Proud
to be a Moslem? Why not?
created by : Ahmad Suwandi
“Bangga menjadi seorang
muslim? Kenapa tidak?”. Sebuah frasa yang sekiranya tak
asing lagi di telinga kita. Acapkali kita lebih bangga dengan tittle kita sebagai seorang Sarjana,
Magister, Doktor, maupun Profesor. Sebuah tittle
yang disandang seseorang usai menyelesaikan jenjang pendidikan maupun
pengabdian kepada masyarakat. Selain itu sering diantara kita yang bangga akan
status “orang kaya” yang identik dengan materi duniawi semata dan yang lebih
parahnya lagi yakni bangga dengan tindik serta tato yang menempel di sekujur
tubuh kita yang sama sekali dibenci oleh Allah SWT.
Dampak
negatif dari globalisasi pun ikut serta merubah pola pikir dan gaya hidup para
remaja dewasa ini. Contohnya: remaja yang lebih bangga akan gaya
kebarat-baratan (western style),
remaja putri yang bangga dengan koleksi tas bermerek dari brand ternama dibanding mengoleksi buku religi maupun hijab yang
seharusnya wajib mereka kenakan setiap harinya serta lebih tertarik dan
bersemangat ketika diajak jalan-jalan ke Mall,
tempat karaoke, waterboom, dll
dibanding pergi ke pengajian, tabligh akbar maupun kajian-kajian muslim yang
tentunya bermanfaat bagi wisata rohani sebagai penyejuk hati dan pendamai jiwa
bagi mereka yang tengah berada di masa pencarian jati diri ini.
Remaja
yang kebanyakan lebih mengidolakan para aktris dan aktor yang kerap wara-wiri
di media massa dibanding mengidolakan Rosulullah dan para sahabatnya. Tentunya
sedikit banyak mempengaruhi pola pikir remaja tersebut yang kemudian termindset sedemikian rupa untuk mengikuti
apa saja yang dikenakan maupun dilakukan para artis idolanya tadi yang secara
umum hanya gaya hidup glamour yang
sekedar menghambur-hamburkan uang dan berfoya-foya. Padalah telah kita ketahui
bahwa nilai-nilai kehidupan Rosulullah dan para sahabatnya banyak mengandung
teladan yang apik bagi kehidupan sekarang ini. Seperti kejujuran Rosulullah
dalam berdagang dan keteguhannya dalam menyebarkan agama islam, ketegasan Umar Bin
Khatab dalam kepemimpinannya dan juga keberhasilan Ali Bin Abi Thalib dalam
mendapatkan putri Rosulullah SAW.
Kebanggaan
kita menjadi seorang muslim sesekali pasang surut bagaikan permukaan air laut.
Disuatu saat kita menggebu-nggebu dalam beribadah serta mengamalkan amalan-amalan
baik lainnya akan tetapi pada suatu kondisi kita merasa lelah dan bahkan minder menjadi
seorang muslim. Hal-hal tersebut dipengaruhi oleh:
1. Pondasi
pendidikan agama yang lemah
Di
sini peran keluarga menjadi syarat utama. Karena pada dasarnya sesorang
dilahirkan ke dunia ini secara fitrah sebagai seorang muslim, dan apabila orang
tersebut kemudian menjadi seseorang nonmuslim, diakibat keluarga maupun
lingkungan sekitar yang mempengaruhi. Jadi pendidikan dasar agama harus ditanamkan
sedini mungkin. Mulai dari belajar sholat, membaca Al-Qur’an, berpuasa dll.
Selain itu peran sekolah dan lingkungan pun sedikit banyak berpengaruh terhadap
kemantapan ketauhidan seseorang. Pembelajaran agama di sini bukan hanya 2 jam
pelajaran di setiap minggunya akan tetapi pembelajaran yang intens dan
berulang-ulang agar anak memiliki dasar pondasi yang kokoh yang bisa menguatkan
iman dan tauhidnya agar tak serta-merta bangga menjadi seorang muslim melainkan
juga ikhlas dalam menjalankan segala perintahNya dan meninggalkan segala
laranganNya.
2. Pergaulan
yang tidak benar
Anak
yang telah bertahun-tahun dididik dengan baik oleh orang tuanya bisa jadi dalam
beberapa bulan bahkan hitungan jam bisa menjadi buruk akibat pergaulan jaman
sekarang. Sebagai contoh: “Amir merupakan
remaja sholeh lulusan pondok pesantren, setelah lulus ia merantau ke kota besar
lalu disana ia dihadapkan pada kenyataan hidup di lingkungan terminal yang tak
asing lagi dengan tindak kriminal, di suatu kondisi ia kepepet dan tak ada
sepeser pun rupiah di dompetnya, kemudian ada salah seorang preman menawarinya
untuk menjual sabu-sabu tentu dengan iming-iming upah besar dan tipu daya
jaminan keamanan yang akan ia dapatkan. Dan karena tak kuat dengan godaan, Amir pun terjerumus menuruti ajakan tersebut
dan ia menjadi penjual sabu-sabu yang notabene barang haram itu.”
Jadi
pergaulan berperan penting dalam menentukan perilaku dan orientasi seseorang.
Seorang Amir yang sholeh dan telah mengenyam pendidikan agama saja bisa terlena
karena himpitan ekonomi apalagi seseorang yang tidak ada sama sekali mendapat background agama. Sehingga sudah
sepatutnya kita bergaul dengan orang-orang yang baik yang senantiasa memberikan
motivasi bukan solusi sesaat namun sesat seperti cerita di atas tadi.
3. Peran
media massa dan jejaring sosial
Perkembangan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini sangat pesat bahkan merek handphone hampir tiap hari mengeluarkan
produk barunya. Sehingga IPTEK dan kehidupan manusia modern tidak bisa
dipisahkan. Namun penggunaan media massa acapkali diselewengkan oleh
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya: penyiaran tayangan televisi
yang menampilkan artis-artis berpakaian seronok yang seharusnya tidak layak
ditonton oleh anak-anak, acara talk show
yang mengandung unsur-unsur syara’ dan juga film layar lebar yang berlabel film
horror akan tetapi di dalamnya dibumbui adegan-adegan syur para aktor dan
aktrisnya. Tentunya hal ini menjadi PR bagi lembaga sensor Televisi dan Film
untuk menyeleksi tayangan-tayangan yang selayaknya pantas untuk anak-anak yang
memberikan tayangan-tayangan yang bukan hanya sekedar menghibur akan tetapi
juga mendidik.
Peran
jejaring sosial saat ini pun tak kalah hebatnya dengan televisi, seperti
contohnya: facebook, twitter dll. Dalam
jejaring sosial memang kita sebebas-bebasnya mengekspresikan apa yang hendak
kita tuangkan akan tetapi harus memerhatikan norma-norma serta syariat islam
yang telah ditetapkan. Kejahatan di dunia maya pun kian hari kian marak dengan
adanya penculikan yang bermula kenal via facebook,
diajak ketemuan terus hilang tanpa kabar. Serta perkataan-perkataan seperti
ejekan, hinaan, keluhan serta luapan emosi terhadap seseorang bisa juga
berakhir ke meja hijau. Seharusnya
kita sebagai seorang muslim harus bisa menjaga lisan dan perbuatannya. Seperti
yang telah tercantum dalam surat Al-Isra ayat 28 yang artinya:
“Dan jika kamu
berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan,
Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas.” (QS. Al-Isra: 28).
4. Paradigma
yang salah mengenai muslim
Apa
yang terbesit dengan kata “teroris” di benak masyarakat?. Pandangan yang salah
dalam benak masyarakat yakni teroris ada kaitannya dengan seorang muslim yang
melakukan jihad dalam bentuk pengeboman terhadap orang nonmuslim. Seharusnya
kita sebagai seorang muslim harus mematahkan anggapan negatif ini. Mungkin dalam
realita ada akan tetapi mereka hanya oknum garis
keras yang berdampak negatif terhadap citra seorang muslim semakin buruk di
pandangan masyarakat global dewasa ini. Padahal islam itu mencintai kedamaian
dan membenci kekerasan, seperti yang tertera dalam surat Al Hujurat ayat 10
yang artinya:
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab
itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah
terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q:S al-Hujurat:10)
8
Alasan
Bangga Menjadi Seorang Muslim
1. Islam itu cinta damai
Citra islam di dunia barat memang tak jauh-jauh dari yang namanya
teroris, pengeboman, kekerasan dll. Paradigma ini yang seharusnya diluruskan
oleh para generasi pemuda dan pemudi muslim agar memperbaiki citra yang sudah
melekat ini. Sulit memang, akan tetapi terasa mudah ketika telah berjalan.
Misalnya dengan mengadakan pertukaran antara pelajar muslim Indonesia dengan
pelajar luar negeri yang notabene
nonmuslim, dari kegiatan tersebut diharapkan dapat mengenalkan islam yang
sesungguhnya. Sehingga dapat mematahkan paradigma negatif mengenai orang islam.
2.
Islam itu menyukai keindahan
“Kalian akan mendatangi
saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah
pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah
umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu
Dawud dan Hakim)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa Allah tidak
menyukai sesuatu yang buruk melainkan Allah suka terhadap keindahan. Misalnya:
pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim ketika akan sholat harus bersih dan
suci dari najis selain itu mengenakan wangi-wangian yang tidak mengandung
alkohol akan menambah estetika saat kita menyembah Allah SWT. Begitu pula
pakaian yang dikenakan para muslimah tentunya yang menutup aurat dan apabila
dipadukan dengan berbagai hijab modern yang modelnya beranekaragam akan
menambah kecantikan sejati yang terpancar dari wajah muslimah.
3.
Kontribusi ilmuan muslim
Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Alexander
Graham Bell
merupakan ilmuan barat yang tak asing lagi di dunia ini, akan tetapi perlu kita
ketahui banyak ilmuan muslim yang sebenarnya menyumbangkan andil yang besar
bagi kehidupan masyarakat modern sekarang ini. Seperti halnya Al Khawarizmi merupakan bapak aljabar
asal Persia yang membuat buku pertamanya yang membahas solusi sistematik dan
linear, dan notasi kuadrat.
Yang kedua yakni Ibnu Sina yang menghabiskan masa hidupnya dengan menulis
kitab-kitab seperti kitab Al Syifa
dalam filsafah dan Al qanun dalam
ilmu kedokteran yang berfungsi bagi perkembangan dunia medis sekarang ini. Dan
masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim lainnya yang berkontribusi dalam IPTEK
maupun bidang lainnya, tugas bagi generasi muslim sekarang agar ikut serta
mengikuti jejak para mereka atau paling tidak menjaga dan memelihara ilmu-ilmu
yang telah mereka ciptakan.
4.
Teladan dari pejuang muslim
Lebih banyak ngefans dengan
para artis dibanding mengagumi pejuang muslim. Kenyataan yang diperoleh dari
kehidupan di jaman sekarang ini. Pasalnya mereka kurang mengenal para pejuang
dan ulama muslim. Pengetahuan yang mereka dapat hanya dari sekolah-sekolah yang
menyajikan secara sepintas cerita pejuang muslim tersebut. Kondisi ini
berbanding terbalik terhadap konsumsi media massa yang menayangkan aktor dan
artis idolanya intens setiap saat.
Pepatah Jawa bilang ” Wiwiting
tresno jalaran saka kulino” yang artinya cinta akan tumbuh karena terbiasa.
Mungkin kenyataan ini tak serta merta 100% salah para pemuda sekarang ini, akan
tetapi juga media massa yang menjejali otak mereka dengan tayangan-tayangan
yang hanya bersifat menghibur semata. Sehingga pengetahuan mengenai pejuang,
pendiri dan ulama-ulama muslim amatlah kurang.
Padahal banyak teladan yang dapat kita petik dari Rosulullah SAW, ketelatenannya
dalam berdakwah menyebarkan agama islam, kejujurannya dalam berdagang dengan
Khatijah, serta ketangguhannya dalam berperang melawan Kafir Quraishy. Seperti
yang tercantum dalam surat Al Ahzab
ayat 21 yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33] : 21)
5.
Ibadah itu gratis dan menyenangkan
Pada dasarnya ibadah
itu akan terasa menyenangkan ketika dilaksanakan dengan ikhlas dan hanya
mengharap ridho Allah SWT. Cara kita yang pertama yakni harus mengubah mindset bahwa sholat, puasa itu bukan
merupakan suatu kewajiban melainkan suatu kebutuhan bagi suatu muslim. Apabila
hal ini telah menjadi kebiasaan (habbit)
niscaya akan ringan kedepannya dalam menjalankan ibadah yang hanya berlandaskan
mengharap ridho Allah.
6.
Da’i muda yang kekinian
Dewasa ini bermunculan para pendakwah/da’i muda di Indonesia. Dengan pelbagai
kelebihan dan tema yang mereka usung demi menciptakan suasana dakwah yang
keratif dan inovatif serta kekinian yang bertujuan menarik para generasi muda
muslim Indonesia agar rutin datang mengunjungi pengajian akbar maupun
kajian-kajian rutin yang khusus diadakan dalam rangka memberikan siraman rohani
terhadap generasi muda muslim. Contohnya: Alm. Ustad Jefry Al Bukhori atau yang
kerap disapa Uje, Ustad Solmed, Ustad Guntur Bumi dan sebagainya.
7.
Indahnya toleransi dalam islam
Kisruh antar umat beragama di Indonesia akhir-akhir ini telah menjadi
masalah pelik. Masalah yang acapkali timbul akibat hal-hal yang sepele seperti:
saling ejek-mengejek antar umat, pelarangan menjalankan ibadah bagi kaum
minoritas di suatu tempat bahkan sampai masalah yang besar berupa pengeboman
tempat ibadah saat perayaan hari besar. Padahal agama islam mengajarkan pada
umatnya untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama muslim dan juga
non muslim. Seperti terjemahan ayat al-qur’an di bawah ini :
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu
Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8)
8.
Ta’arufan dalam islam
Di dalam agama islam
memang tak mengenal istilah pacaran. Pacaran dilarang dalam islam. Akan tetapi ta’aruf lah yang diajarkan dalam islam.
Ta’aruf merupakan proses saling mengenal satu sama lain sebelum ke jenjang
pernikahan. Jadi maksud dan tujuan ta’aruf di sini agar menghindari hal-hal
negatif yang sering terjadi akibat pacaran seperti MBA (Married By Accident), seks bebas (free sex) dll. Sehingga proses ta’arufan sebagai alternatif positif
untuk mengenal lebih jauh pasangan hidup seseorang.
Masih ada 1001 alasan
lagi untuk bangga menjadi seorang muslim. Mulai dari agama yang mencintai
kedamaian sampai proses pengenalan antar pasangan atau yang kerap disebut ta’arufan semakin menambah betapa subhanallah nya agama islam ini.
Tentunya tak ada alasan lagi bagi setiap muslim untuk merasa minder atau kurang
bangga dengan statusnya sebagai seorang muslim. Tentunya rasa bangga ini harus
diimbangi dengan ketaatan dan ketaqwaan seorang muslim untuk menjalankan
perintah Allah SWT sesuai dengan syariat Islam dan meninggalkan laranganNya.
Alangkah indahnya suatu kebanggaan terhadap apa yang diyakini dan apa yang diaplikasikan.
Dan sudah saatnya kita bangga menjadi seorang muslim. We proud to be a Moslem.















0 komentar:
Posting Komentar