Selasa, 10 Desember 2013

Proud to be a Moslem? Why not?

created by : Ahmad Suwandi
“Bangga menjadi seorang muslim? Kenapa tidak?”. Sebuah frasa yang sekiranya tak asing lagi di telinga kita. Acapkali kita lebih bangga dengan tittle kita sebagai seorang Sarjana, Magister, Doktor, maupun Profesor. Sebuah tittle yang disandang seseorang usai menyelesaikan jenjang pendidikan maupun pengabdian kepada masyarakat. Selain itu sering diantara kita yang bangga akan status “orang kaya” yang identik dengan materi duniawi semata dan yang lebih parahnya lagi yakni bangga dengan tindik serta tato yang menempel di sekujur tubuh kita yang sama sekali dibenci oleh Allah SWT.
Dampak negatif dari globalisasi pun ikut serta merubah pola pikir dan gaya hidup para remaja dewasa ini. Contohnya: remaja yang lebih bangga akan gaya kebarat-baratan (western style), remaja putri yang bangga dengan koleksi tas bermerek dari brand ternama dibanding mengoleksi buku religi maupun hijab yang seharusnya wajib mereka kenakan setiap harinya serta lebih tertarik dan bersemangat ketika diajak jalan-jalan ke Mall, tempat karaoke, waterboom, dll dibanding pergi ke pengajian, tabligh akbar maupun kajian-kajian muslim yang tentunya bermanfaat bagi wisata rohani sebagai penyejuk hati dan pendamai jiwa bagi mereka yang tengah berada di masa pencarian jati diri ini.
Remaja yang kebanyakan lebih mengidolakan para aktris dan aktor yang kerap wara-wiri di media massa dibanding mengidolakan Rosulullah dan para sahabatnya. Tentunya sedikit banyak mempengaruhi pola pikir remaja tersebut yang kemudian termindset sedemikian rupa untuk mengikuti apa saja yang dikenakan maupun dilakukan para artis idolanya tadi yang secara umum hanya gaya hidup glamour yang sekedar menghambur-hamburkan uang dan berfoya-foya. Padalah telah kita ketahui bahwa nilai-nilai kehidupan Rosulullah dan para sahabatnya banyak mengandung teladan yang apik bagi kehidupan sekarang ini. Seperti kejujuran Rosulullah dalam berdagang dan keteguhannya dalam menyebarkan agama islam, ketegasan Umar Bin Khatab dalam kepemimpinannya dan juga keberhasilan Ali Bin Abi Thalib dalam mendapatkan putri Rosulullah SAW.
Kebanggaan kita menjadi seorang muslim sesekali pasang surut bagaikan permukaan air laut. Disuatu saat kita menggebu-nggebu dalam beribadah serta mengamalkan amalan-amalan baik lainnya akan tetapi pada suatu kondisi  kita merasa lelah dan bahkan minder menjadi seorang muslim. Hal-hal tersebut dipengaruhi oleh:
1.      Pondasi pendidikan agama yang lemah
Di sini peran keluarga menjadi syarat utama. Karena pada dasarnya sesorang dilahirkan ke dunia ini secara fitrah sebagai seorang muslim, dan apabila orang tersebut kemudian menjadi seseorang nonmuslim, diakibat keluarga maupun lingkungan sekitar yang mempengaruhi. Jadi pendidikan dasar agama harus ditanamkan sedini mungkin. Mulai dari belajar sholat, membaca Al-Qur’an, berpuasa dll. Selain itu peran sekolah dan lingkungan pun sedikit banyak berpengaruh terhadap kemantapan ketauhidan seseorang. Pembelajaran agama di sini bukan hanya 2 jam pelajaran di setiap minggunya akan tetapi pembelajaran yang intens dan berulang-ulang agar anak memiliki dasar pondasi yang kokoh yang bisa menguatkan iman dan tauhidnya agar tak serta-merta bangga menjadi seorang muslim melainkan juga ikhlas dalam menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.
2.      Pergaulan yang tidak benar
Anak yang telah bertahun-tahun dididik dengan baik oleh orang tuanya bisa jadi dalam beberapa bulan bahkan hitungan jam bisa menjadi buruk akibat pergaulan jaman sekarang. Sebagai contoh: “Amir merupakan remaja sholeh lulusan pondok pesantren, setelah lulus ia merantau ke kota besar lalu disana ia dihadapkan pada kenyataan hidup di lingkungan terminal yang tak asing lagi dengan tindak kriminal, di suatu kondisi ia kepepet dan tak ada sepeser pun rupiah di dompetnya, kemudian ada salah seorang preman menawarinya untuk menjual sabu-sabu tentu dengan iming-iming upah besar dan tipu daya jaminan keamanan yang akan ia dapatkan. Dan karena tak kuat dengan godaan,  Amir pun terjerumus menuruti ajakan tersebut dan ia menjadi penjual sabu-sabu yang notabene barang haram itu.
Jadi pergaulan berperan penting dalam menentukan perilaku dan orientasi seseorang. Seorang Amir yang sholeh dan telah mengenyam pendidikan agama saja bisa terlena karena himpitan ekonomi apalagi seseorang yang tidak ada sama sekali mendapat background agama. Sehingga sudah sepatutnya kita bergaul dengan orang-orang yang baik yang senantiasa memberikan motivasi bukan solusi sesaat namun sesat seperti cerita di atas tadi.
3.      Peran media massa dan jejaring sosial
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini sangat pesat bahkan merek handphone hampir tiap hari mengeluarkan produk barunya. Sehingga IPTEK dan kehidupan manusia modern tidak bisa dipisahkan. Namun penggunaan media massa acapkali diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya: penyiaran tayangan televisi yang menampilkan artis-artis berpakaian seronok yang seharusnya tidak layak ditonton oleh anak-anak, acara talk show yang mengandung unsur-unsur syara’ dan juga film layar lebar yang berlabel film horror akan tetapi di dalamnya dibumbui adegan-adegan syur para aktor dan aktrisnya. Tentunya hal ini menjadi PR bagi lembaga sensor Televisi dan Film untuk menyeleksi tayangan-tayangan yang selayaknya pantas untuk anak-anak yang memberikan tayangan-tayangan yang bukan hanya sekedar menghibur akan tetapi juga mendidik.
Peran jejaring sosial saat ini pun tak kalah hebatnya dengan televisi, seperti contohnya: facebook, twitter dll. Dalam jejaring sosial memang kita sebebas-bebasnya mengekspresikan apa yang hendak kita tuangkan akan tetapi harus memerhatikan norma-norma serta syariat islam yang telah ditetapkan. Kejahatan di dunia maya pun kian hari kian marak dengan adanya penculikan yang bermula kenal via facebook, diajak ketemuan terus hilang tanpa kabar. Serta perkataan-perkataan seperti ejekan, hinaan, keluhan serta luapan emosi terhadap seseorang bisa juga berakhir ke meja hijau. Seharusnya kita sebagai seorang muslim harus bisa menjaga lisan dan perbuatannya. Seperti yang telah tercantum dalam surat Al-Isra ayat 28 yang artinya:
“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas.” (QS. Al-Isra: 28).


4.      Paradigma yang salah mengenai muslim
Apa yang terbesit dengan kata “teroris” di benak masyarakat?. Pandangan yang salah dalam benak masyarakat yakni teroris ada kaitannya dengan seorang muslim yang melakukan jihad dalam bentuk pengeboman terhadap orang nonmuslim. Seharusnya kita sebagai seorang muslim harus mematahkan anggapan negatif ini. Mungkin dalam realita ada akan tetapi mereka hanya oknum garis keras yang berdampak negatif terhadap citra seorang muslim semakin buruk di pandangan masyarakat global dewasa ini. Padahal islam itu mencintai kedamaian dan membenci kekerasan, seperti yang tertera dalam surat Al Hujurat ayat 10 yang artinya:
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q:S al-Hujurat:10)
8        Alasan Bangga Menjadi Seorang Muslim
1.      Islam itu cinta damai
Citra islam di dunia barat memang tak jauh-jauh dari yang namanya teroris, pengeboman, kekerasan dll. Paradigma ini yang seharusnya diluruskan oleh para generasi pemuda dan pemudi muslim agar memperbaiki citra yang sudah melekat ini. Sulit memang, akan tetapi terasa mudah ketika telah berjalan. Misalnya dengan mengadakan pertukaran antara pelajar muslim Indonesia dengan pelajar luar negeri yang notabene nonmuslim, dari kegiatan tersebut diharapkan dapat mengenalkan islam yang sesungguhnya. Sehingga dapat mematahkan paradigma negatif  mengenai orang islam.

2.      Islam itu menyukai keindahan

“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk melainkan Allah suka terhadap keindahan. Misalnya: pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim ketika akan sholat harus bersih dan suci dari najis selain itu mengenakan wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol akan menambah estetika saat kita menyembah Allah SWT. Begitu pula pakaian yang dikenakan para muslimah tentunya yang menutup aurat dan apabila dipadukan dengan berbagai hijab modern yang modelnya beranekaragam akan menambah kecantikan sejati yang terpancar dari wajah muslimah.

3.      Kontribusi ilmuan muslim
Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Alexander Graham Bell merupakan ilmuan barat yang tak asing lagi di dunia ini, akan tetapi perlu kita ketahui banyak ilmuan muslim yang sebenarnya menyumbangkan andil yang besar bagi kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Seperti halnya Al Khawarizmi merupakan bapak aljabar asal Persia yang membuat buku pertamanya yang membahas solusi sistematik dan linear, dan notasi kuadrat.
Yang kedua yakni Ibnu Sina yang menghabiskan masa hidupnya dengan menulis kitab-kitab seperti kitab Al Syifa dalam filsafah dan Al qanun dalam ilmu kedokteran yang berfungsi bagi perkembangan dunia medis sekarang ini. Dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim lainnya yang berkontribusi dalam IPTEK maupun bidang lainnya, tugas bagi generasi muslim sekarang agar ikut serta mengikuti jejak para mereka atau paling tidak menjaga dan memelihara ilmu-ilmu yang telah mereka ciptakan.

4.      Teladan dari pejuang muslim
Lebih banyak ngefans dengan para artis dibanding mengagumi pejuang muslim. Kenyataan yang diperoleh dari kehidupan di jaman sekarang ini. Pasalnya mereka kurang mengenal para pejuang dan ulama muslim. Pengetahuan yang mereka dapat hanya dari sekolah-sekolah yang menyajikan secara sepintas cerita pejuang muslim tersebut. Kondisi ini berbanding terbalik terhadap konsumsi media massa yang menayangkan aktor dan artis idolanya intens setiap saat.
Pepatah Jawa bilang ” Wiwiting tresno jalaran saka kulino” yang artinya cinta akan tumbuh karena terbiasa. Mungkin kenyataan ini tak serta merta 100% salah para pemuda sekarang ini, akan tetapi juga media massa yang menjejali otak mereka dengan tayangan-tayangan yang hanya bersifat menghibur semata. Sehingga pengetahuan mengenai pejuang, pendiri dan ulama-ulama muslim amatlah kurang.
Padahal banyak teladan yang dapat kita petik dari Rosulullah SAW, ketelatenannya dalam berdakwah menyebarkan agama islam, kejujurannya dalam berdagang dengan Khatijah, serta ketangguhannya dalam berperang melawan Kafir Quraishy. Seperti yang tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 21 yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] : 21)

5.      Ibadah itu gratis dan menyenangkan
Pada dasarnya ibadah itu akan terasa menyenangkan ketika dilaksanakan dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah SWT. Cara kita yang pertama yakni harus mengubah mindset bahwa sholat, puasa itu bukan merupakan suatu kewajiban melainkan suatu kebutuhan bagi suatu muslim. Apabila hal ini telah menjadi kebiasaan (habbit) niscaya akan ringan kedepannya dalam menjalankan ibadah yang hanya berlandaskan mengharap ridho Allah.

6.      Da’i muda yang kekinian
Dewasa ini bermunculan para pendakwah/da’i muda di Indonesia. Dengan pelbagai kelebihan dan tema yang mereka usung demi menciptakan suasana dakwah yang keratif dan inovatif serta kekinian yang bertujuan menarik para generasi muda muslim Indonesia agar rutin datang mengunjungi pengajian akbar maupun kajian-kajian rutin yang khusus diadakan dalam rangka memberikan siraman rohani terhadap generasi muda muslim. Contohnya: Alm. Ustad Jefry Al Bukhori atau yang kerap disapa Uje, Ustad Solmed, Ustad Guntur Bumi dan sebagainya.

7.      Indahnya toleransi dalam islam
Kisruh antar umat beragama di Indonesia akhir-akhir ini telah menjadi masalah pelik. Masalah yang acapkali timbul akibat hal-hal yang sepele seperti: saling ejek-mengejek antar umat, pelarangan menjalankan ibadah bagi kaum minoritas di suatu tempat bahkan sampai masalah yang besar berupa pengeboman tempat ibadah saat perayaan hari besar. Padahal agama islam mengajarkan pada umatnya untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama muslim dan juga non muslim. Seperti terjemahan ayat al-qur’an di bawah ini :

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8)

8.      Ta’arufan dalam islam
Di dalam agama islam memang tak mengenal istilah pacaran. Pacaran dilarang dalam islam. Akan tetapi ta’aruf lah yang diajarkan dalam islam. Ta’aruf merupakan proses saling mengenal satu sama lain sebelum ke jenjang pernikahan. Jadi maksud dan tujuan ta’aruf di sini agar menghindari hal-hal negatif yang sering terjadi akibat pacaran seperti MBA (Married By Accident), seks bebas (free sex) dll. Sehingga proses ta’arufan sebagai alternatif positif untuk mengenal lebih jauh pasangan hidup seseorang.


Masih ada 1001 alasan lagi untuk bangga menjadi seorang muslim. Mulai dari agama yang mencintai kedamaian sampai proses pengenalan antar pasangan atau yang kerap disebut ta’arufan semakin menambah betapa subhanallah nya agama islam ini. Tentunya tak ada alasan lagi bagi setiap muslim untuk merasa minder atau kurang bangga dengan statusnya sebagai seorang muslim. Tentunya rasa bangga ini harus diimbangi dengan ketaatan dan ketaqwaan seorang muslim untuk menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan syariat Islam dan meninggalkan laranganNya. Alangkah indahnya suatu kebanggaan terhadap apa yang diyakini dan apa yang diaplikasikan. Dan sudah saatnya kita bangga menjadi seorang muslim. We proud to be a Moslem.

0 komentar:

Posting Komentar