Hikmah
Puasa Setengah Hari
“Anak-anak, siapa
yang puasanya penuh
bulan ramadhan kemarin?”
tanya Bu Ratih
kepada 30 siswa-siswi
kelas 3 Sekolah
Dasar yang tengah duduk
manis itu.
“Saya Bu….”
sahut Bimbo dengan suara lantangnya
yang duduk berada
tepat di depan
Bu Ratih.
Kemudian siswa
yang lainnya juga
mengikuti hal yang
sama seperti yang
Bimbo bilang. Kelaspun
menjadi gaduh akibat
sahut-sahutan jawaban “iya”
akibat pertanyaan yang
telah Bu Ratih
lontarkan tadi. Namun
mata Bu Ratih
tertuju pada salah
satu siswanya yang
duduk paling pojok
di kelas itu.
Dan akhirnya Bu
Ratihpun mencoba menegurnya.
“Tito… kamu kenapa?
Kog tidak menjawab
pertanyaan Bu Ratih
tadi”, tanya Bu
Ratih keheranan.
“Dia
tidak pernah puasa
Bu, abis warung
ibunya tetap buka
kog Bu”, sahut
Bimbo lantang.
“Husshhh… Bimbo , nggak
boleh ngomong kayak
gitu, ayo minta
maaf sama Tito,
ujar Bu Ratih
menasehati Bimbo.
“Tapi emang
bener kog Bu,
Tito nggak pernah
puasa, ibunya aja
jualan terus pas
bulan puasa, pastikan
rumah Tito banyak
makanan, jadi nggak
bisa deh nahan
puasa”, sahut Nora
yang masih polos
itu menjelaskan keadaan
keluarga.
Mendengar perkataan-perkataan yang
dilontarkan oleh kedua
sahabat, Tito hanya
bisa diam dan
tak berani berkomentar,
karena kenyataan yang sesungguhnyapun memang
Tito tak pernah
puasa dan ibunya
tetap membuka warung
yang tepat berada
di depan rumahnya
saat bulan ramadhan.
“Yaudah, sekarang
kalian buka buku
kalian halaman 21”,
ujar Bu Ratih
yang mencoba mengalihkan
pembicaraan para muridnya
yang mencoba memojokkan
Tito.
“Tito, nanti
jam istirahat kamu
ke ruangan ibu ya, ibu
mau ngomong sama
kamu”, ujar Bu
Ratih sambil memegang buku
yang sama.
Tanpa sepatah
katapun Tito hanya
menganggukkan kepalanya yang
mengisyaratkan jawaban iya.
Teethhh…teethhh…., bunyi bel
yang ditunggu-tunggu itupun
akhirnya berbunyi memecah
keheningan kelas 3 yang siswanya
tengah serius membaca
buku yang diperintahkan
Bu Ratih tadi. Dan
Titopun bergerak melangkahkan
kakinya menuju ruang
guru yang terletak
tepat di samping
ruang kepala sekolah.
Disana ia mendapat
saran dari guru
agamanya ini untuk
belajar berpuasa walaupun
dimulai dari setengah
hari. Dan Titopun
mendengarkan saran Bu
Ratih dengan serius.
Di
sepanjang jalan menuju
rumah, Tito terbayang-bayang dengan
perkataan kedua temannya
dan juga saran
dari Bu Ratih,
dalam benaknya ia
bertanya-tanya kenapa orang
tuanya tak juga
menyuruhnya untuk belajar
berpuasa, padahal teman-teman
seusianya telah bisa
berpuasa sehari penuh
dan banyak juga ada
yang sudah sampai
sebulan penuh.
Sesampainya di
rumah ia langsung
menuju warung ibunya
tanpa ganti seragam
lebih dahulu. Ia
ingin segera mengetahui
penjelasan dari ibunya
kenapa diusianya
yang telah duduk
di kelas 3
belum juga diajari
berpuasa. Terlebih-lebih lingkungan
dari Titopun segelintir
orang dewasa yang
berpuasa, mungkin factor
ini pula yang menyebabkan Tito
terbiasa akan hal
itu.
“Ma…
Tito mau nanya,
kenapa Tito nggak
pernah diajarin untuk
mulai berpuasa?”, Tanya
Tito yang masih
terengah-engah itu akibat
pulang sekolah.
“Kamu kan
masih kecil sayang,
jadi belum wajib
puasa, ntar kamu
kena sakit magh”,
ujar Mama yang
tengah sibuk melayani
para pembeli untuk
pada makan siang
itu.
“Tapi setidaknya
buat belajar Ma,
walaupun Cuma setengah
hari, Tito besok
mau puasa ya
Mah”, ujar Tito
yang bersikeras mau
belajar berpuasa.
“Baiklah Nak,
jika itu mau
kamu”, jawab ibunya
acuh yang seakan
kurang peduli akan
pendidikan agama yang
seharusnya ia tanamkan
pada putranya ini.
Kebetulan besok
masuk awal bulan
ramadhan, jadi malam
ini dimulainya sholat
terawih dan sahur.
Titopun menyetel jam
bekernya tepat pukul
03.00 dinihari agar ia
bisa terbangun untuk
sahur.
Jampun telah
menunjukkan pukul 21.00
malam, tak seperti
malam-malam biasanya ia
belum tertidur karena
dalam benaknya ia
membayangkan makan sahur
pertamanya dengan mendengar
suara gerombolan pemuda
di kompleks perumahannya
yang keliling kompleks
demi membangunkan orang-rang
untuk sahur.
Tepat jam
23.00 akhirnya ia
berhasil tertidur, malampun
semakin larut dan
akhirnya jam bekernya
yang tersetel pukul
03.00 akhirnya berbunyi.
Namun apa yang
terjadi Titopun masih
tertidur dengan pulas
dan tak sedikitpun
terganggu dengan bunyi
keras yang berasal
dari jam bekernya
itu. Sampai waktu
imsakpun Tito masih
terlelap di alam
mimpinya.
Mataharipun mulai
keluar dari peraduannya,
sinarnya yang bijaksana
menyelimuti damainya pagi
di kompleks yang
terletak di pinggiran
Jakarta itu. Dengan
wajah kesal Titopun
murung seharian, sarapan
yang telah tersedia
di meja makanpun
tak Tito hampiri.
Ia kesal kenapa
harus bangun kesiangan
dan tak seorangpun
dari anggota keluarganya
yang sempat membangunkan
anak yang masih
berusia 8 tahun
ini.
Ia
menggenjot sepeda kesayangannya
untuk pergi ke
sekolah yang hanya
berjarak satu kilometer
dari rumahnya. Dalam
benaknya ia bertekad
bahwa hari ini
ia belajar berpuasa
walaupun hanya puasa
setengah hari karena
ia sadar dengan
penyakit magh nya dan terlebih-lebih ia
tidak makan sahur
tadi pagi.
Sesampai di
sekolahnya ia pun
segera memarkir sepedanya
di tempat biasa.
Dengan terburu-buru ia
menuju ruang kelasnya
untuk hadir tepat
waktu. Walaupun belum
pernah berpuasa, Tito
tergolong anak yang
rajin mengerjakan tugas-tugas
yang diberikan kepadanya
dan ia selalu
tepat waktu saat
datang ke sekolah.
Mungkin lingkunganlah yang
mengakibatkan Tito telat
mengenal puasa. Terlebih-lebih orang
tuanya yang juga
acuh tak acuh
mengenai agama.
“Ehhh… Tito udah
datang”, sapa Bimbo
dengan raut muka
sinis.
“Eh… Bimbo, emang
kenapa ya?”, ujar
Tito kebingungan.
“Pasti kamu
nggak puasa kan
hari ini?” tuduh
Bimbo ketus.
“Aku…. Aku puasa
kog”, ujar Tito
semangat.
“Nggak percaya
aku Nor”, ujar
Bimbo pada Nora
yang berada tepat
di sebelahnya.
“Aku
juga kog Bim”,
sahut Nora menambahi
kalimat yang Bimbo lontarkan padanya
tadi.
“Terserah deh,
yang penting Allah
tau kalau sebenarnya
aku nggak boong”,
kata Tito membela
dirinya sendiri.
Sepulang sekolah
tepat pukul 11.00
siangpun Tito merasa perutnya
kesakitan, dan akhirnyapun
dia ngomong ke mamanya
bahwa sebenarnya ia
puasa.
“Ma,
Tito mulai belajar puasa
hari ini”, ujar
Tito.
Tanpa sepatah
katapun mamanya menanggapi
kalimat yang Tito
lontarkan. Air matapun jatuh
membasahi pipi ibu
kandung Tito ini.
“Mama kenapa
malah nangis?” Tanya
Tito penasaran sambil
mengambil tisu yang
terletak di sebelahnya
yang kemudian ia
usapkan pada air
mata mamanya itu.
“Kamu memang
hebat sayang, kamu
memang anak mama,
mama janji akan
menemanimu puasa besok,
dan mama janji
akan membangunkanmu nanti
malam untuk sahur”,
ujar mamanya sambil
memandangi anaknya yang
tengah puasa ini.
Adzan dzuhurpun
berkumandang dan Titopun
akhirnya membatalkan puasanya
yang tak bisa
ia tahan lagi
karena tadi malam
tak sempat makan
sahur. Dengan kasih
sayang dan rasa
tersentuh mamanya menemani
Tito yang berbuka
puasa tepat jam
12.00 siang ini.
Akibat kejadian
itu Tito dan
mamanya mulai belajar
membiasakan berpuasa saat
bulan ramadhan. Dan
tiap bulan Ramadhan
warung makan mamanya
buka khusus malam
hari untuk melayani
orang berbuka puasa
dan santap sahur.
Hikmah yang mereka
dapat sungguh sempurna
akibat kemauan Tito untuk
memulai berpuasa walaupun
awalnya hanya kuat
setengah hari.














0 komentar:
Posting Komentar