Senin, 13 Januari 2014

Dewi dan Sejuta Angan-angan

Dewi dan Sejuta Angan-angan

          Di tengah derasnya hujan, Dewi mempercepat larinya menuju ke sebuah gubuk kecil yang terletak tepat di ujung desa. Sambil sesekali mengusap air hujan yang membasahi keningnya. Keadaan jalan setapak yang gelap ditambah angin kencang yang semakin tak menyurutkan semangat gadis yang sering disapa “Dew” ini untuk sesegera mungkin sampai di peraduannya.
Namun langkah kakinya terhentikan oleh sebuah sapaan yang samar-samar karena kalah dengan deranya air hujan. “Dew…,tunggu aku”, sapa Si Pemuda seusianya yang juga tengah menuju rumah sepulang mengajar mengaji Al Qur’an di Mushola.
 “Eh…, iya Mas Teguh”,jawab Dewi dengan ekspresi wajah pucat dan tubuh menggigil yang tak kuasa menahan dinginnya hujan di Malam ini.
 “Nyari tempat buat berteduh dulu yuk?...,daripada baju kita basah kuyub, Dew..”, Ajak Mas Teguh. “Ayo Mas”, jawab Dewi seraya mengiyakan ajakan dari Mas Teguh.
Kemudian mereka mendekati Pos Siskamling yang tak jauh dari tempat mereka berjumpa tadi. “Ini pakai jaketku saja daripada kamu menggigil kedinginan, bajumu juga sudah mulai basah “, ujar Mas Teguh sembari melepaskan jaket kulit warna hitam yang ia kenakan tadi.
“Makasih sebelumnya Mas, tapi maaf saya tidak bisa mengenakannya, aku tidak kenapa-napa kog, toh hujannya bentar lagi reda”, tolak Si Dewi dengan nada halus. Memang gadis ini mempunyai pendirian teguh dan sebisa mungkin menghindari rasa belas kasihan dari siapapun selagi ia masih bisa menanganinya sendiri.
“Oh begitu ya, yaudah aku pakai lagi jaketnya, hehe…”, ujar Mas Teguh yang sedikit kecewa dengan penolakan halus dari Dewi.
“Alhamdulillah hujannya sudah reda Mas, pulang saja yuk, nggak enak kita berduaan disini sampai selarut ini” ,ajak Dewi. “Oke kalau begitu”, jawab Mas Teguh. Memang benar adat istiadat dan norma-norma keagamaan masih terasa kental dan dipegang teguh di Desa yang secara geografis tepat di bawah pegunungan ini. Sehingga wajar semisal hal berduaan antara laki-laki dan perempuan yang tentunya bukan muhrim dicap negatif oleh masyarakat desa.
Kemudian keduanyapun berpisah setelah sampai di pertigaan akhir di ujung Desa tersebut. Gadis berjilbab inipun melanjutkan langkah kakinya untuk sampai di Gubuk kecilnya. “Assalamuallaikum…”, kata Dewi sambil mengetuk pintu rumahnya yang terbuat dari lempeng-lempeng kayu bekas yang disusun dan disatukan dengan paku untuk menjadi sebuah pintu rumahnya.
“Waallaikumsalam, Dew..”, jawab Uminya yang segera beranjak dari kasurnya yang seraya bergegas membukakan pintu untuk putri sulungnya ini. “Kog baru pulang Dew? Biasanya bukannya jam 8 sudah selesai ngajarnya?”, tanya Umi kepada Dewi sambil merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan karena baru saja bangun tidur.
 “Iya Mi, tadi sepulang mengajar Dewi kehujanan, jadi berteduh dulu di Pos Siskamling, untung ditemani Mas Teguh”, jawab Dewi. “Yaudah, kamu ganti baju dulu nak, setelah itu kamu makan singkong rebus yang ada di meja, lalu tidur agar besok tidak kesiangan”, saran Umi.
 “Baik Mi, Dewi ke belakang dulu”, jawab Dewi. Setalah mandi dan juga menyempatkan memakan singkong rebus yang disarankan Uminya, Dewipun akhirnya menuju ke kamarnya untuk rehat malam ini.
Bunyi adzan subuh telah berkumandang, dengan segera Dewi beranjak ke belakang untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat subuhyang dilanjut dengan tadarus (membaca Al Qur’an). Beginilah aktivitas pembuka yang rutin dijalani gadis yang akan beranjak ke usia 19 tahun pada awal Desember mendatang. Gadis berparas manis ini dengan merdunya melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an yang nyaring merdu menghiasi subuh yang sunyi senyap ini.
Jarum jampun menunjukkan pukul 06.30, Dewi dengan kondisi terburu-buru ijin pamit kapada Uminya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. “Umi…, Dewi ijin berangkat kerja dulu, nanti takutnya Dewi telat, karena jam 07.00 gerbang Pabrik telah ditutup”,ujarnya.
 “Aduh…buru-buru amat Dew, yaudah ini bekalnya nanti jangan lupa dimakan saat jam istirahat”, ujar Umi sambil memasukkan kotak bekal makanan ke dalam tas Dewi. “Makasih Mi”, Assalamuallaikum”, kata Dewi sambil mengenakan tas kerjanya. “Waallaikumsalam, hati-hati nak, jangan lupa titipan Umi”, ujar Umi. “Baik Mi”,jawab Dewi sambil terburu-buru menuju keluar dari rumahnya.
Ya benar jika Dewi memang akan berangkat bekerja di sebuah Pabrik Tekstil yang berjarak kurang lebih 7 km dari desanya. Gadis sulung dari 3 bersaudara ini memang tak bisa melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi usai ia lulus dari Madrasah Aliyah, dikarenakan keterbatasan finansial dari keluarganya. Pasalnya Uminya yang hanya seorang pedagang kue tradisional yang dijajakan keliling penjuru desanya. Sementara Ayahnya telah wafat kira-kira 5 tahun yang lalu karena penyakit gula (diabetes). Di samping itu Uminya juga harus menafkahi kedua adik Dewi yang masih duduk di bangku SMP dan SD yakni Arman kelas VIII dan Teti kelas V. Sehingga keadaan inilah yang mendorong gadis remaja ini untuk bekerja di sebuah Pabrik Tekstil dan seusai bekerja Dewi pulang dengan membawa barang belanjaan Uminya. Setelah itu tepat jam 3 sore ia harus mengajar anak-anak SD di Bimbel (Bimbingan Belajar) yang tak jauh dari tempat tinggalnyaselama 3 kali setiap minggunya. Kenyataan seperti itulah yang semakin membuat Dewi untuk tetap bersemangat demi meraih cita-citanya dan juga membahagiakan Umi sera kedua adiknya.
Dengan menaiki sebuah angkot warna oranye, Dewipun menuju Pabrik Tekstil yang berjarak kurang lebih 7 km dari desanya. Sesampainya disana Dewi presensi kehadiran dan masuk ke dalam Pabrik untuk memulai bekerja. Di bagian pengepakanlah Dewi bekerja bersama puluhan pekerja lainnya yang berasal tak jauh dari keberadaan Pabrik Tekstil tersebut. Kira-kira hampir 4 bulan Dewi menjalani pekerjaan sebagai buruh pabrik yang kira-kira UMR tiap bulannya Rp 750.000,00. Memang tergolong rendah bagi UMR sewajarnya. Akan tetapi bagi gadis yang hobi memakai jilbab warna merah ini lumayan cukup baginya yang hanya lulusan Madrasah Aliyah ini. Baginya sudah mendapat pekerjaan seperti ini saja sudah Alhamdulillah dalam benak Dewi.
Akan tetapi jauh di dalam angan-angannya ia masih mempunyai cita-cita untuk melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Negeri di kotanya. Sebagian dari gajinya ia tabung untuk merealisasikan angan-angannya untuk menjadi seorang tenaga pengajar (guru). Memang sungguh sederhana cita-cita nan mulia gadis 18 tahun ini.
Mataharipun mulai naik dan jarum jampun kian berjalan mengikuti detik demi detik berjalannya waktu siang itu, tepat jam 14.30 Dewi pulang. Yang kebetulan hari ini adalah tanggal muda jadi ia bisa mengambil gajinya di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) yang letaknya di samping Pasar sekalian seusai itu ia membelanjakan barang belanjaan titipan Uminya. Bersama dengan Tika sahabatnya yang juga buruh di Pabrik Tekstil itu menuju ATM untuk mengambil gajinya bulan ini.
“Ehm-ehm…, gaji bulan ini buat apa ya Dew…?”, Tanya Tika kepada Dewi dengan wajah berseri-seri yang hendak memegang uang Rp 750.000,00 dari mesin ATM.
“Buat belanja dagangan Umi Tik, selain itu buat bayar listrik, uang jajan adikku dan sisanya buat tabungan kuliah.” jawab Dewi seraya menjelaskan dengan gamblangnya.
“Dewi… kamu itu memang nggak pernah berubah dari dulu masih tetep teguh pendirian buat ngelanjutin kuliah, salut deh punya sahabat sepertimu, jadi terharu”, ujar Tika yang kagum terhadap sahabatnya dan merasa simpati pada Dewi.
Akan tetapi suasana tersebut menjadi berubah dengan adanya kedatangan gadis seusia mereka yang hendak juga mengambil uang di ATM. “Minggir-minggir, orang cantik mau lewat”, kata Erni dengan nada sombong menyerobot masuk ke ATM yang memisah keberadaan Dewi dan Tika yang hendak beranjak keluar.
“Eh-eh… mbak, nggak sopan banget ya jadi orang kalau mau lewat permisi dulu dong, nggak usah main serobot aja kayak gitu, sakit tau kesenggol kamu” ujar Tika dengan nada nyolot pada Erni.
“Astaghfirullah haladzim, sabar-sabar Tik, kita nggak boleh emosi ngadepin orang kayak gitu”, nasehat Dewi sambil meredakan emosi Tika.
“Terus kalian nggak terima? Emang ini ATM milik eyang kalian?”, Bentak Erni dengan nada nyolot campur emosi satu level di atas Tika.
“Yaudah Tik, mending kita ke Pasar aja aja yuk aku takut Umiku nungguin kelamaan belanjaannya dan bisa-bisa aku telat mengajar di Bimbel”, ajak Dewi.
“Astaghfirullah haladzim, baik Dew, maaf jadi kebawa emosi gara-gara ni orang”, jawab Tika yang sudah lumayan reda dari gejolak emosi karena kesal dengan tingkah Erni.
“Hahaha… kalian jadi ngalah nih…?”, Tanya Erni yang tak juga merasa bersalah sedikitpun  akibat kejadian tadi. Akan tetapi mereka berdua memilih untuk menyudahi adu mulut dan beranjak menuju ke pasar untuk membelanjakan barang belanjaan titipan Uminya.
Erni merupakan teman semasa Madrasah Aliyah dulu. Dari dulu Erni amat syirik dengan yang namanya Dewi. Mulai dari dalam bidang prestasi belajarnya di sekolah, kecantikkan parasnya, kesolekhahannya dan juga perhatian lebih yang tidak Erni dapatkan dari teman-teman laki-lakinya semasa sekolah seperti Dewi. Sehingga di mata seorang Erni, Dewi itupun tak ubahnya seorang musuh terbesar baginya, walaupun sudah berpisah 5 bulan yang lalu karena acara kelulusan Sekolah.
Nasib Erni tergolong beruntung karena ia berasal dari keluarga yang berkecukupan, Ayahnya merupakan pejabat daerah setempat. Sehingga ia tak kesulitan lagi untuk melanjutkan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi swasta di kotanya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Dewi yang berasal dari keluarga sederhana yang sudah 5 tahun lalu ditinggal wafat Ayahnya. Ibarat pepatah bilang “Bagaikan Bumi dan Langit” yang maknanya kedua sosok manusia yang dari segi finansial jauh dipisahkan oleh yang namanya kasta.
Padahal dari dulu dalam hati Dewi tak ada kebencian dan rasa dendam sedikitpun yang ia pendam terhadap segala perbuatan dan perkataan yang telah Erni lakukan dan lontarkan kepada Dewi. Tetapi ibarat sinetron ada peran protagonis ada pula peran antagonis dalam kehidupan dua gadis ini yang memberikan kedinamisan kisah yang membuat cerita agar terasa tak hambar.
Setelah merampungkan kegiatan belanjanya Dewipun bergegas pulang dengan menaiki angkot oranye yang sudah menjadi langganannya untuk pulang menuju desanya. “Bang,… kiri-kiri…”, begitu Dewi menghentikan laju angkot oranye yang kebetulan lewat di depan hadapannya.
Kemudian angkotpun berhenti, Dewipun dengan segera masuk dengan kaki kanan sembari merundukkan badannya dan kepalanya untuk menghindari benturan dengan pintu angkot yang sempit itu.
“Dewi…?”, sapa Penumpang yang duduk di pojok angkot yang terhalang oleh pedagang gorengan yang membawa bakul dagangannya sehingga menghalangi wajah dari penumpang yang menyapa Dewi tersebut.
“Eh…Mas Teguh, habis darimana Mas? “ujar Dewi yang akhirnya mengenali sosok pria yang memanggil namanya tadi.
“Ini Dew, aku habis dari Dinas Pendidikan Kota nyari informasi beasiswa buat teman”, jawab Mas Teguh sembari menggulung brosur beasiswa ukuran kertas A4 itu. “Dewi sendiri  darimana?”, tanya Mas Teguh penasaran menambahi pertanyaan yang ia lontarkan pada Dewi.
“Habis dari Pasar mas, balanjain barang dagangan buat Umi”, jawab Dewi sambil menyangking kantong plastik warna hitam yang berisi bahan dasar kue tradisional.
Setelah di dalam angkot selama 15 menit, sampailah mereka di Desa yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani itu.”Duluan ya Mas, Assalamuallaikum”,ujar Dewi sambil menyincing rok panjangnya untuk keluar dari angkot.
Waallaikumsalam Dew…, hati-hati…”, jawab Mas Teguh yang tak luput perhatian terhadap langkah Dewi yang hendak turun dari angkot. Memang sejak lama Mas Teguh menaruh perasaan lebih pada Gadis yang gemar menulis ini. Dari kecil mereka sering bermain bersama dan bersekolah di tempat sama pula sehingga keakraban di antara keduanya sudah tidak asing lagi. Semenjak lulus dari MA Mas Teguh langsung melanjutan studi ke Perguruan Tinggi Negeri di kotanya. Sedangkan Dewi bekerja di Pabrik Tekstil yang belum bisa melanjutkan studinya karena masalah-masalah finansial.
Setelah sampai rumah, Dewipun menyerahkan barang belanjaan kepada Uminya. “ Mi, ini titipannya dan yang ada di amplop itu buat uang jajan Arman dan Teti”, ujar Dewi sambil mempersiapkan buku-buku yang hendak dibawanya untuk mengajar di Bimbel.
“Makasih ya Nak…, andaikan saja ayahmu masih……” tak sempat menyelesaikan perkataannya, Dewipun memotong kalimat yang hendak Umi lontarkan kepadanya. Dewi berkata:”Sudahlah Mi…, kita doakan saja Abi damai di sisi Allah SWT”, sambil mendekati Uminya dengan melebarkan tangannya lalu memeluk wanita yang berusia 45 tahun itu dengan erat.
Sambil mengusap air mata Uminya, Dewipun dalam benaknya berkata:”Saya melakukan ini semua dengan ikhlas dan tujuan saya hanyalah membuat Umi dan adik-adik bahagia”, Dewipun mencoba sekuat tenaga untuk tidak memperlihatkan airmatanya menetes di hadapan Uminya.
Dia selalu mempunyai mindset (pemikiran) bahwa ia adalah seorang wanita yang tangguh, tak pelak selain mengidolakan Uminya, Dewipun sangat mengidolakan R.A Kartini sebagai tokoh inspirasinya dan sebagai semacam cambuk agar dirinya tak terbuai dengan paradigma yang menyebutkan bahwa wanita merupakan makhluk yang lemah yang tak ubahnya satu kasta di bawah laki-laki. Paradigma-paradigma tersebut yang coba ditepis oleh Sulung dari  tiga bersaudara ini.
Kemudian Dewipun berpamitan kepada Uminya untuk mengajar di Bimbel yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sesampai di Bimbel yang khusus mengajar anak-anak SD sederajat yang jumlahnya 20 tiap kelasnya. Menjelang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang diadakan tiap tahunnya ini, Bimbel tempat ia mengajar laris diburu oleh para walimurid untuk mendaftarkan puta-putrinya agar sukses mengerjakan ujian. Disela-sela ia mengajar tak sengaja dari balik jendela ia melihat teman-teman semasa MAnya duluyang baru saja pulang kuliah. Dalam benak Dewi bergelayut angan-angannya agar tahun ini ia bisa menyusul mereka.
Hari demi hari ia jalani kehidupan sebagai buruh Pabrik Tekstil, sebagai tenaga pengajar di Bimbel dan tempat ngaji di Mushola di desanya. Selain itu ia masih menyempatkan waktu untuk menemani adik-adiknya belajar di malam hari dengan ikhlas dan tak pernah ada niat sedikitpun untuk mengeluh pada teman-temannya terlebih pada Uminya.
Malam sebelum ia beranjak ke alam mimpi telepon genggamnya bergetar yang menandakan bahwa ada SMS (Short Message Service) yang masuk. “Dew, besok kamu ikut tes SBMPTN(Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yakni sejenis tes tertulis untuk masuk di Universitas Negeri, mengenai registrasi dan berkas-berkasnya sudah saya siapkan”, SMS dari Mas Teguh.
“Serius Mas, ini beneran…?”, Tanya Dewi dengan raut muka penasaran campur aduk seperti gado-gado.
“Beneran Dew, serius deh,hehe”, jawab Mas Teguh dengan nada ringan yang seiya mengiyakan pertanyaan serius yang Dewi lontarkan kepadanya.
“Jadi giniloh, masih ingat dengan brosur yang saya ambil dari Dinas Pendidikan Kota dulu?, jadi brosur itu merupakan brosur beasiswa dari Dikti untuk calon Mahasiswa baru Dew”, Ujar Mas Teguh dengan gamblang seyogyanya menjelaskan pertanyaan serius dari Dewi.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Mas Teguh akhirnya Dewipun mengiyakan bahwa besok harus mengikuti Tes SBMPTN yang tidak akan ia lewatkan demi mengejar angan-angannya menjadi tenaga pengajar di Sekolah dan juga menjadi seorang Penulis. Beberapa bulan kemudian Pengumuman tes SBMPTNpun dilangsir Dewipun berhasil lolos pada Prodi(Program Studi) di pilihan pertamanya yakni Pendidikan Bahasa Indonesia. Karena Mas Teguh tahu betul apa cita-cita dan hobi Dewi yang bercita-cita menjadi seorang guru dan juga penulis yang handal maka ia mendaftarkan sahabat dari kecilnya ini ke Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia.
Dewipun dengan mata yang berkaca-kaca mengetahui hasil dari tesnya beberapa bulan lalu. Ia lolos menjadi Mahasiswi Progam Studi Pendidikan Bahasa Indonesia S1 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di daerahnya.
Dengan ketekunan dan keikhlasanya ia kuliah sembari bekerja sebagai pengajar di Bimbel. Sebisa mungkin Dewi membagi waktunya dengan keluarganya. Disisi lain bakatnya sebagai seorang penulis dikembangkannya dengan mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) bidang sastra yang ia ikuti setiap minggunya dan juga seminar-seminar serta tutorial-tutorial penulisan juga tak luput ia tekuni.
Tak pelak gadis yang sempat menjadi buruh Pabrik Tekstil ini dapat menyelesaikan buku perdanaya yang berjudul “Sisi lain Seorang Wanita” yang menjadi buku Best Seller di tahun itu juga diusianya yang masih muda dan masih berstatus menjadi Mahasiswi semester VI ia sudah bisa menjadi penulis yang karyanya digemari oleh remaja-remaja seusianya. Buku tersebut merupakan buku yang kisahnya terinspirasi dari seorang tokoh yang ia gemari yaitu R.A Kartini dan sebagian kisah hidupnya sendiri.

Hubungan persahabatan antara Dewi dan Mas Teguh yang juga berstatus sebagai mahasiswa semester VIII itupun ke kenjang ta’arufan. Merekapun intensif dalam hal mengajar ngaji di Mushola dan juga dalam dunia tulis menulis yang digeluti oleh Gadis semester VI itu dengan saling mendukung satu sama lain, karena Mas Teguh berbeda jurusan dengan Dewi. Tetapi ia setia memberi dukungan dan motivasi kepada Dewi untuk menjadi tenaga pengajar (guru) yang patut untuk (digugu lan ditiru) yakni di teladani oleh para muridnya dan juga sebagai penulis sejati yang senantiasa menyebarkan motivasi kepada sesamanya lewat kata-kata yang tertuang di dalam buku dan novelnya.

0 komentar:

Posting Komentar