlukan
dukungan dari beberapa lini baik itu masyarakat sekitar Gang Dolly itu sendiri
maupun Pemerintah.
c.
Sasaran
Kegiatan
ini ditujukan pada anak-anak hingga remaja, karena sifat ingin tahu mereka
sangat tinggi, apalagi pasaran gadget
menyerang mereka dengan mudah, sehingga segala informasi di internet khususnya
jejaring sosial dapat mereka akses baik itu yang positif maupun hal-hal yang
negatif. Pada dasarnya langkah preventif sangat tepat dilakukan sebelum
anak-anak dan remaja tersebut terjerumus dalam seks bebas dan HIV AIDS.
Gambar
1.5 anak-anak
Selain
itu masa anak-anak adalah masa bermain dan belajar, sehingga bentuk edukasi
seks melalui permainan kartu diharapkan dapat diterima mereka sesuai dengan
usia dan tingkat penalaran yang masih sederhana. Dibanding melalui seminar
maupun program konseling yang membutuhkan waktu dan penanganan yang khusus.
d.
Lokasi
Berdasarkan survei dari Dinas Kesehatan
Surabaya yang menghasilkan angka yang cukup mencengangkan yaitu 811 kasus HIV
AIDS pada tahun 2011,
sehingga program ini akan lebih efektif dan efisien apabila diaplikasikan di
kawasan lokalisasi Gang Dolly, Kota Surabaya, Jawa Timur. Sebagai edukasi seks
bagi anak-anak dan remaja yang sejak kecil tumbuh dan mungkin sudah akrab
dengan lingkungan prostitusi.
Sehingga
pengaruh buruk yang sudah melekat dari lingkungan sekitar diharapkan sedikit
ternetralisir dengan adanya kegiatan edukasi seks melalui permainan kartu yang
dilakukan oleh para mahasiswa yang tengah melakukan kegiatan KKN di wilayah
tersebut.
e.
Produk
“SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card yaitu berupa permainan kartu sederhana
mengenai edukasi seks dan pemahamannya yang di dalamnya terdapat komponen
gambar, pesan dari gambar tersebut, dan point yang menentukan kalah menangnya
pemain kartu tersebut.
Gambar 1.6 dan 1.7 Santos Card
f.
Metode
Ceria (Cerdas, Riang, dan Anti Individualistis)
1.
Cerdas
Permainan
kartu dengan konten gambar dan pesan mengenai edukasi seks serta pengetahuan
HIV AIDS dan penularannya diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
anak-anak dan remaja yang tumbuh di lokalisasi Gang Dolly, Surabaya. Sehingga
mereka dapat tumbuh cerdas dan mengenal seks secara benar dan tepat sesuai usia
dan penalaran mereka yang masih sederhana.
2.
Riang
Permainan
kartu ini diharapkan dapat menciptakan suasana riang gembira bagi anak-anak dan
remaja yang sedang memainkannya. Dengan gambar yang variatif dan edukatif
bertujuan untuk menghindari kebosanan anak-anak terhadap permainan konvensional
pada umumnya, sehingga Santos Card diharapkan menghidupkan kembali permainan
konvensional yang kian ditinggalkan akibat menjamurnya permainan digital (PSP, Game Online, dan Gadget)
3.
Anti
Individualistis
Karena
dimainkan oleh beberapa orang, sehingga Santos Card diharapkan dapat memupuk
rasa solidaritas dan kebersamaan selain itu menghindari permainan yang bersifat
individualistis seperti permainan digital yang berpengaruh pada pembentukan
karakter individualistis yang seakan-akan tidak membutuhkan orang lain. Karena
pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang artinya tidak dapat hidup
sendiri melainkan membutuhkan bantuan orang lain.
Contoh:
- Seorang
anak yang tumbuh di lingkungan perumahan yang setiap harinya akrab dengan game online otomatis anak tersebut
tumbuh menjadi pribadi individualis yang berdampak pada susahnya bergaul
terhadap lingkungan yang baru.
- Bandingkan
dengan anak yang tumbuh di lingkungan perkampungan yang setiap harinya akrab
dengan permainan tradisional syarat kebersamaan seperti: kelereng,
layang-layang, dan petak umpet. Sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang
peka terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.
g.
Mekanisme
Permainan
Permainan Santos
Card terdiri dari 5 anak yaitu seorang anak sebagai juri (Santos Judges) dan 4 anak sebagai pemain
(Santoser). Di sini juri memiliki 40 Santos Card, setiap kartunya terdapat
komponen gambar, dua digit poin, dan pesan dari gambar tersebut. Kemudian Santos Judges mengocok seluruh santos card dan kemudian membaginya
secara adil ke masing-masing anak, setiap anak mendapatkan kartu sebanyak 10
buah.
Mekanisme permainannya setiap Santoser wajib mengocok kartu sebelum
permainan dimulai. Kemudian setiap anak memasang satu kartu terserah sesuai
keinginan. Lalu memberi umpan satu kartu ke Santoser
yang lain. Setiap kartu terdiri dari 2 digit poin (00-99) dimana yang diikutkan
dalam perhitungan yaitu 1 digit belakang dari hasil penjumlahan.
Misalnya: kartu si A yaitu 09 dengan 46 maka
skorenya adalah 09 + 46 = 55, dengan kata lain skore anak tersebut adalah 5.
Skore sendiri dimulai dari angka 0 sampai 9, dimana skore 0 adalah skore
terendah dan 9 adalah skore tertinggi.
Dari ke empat anak tersebut Santoser dengan skore tertinggi yang
sementara menjadi pemenang, sedangkan ke tiga Santoser yang kalah wajib menyerahkan kedua kartunya kepada Santos Judges. Dan berkewajiban
membacakan pesan yang ada di kartunya sebanyak 3 kali.
Begitu seterusnya sampai tersisa kartu Santos
terbanyak dari Santoser, maka dialah
yang keluar sebagai pemenang dengan penetapan dari Santos Judges terlebih dahulu. Sebenarnya banyak tipe dari
permainan kartu, mekanisme permainan di atas hanya salah satu contoh dari
permainan kartu itu sendiri. Dapat dikreasikan sesuai keinginan anak-anak
seperti: tiup kartu, efek domino, dan acak kartu.
3.
Tujuan
a.
Mengenalkan
edukasi seks untuk anak-anak dan remaja melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja
Nyata) di lokalisasi Gang Dolly.
b.
Menghidupkan
kembali permainan konvensional syarat kebersamaan yang kian ditinggalkan.
c.
Mengurangi
karakter individualistis anak-anak yang lebih memilih permainan digital
dibanding permainan tradisional.
d.
Menetralisir
pengaruh buruk di kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.
e.
Menanamkan
pemahaman mengenai seks bebas, HIV AIDS dan penularannya.
f.
Sebagai
langkah pencegahan (preventif) HIV AIDS pada generasi muda penerus bangsa di
lokalisasi Gang Dolly, Surabaya.
g.
Sebagai
bentuk kontribusi yang nyata yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengabdi pada
masyarakat melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata).
h.
Mengurangi
persepsi masyarakat terhadap eksistensi mahasiswa yang akhir-akhir ini sedikit
dipandang buruk akibat kasus tawuran, demonstrasi anarkis, dan kasus kriminal
yang pada hakikatnya bukan mencirikan eksistensi mahasiswa.
D. Penutup
1. Simpulan
Berawal
dari masalah seks bebas yang kian hari kian memprihatinkan di Indonesia apalagi
dengan adanya akses informasi yang dapat diakses secara leluasa oleh semua
kalangan khususnya anak-anak dan remaja sehingga perlu adanya langkah preventif
yang tujuannya memberikan edukasi seks yang tepat bagi anak-anak dan remaja
agar tidak terjerumus ke dalam pengaruh negatif budaya barat yaitu seks bebas yang
dampaknya terjangkit virus HIV AIDS.
Untuk
itu perlu adanya langkah pencegahan yaitu berupa “SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card adalah bentuk
edukasi seks sederhana yang dilakukan oleh mahasiswa melalui kegiatan KKN
(Kuliah Kerja Nyata) dalam bentuk permainan kartu dengan metode ceria kepada
anak-anak dan remaja di kawasan lokalisasi Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur
sebagai alternatif langkah pencegahan seks bebas dan HIV AIDS beserta
pemahamannya.
Hal ini
bertujuan memberikan pemahaman seks sejak dini bagi anak-anak di lingkungan
lokalisasi agar mengetahui seks sesuai dengan usia dan penalaran mereka yang
masih sederhana, dengan metode permainan kartu diharapkan menghidupkan kembali
permainan konvensional syarat kebersamaan sehingga karekter individualistis
dari permainan digital dapat sedikit terkurangi, selain itu sebagai bentuk
kontribusi nyata mahasiswa melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang
merupakan 3 pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan
pengabdian masyarakat.
2. Saran
Kegiatan
ini akan berjalan secara maksimal tentunya dengan peran serta oleh masyarakat
Surabaya, Pemerintah Daerah, maupun Pemerintah Pusat untuk mencanangkan
generasi muda penerus bangsa anti seks bebas. Tidak serta merta menghilangkan
secara keseluruhan akan tetapi sedikit demi sedikit dapat dikurangi dengan
langkah-langkah preventif (pencegahan) secara sederhana.
Sudah
barang tentu tulisan dan program ini masih banyak terdapat kesalahan, untuk itu
penulis mohon maaf dan sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Semoga kegiatan tersebut dapat terealisasi dan dapat berjalan dengan maksimal
dengan adanya dukungan dari segala lini. Tak lupa penulis mengucapkan terima
kasih terhadap semua buku maupun sumber dari internet yang sudah menjadi
referensi demi terselesaikannya tulisan ini.
Daftar
Pustaka
Dianawati, A. 2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta:
Kawan
Pustaka
Surtiretna, N. 2001. Bimbingan Seks bagi Remaja.
Bandung: Remaja
Rosdakarya
Tjokronegoro, Arjatmo dan Hendra. 2003. Penyakit Menular
Seksual.
Jakarta:
Balai Penerbit FK UI
Hakiki. 1999. Jejak Pelacur Anak di Gang Dolly. Surabaya:
Lutfarisah
Print
Dharmamulya, Sukirman dkk.
2008. Permainan Tradisional Jawa.
Yogyakarta:
Penerbit kepel Press Puri arsita A-6
Rusdi Amral. 2013. Kontroversi Lampu Merah di Surabaya. (Online).
(http://regional.kompas.com/read/2013/11/12/1815495/Kontroversi.Lampu.Merah.di.Surabaya) Diakses pada Jumat 6 Desember 2013 21.22
Alfian.
2013. Tri Dharma Perguruan Tinggi.(Online).
(http://alfianh.ngeblog.ittelkom.ac.id/2013/08/25/tri-dharma-perguruan-tinggi/) Diakses pada Jumat 6 Desember 2013 21.29
Redaksi Tempo. 2013. Nasib Bayi yang Lahir di Lokalisasi.
(Online).
(http://www.tempo.co/read/news/2013/10/16/173522066/Nasib-Bayi-bayi-yang-Lahir-di-Lokalisasi) Diakses pada Jumat 6 Desember 2013 22.01
Riyan Galih. 2009. Bahaya Free Sex. (Online).
sex/) Diakses pada Jumat 6 Desember 2013
22.17
Tulisan di atas diikutkan Lomba Menulis Blog yang diadakan oleh Blog FPKR (Forum Peduli Kesehatan Rakyat) dengan alamat blognya : www.blogfpkr.wordpress.com






















saya setuju dg santos card trsbt,. santos card sdkt bnyak akn mmbtu anak usia dini untuk memahami bahaya seks bebas sehingga anak anak tersebut tidak terjerumus dalam lingkungan tempat tinggalnya (gang dolly),..
BalasHapusslain itu seperti yg telah d jelaskan d atas, santos card jga dpat mmbuat seorg anak meninggalkan sifat keindividualis nya, sngga mreka akn lbh peduli trhdap sekitar.x,.
mungkin alangkah lebih baiknya jika ada permainan santos card santos card yang lain, yg ditujukan untuk memberi pengetahuan serta pencegahan terhadap anak anak yg tumbuh kembang di kawasan gang dolly,..
Terima kasih Marisa, memang saya juga berharap begitu, demi menetralisir pengaruh negatif lingkungan sekitar kita perlu melakukan langkah-langkah preventif seperti edukasi seks
Hapussaya setuju dengan adanya santos card kerena dengan adanya santos card dapat memeberikan pengetahuan kepada anak-anak SD dan SMP tentang bahaya seks bebas dan HIV AIDS yang dapat mengancam masa depan mereka serta permainan santos card bisa memberikan pengetahuan untuk pencegahan terhadap seks bebas dan anak-anak bisa lebih peduli terhadap lingkungan yang mereka tinggali :)
BalasHapusTerima kasih Anggita, semangat untuk sedikit berkontribusi demi terwujudnya generasi muda anti free sex dan stop HIV AIDS
HapusSaya setuju dengan metode SANTOS CARD yang Anda lakukan untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak mengenai Orientasi Seksual dan dampak akibat seks bebas. Tentunya pengetahuan seks yang diberikan harus disesuaikan dengan umur anak-anak tersebut. Metode SANTOS CARD tersebut sangat cocok untuk diterapkan kepada anak-anak karena sesuai dengan usia mereka dimana anak-anak usia mereka akan lebih merasa tertarik mempelajari suatu hal dengan cara bermain sehingga mereka akan lenih mudah memahami hal-hal yang kita sampaikan.
BalasHapusSalam semangat dan terus berkontribusi untuk menciptakan generasi penerus bangsa Indonesia yang sehat dan terhindar dari seks bebas!! :)
Tarima kasih saudara jony, semoga apa yang ada di tulisan suatu saat dapat kita implementasikan
HapusSaya sangat setuju dengan saudara Suwandi karena memang diperlukan suatu metode khusus dalam memberikan pengetahuan bahaya sex bebas kepada anak- anak. Metode Santos Card sangat interaktif untuk dipratikkan kepada anak- anak. Semoga dengan ini muncul kesadaran dari masyarakat untuk memberikan pendidikan seks kepada anak- anak sehingga tercipta generasi yang gemilang di masa depan.
BalasHapusTerima kasih saudara latif, saya juga berharap demikian
Hapus