Dewi
dan Sejuta Angan-angan
Di
tengah derasnya hujan, Dewi mempercepat larinya menuju ke sebuah gubuk kecil
yang terletak tepat di ujung desa. Sambil sesekali mengusap air hujan yang
membasahi keningnya. Keadaan jalan setapak yang gelap ditambah angin kencang
yang semakin tak menyurutkan semangat gadis yang sering disapa “Dew” ini untuk
sesegera mungkin sampai di peraduannya.
Namun langkah kakinya terhentikan oleh
sebuah sapaan yang samar-samar karena kalah dengan deranya air hujan.
“Dew…,tunggu aku”, sapa Si Pemuda seusianya yang juga tengah menuju rumah
sepulang mengajar mengaji Al Qur’an di Mushola.
“Eh…, iya Mas Teguh”,jawab Dewi dengan
ekspresi wajah pucat dan tubuh menggigil yang tak kuasa menahan dinginnya hujan
di Malam ini.
“Nyari tempat buat berteduh dulu
yuk?...,daripada baju kita basah kuyub, Dew..”, Ajak Mas Teguh. “Ayo Mas”,
jawab Dewi seraya mengiyakan ajakan dari Mas Teguh.
Kemudian mereka mendekati Pos
Siskamling yang tak jauh dari tempat mereka berjumpa tadi. “Ini pakai jaketku
saja daripada kamu menggigil kedinginan, bajumu juga sudah mulai basah “, ujar
Mas Teguh sembari melepaskan jaket kulit warna hitam yang ia kenakan tadi.
“Makasih sebelumnya Mas, tapi maaf saya
tidak bisa mengenakannya, aku tidak kenapa-napa kog, toh hujannya bentar lagi
reda”, tolak Si Dewi dengan nada halus. Memang gadis ini mempunyai pendirian
teguh dan sebisa mungkin menghindari rasa belas kasihan dari siapapun selagi ia
masih bisa menanganinya sendiri.
“Oh begitu ya, yaudah aku pakai lagi
jaketnya, hehe…”, ujar Mas Teguh yang sedikit kecewa dengan penolakan halus
dari Dewi.
“Alhamdulillah hujannya sudah reda Mas,
pulang saja yuk, nggak enak kita berduaan disini sampai selarut ini” ,ajak
Dewi. “Oke kalau begitu”, jawab Mas Teguh. Memang benar adat istiadat dan
norma-norma keagamaan masih terasa kental dan dipegang teguh di Desa yang
secara geografis tepat di bawah pegunungan ini. Sehingga wajar semisal hal
berduaan antara laki-laki dan perempuan yang tentunya bukan muhrim dicap negatif
oleh masyarakat desa.
Kemudian keduanyapun berpisah setelah
sampai di pertigaan akhir di ujung Desa tersebut. Gadis berjilbab inipun
melanjutkan langkah kakinya untuk sampai di Gubuk kecilnya.
“Assalamuallaikum…”, kata Dewi sambil mengetuk pintu rumahnya yang terbuat dari
lempeng-lempeng kayu bekas yang disusun dan disatukan dengan paku untuk menjadi
sebuah pintu rumahnya.
“Waallaikumsalam, Dew..”, jawab Uminya
yang segera beranjak dari kasurnya yang seraya bergegas membukakan pintu untuk
putri sulungnya ini. “Kog baru pulang Dew? Biasanya bukannya jam 8 sudah
selesai ngajarnya?”, tanya Umi kepada Dewi sambil merapikan jilbabnya yang
sedikit berantakan karena baru saja bangun tidur.
“Iya Mi, tadi sepulang mengajar Dewi
kehujanan, jadi berteduh dulu di Pos Siskamling, untung ditemani Mas Teguh”,
jawab Dewi. “Yaudah, kamu ganti baju dulu nak, setelah itu kamu makan singkong
rebus yang ada di meja, lalu tidur agar besok tidak kesiangan”, saran Umi.
“Baik Mi, Dewi ke belakang dulu”, jawab Dewi.
Setalah mandi dan juga menyempatkan memakan singkong rebus yang disarankan
Uminya, Dewipun akhirnya menuju ke kamarnya untuk rehat malam ini.
Bunyi adzan subuh telah berkumandang, dengan
segera Dewi beranjak ke belakang untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan
sholat subuhyang dilanjut dengan tadarus (membaca Al Qur’an). Beginilah
aktivitas pembuka yang rutin dijalani gadis yang akan beranjak ke usia 19 tahun
pada awal Desember mendatang. Gadis berparas manis ini dengan merdunya
melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an yang nyaring merdu menghiasi subuh yang
sunyi senyap ini.
Jarum jampun menunjukkan pukul 06.30,
Dewi dengan kondisi terburu-buru ijin pamit kapada Uminya yang sedang
menyiapkan sarapan di dapur. “Umi…, Dewi ijin berangkat kerja dulu, nanti
takutnya Dewi telat, karena jam 07.00 gerbang Pabrik telah ditutup”,ujarnya.
“Aduh…buru-buru amat Dew, yaudah ini bekalnya
nanti jangan lupa dimakan saat jam istirahat”, ujar Umi sambil memasukkan kotak
bekal makanan ke dalam tas Dewi. “Makasih Mi”, Assalamuallaikum”, kata Dewi
sambil mengenakan tas kerjanya. “Waallaikumsalam, hati-hati nak, jangan lupa
titipan Umi”, ujar Umi. “Baik Mi”,jawab Dewi sambil terburu-buru menuju keluar
dari rumahnya.
Ya benar jika Dewi memang akan
berangkat bekerja di sebuah Pabrik Tekstil yang berjarak kurang lebih 7 km dari
desanya. Gadis sulung dari 3 bersaudara ini memang tak bisa melanjutkan
studinya ke Perguruan Tinggi usai ia lulus dari Madrasah Aliyah, dikarenakan
keterbatasan finansial dari keluarganya. Pasalnya Uminya yang hanya seorang
pedagang kue tradisional yang dijajakan keliling penjuru desanya. Sementara
Ayahnya telah wafat kira-kira 5 tahun yang lalu karena penyakit gula
(diabetes). Di samping itu Uminya juga harus menafkahi kedua adik Dewi yang
masih duduk di bangku SMP dan SD yakni Arman kelas VIII dan Teti kelas V.
Sehingga keadaan inilah yang mendorong gadis remaja ini untuk bekerja di sebuah
Pabrik Tekstil dan seusai bekerja Dewi pulang dengan membawa barang belanjaan
Uminya. Setelah itu tepat jam 3 sore ia harus mengajar anak-anak SD di Bimbel
(Bimbingan Belajar) yang tak jauh dari tempat tinggalnyaselama 3 kali setiap
minggunya. Kenyataan seperti itulah yang semakin membuat Dewi untuk tetap
bersemangat demi meraih cita-citanya dan juga membahagiakan Umi sera kedua
adiknya.
Dengan menaiki sebuah angkot warna
oranye, Dewipun menuju Pabrik Tekstil yang berjarak kurang lebih 7 km dari
desanya. Sesampainya disana Dewi presensi kehadiran dan masuk ke dalam Pabrik
untuk memulai bekerja. Di bagian pengepakanlah Dewi bekerja bersama puluhan
pekerja lainnya yang berasal tak jauh dari keberadaan Pabrik Tekstil tersebut.
Kira-kira hampir 4 bulan Dewi menjalani pekerjaan sebagai buruh pabrik yang
kira-kira UMR tiap bulannya Rp 750.000,00. Memang tergolong rendah bagi UMR
sewajarnya. Akan tetapi bagi gadis yang hobi memakai jilbab warna merah ini
lumayan cukup baginya yang hanya lulusan Madrasah Aliyah ini. Baginya sudah
mendapat pekerjaan seperti ini saja sudah Alhamdulillah dalam benak Dewi.
Akan tetapi jauh di dalam
angan-angannya ia masih mempunyai cita-cita untuk melanjutkan studinya di
Perguruan Tinggi Negeri di kotanya. Sebagian dari gajinya ia tabung untuk
merealisasikan angan-angannya untuk menjadi seorang tenaga pengajar (guru).
Memang sungguh sederhana cita-cita nan mulia gadis 18 tahun ini.
Mataharipun mulai naik dan jarum jampun
kian berjalan mengikuti detik demi detik berjalannya waktu siang itu, tepat jam
14.30 Dewi pulang. Yang kebetulan hari ini adalah tanggal muda jadi ia bisa
mengambil gajinya di ATM (Anjungan Tunai Mandiri) yang letaknya di samping Pasar
sekalian seusai itu ia membelanjakan barang belanjaan titipan Uminya. Bersama
dengan Tika sahabatnya yang juga buruh di Pabrik Tekstil itu menuju ATM untuk
mengambil gajinya bulan ini.
“Ehm-ehm…, gaji bulan ini buat apa ya
Dew…?”, Tanya Tika kepada Dewi dengan wajah berseri-seri yang hendak memegang
uang Rp 750.000,00 dari mesin ATM.
“Buat belanja dagangan Umi Tik, selain
itu buat bayar listrik, uang jajan adikku dan sisanya buat tabungan kuliah.” jawab
Dewi seraya menjelaskan dengan gamblangnya.
“Dewi… kamu itu memang nggak pernah
berubah dari dulu masih tetep teguh pendirian buat ngelanjutin kuliah, salut
deh punya sahabat sepertimu, jadi terharu”, ujar Tika yang kagum terhadap
sahabatnya dan merasa simpati pada Dewi.
Akan tetapi suasana tersebut menjadi
berubah dengan adanya kedatangan gadis seusia mereka yang hendak juga mengambil
uang di ATM. “Minggir-minggir, orang cantik mau lewat”, kata Erni dengan nada
sombong menyerobot masuk ke ATM yang memisah keberadaan Dewi dan Tika yang
hendak beranjak keluar.
“Eh-eh… mbak, nggak sopan banget ya
jadi orang kalau mau lewat permisi dulu dong, nggak usah main serobot aja kayak
gitu, sakit tau kesenggol kamu” ujar Tika dengan nada nyolot pada Erni.
“Astaghfirullah haladzim, sabar-sabar
Tik, kita nggak boleh emosi ngadepin orang kayak gitu”, nasehat Dewi sambil
meredakan emosi Tika.
“Terus kalian nggak terima? Emang ini
ATM milik eyang kalian?”, Bentak Erni dengan nada nyolot campur emosi satu
level di atas Tika.
“Yaudah Tik, mending kita ke Pasar aja
aja yuk aku takut Umiku nungguin kelamaan belanjaannya dan bisa-bisa aku telat mengajar
di Bimbel”, ajak Dewi.
“Astaghfirullah haladzim, baik Dew,
maaf jadi kebawa emosi gara-gara ni orang”, jawab Tika yang sudah lumayan reda
dari gejolak emosi karena kesal dengan tingkah Erni.
“Hahaha… kalian jadi ngalah nih…?”,
Tanya Erni yang tak juga merasa bersalah sedikitpun akibat kejadian tadi. Akan tetapi mereka
berdua memilih untuk menyudahi adu mulut dan beranjak menuju ke pasar untuk
membelanjakan barang belanjaan titipan Uminya.
Erni merupakan teman semasa Madrasah
Aliyah dulu. Dari dulu Erni amat syirik dengan yang namanya Dewi. Mulai dari
dalam bidang prestasi belajarnya di sekolah, kecantikkan parasnya, kesolekhahannya
dan juga perhatian lebih yang tidak Erni dapatkan dari teman-teman laki-lakinya
semasa sekolah seperti Dewi. Sehingga di mata seorang Erni, Dewi itupun tak
ubahnya seorang musuh terbesar baginya, walaupun sudah berpisah 5 bulan yang
lalu karena acara kelulusan Sekolah.
Nasib Erni tergolong beruntung karena
ia berasal dari keluarga yang berkecukupan, Ayahnya merupakan pejabat daerah
setempat. Sehingga ia tak kesulitan lagi untuk melanjutkan kuliah di salah satu
Perguruan Tinggi swasta di kotanya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Dewi
yang berasal dari keluarga sederhana yang sudah 5 tahun lalu ditinggal wafat
Ayahnya. Ibarat pepatah bilang “Bagaikan Bumi dan Langit” yang maknanya kedua
sosok manusia yang dari segi finansial jauh dipisahkan oleh yang namanya kasta.
Padahal dari dulu dalam hati Dewi tak
ada kebencian dan rasa dendam sedikitpun yang ia pendam terhadap segala
perbuatan dan perkataan yang telah Erni lakukan dan lontarkan kepada Dewi.
Tetapi ibarat sinetron ada peran protagonis ada pula peran antagonis dalam
kehidupan dua gadis ini yang memberikan kedinamisan kisah yang membuat cerita
agar terasa tak hambar.
Setelah merampungkan kegiatan
belanjanya Dewipun bergegas pulang dengan menaiki angkot oranye yang sudah
menjadi langganannya untuk pulang menuju desanya. “Bang,… kiri-kiri…”, begitu
Dewi menghentikan laju angkot oranye yang kebetulan lewat di depan hadapannya.
Kemudian angkotpun berhenti, Dewipun
dengan segera masuk dengan kaki kanan sembari merundukkan badannya dan
kepalanya untuk menghindari benturan dengan pintu angkot yang sempit itu.
“Dewi…?”, sapa Penumpang yang duduk di
pojok angkot yang terhalang oleh pedagang gorengan yang membawa bakul
dagangannya sehingga menghalangi wajah dari penumpang yang menyapa Dewi
tersebut.
“Eh…Mas Teguh, habis darimana Mas?
“ujar Dewi yang akhirnya mengenali sosok pria yang memanggil namanya tadi.
“Ini Dew, aku habis dari Dinas
Pendidikan Kota nyari informasi beasiswa buat teman”, jawab Mas Teguh sembari
menggulung brosur beasiswa ukuran kertas A4 itu. “Dewi sendiri darimana?”, tanya Mas Teguh penasaran
menambahi pertanyaan yang ia lontarkan pada Dewi.
“Habis dari Pasar mas, balanjain barang
dagangan buat Umi”, jawab Dewi sambil menyangking kantong plastik warna hitam
yang berisi bahan dasar kue tradisional.
Setelah di dalam angkot selama 15
menit, sampailah mereka di Desa yang sebagian besar penduduknya bermata
pencaharian sebagai petani itu.”Duluan ya Mas, Assalamuallaikum”,ujar Dewi
sambil menyincing rok panjangnya untuk keluar dari angkot.
Waallaikumsalam Dew…, hati-hati…”,
jawab Mas Teguh yang tak luput perhatian terhadap langkah Dewi yang hendak
turun dari angkot. Memang sejak lama Mas Teguh menaruh perasaan lebih pada
Gadis yang gemar menulis ini. Dari kecil mereka sering bermain bersama dan
bersekolah di tempat sama pula sehingga keakraban di antara keduanya sudah
tidak asing lagi. Semenjak lulus dari MA Mas Teguh langsung melanjutan studi ke
Perguruan Tinggi Negeri di kotanya. Sedangkan Dewi bekerja di Pabrik Tekstil
yang belum bisa melanjutkan studinya karena masalah-masalah finansial.
Setelah sampai rumah, Dewipun
menyerahkan barang belanjaan kepada Uminya. “ Mi, ini titipannya dan yang ada
di amplop itu buat uang jajan Arman dan Teti”, ujar Dewi sambil mempersiapkan
buku-buku yang hendak dibawanya untuk mengajar di Bimbel.
“Makasih ya Nak…, andaikan saja ayahmu
masih……” tak sempat menyelesaikan perkataannya, Dewipun memotong kalimat yang
hendak Umi lontarkan kepadanya. Dewi berkata:”Sudahlah Mi…, kita doakan saja
Abi damai di sisi Allah SWT”, sambil mendekati Uminya dengan melebarkan
tangannya lalu memeluk wanita yang berusia 45 tahun itu dengan erat.
Sambil mengusap air mata Uminya, Dewipun
dalam benaknya berkata:”Saya melakukan ini semua dengan ikhlas dan tujuan saya
hanyalah membuat Umi dan adik-adik bahagia”, Dewipun mencoba sekuat tenaga
untuk tidak memperlihatkan airmatanya menetes di hadapan Uminya.
Dia selalu mempunyai mindset
(pemikiran) bahwa ia adalah seorang wanita yang tangguh, tak pelak selain
mengidolakan Uminya, Dewipun sangat mengidolakan R.A Kartini sebagai tokoh
inspirasinya dan sebagai semacam cambuk agar dirinya tak terbuai dengan
paradigma yang menyebutkan bahwa wanita merupakan makhluk yang lemah yang tak
ubahnya satu kasta di bawah laki-laki. Paradigma-paradigma tersebut yang coba
ditepis oleh Sulung dari tiga bersaudara
ini.
Kemudian Dewipun berpamitan kepada
Uminya untuk mengajar di Bimbel yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sesampai
di Bimbel yang khusus mengajar anak-anak SD sederajat yang jumlahnya 20 tiap
kelasnya. Menjelang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang
diadakan tiap tahunnya ini, Bimbel tempat ia mengajar laris diburu oleh para
walimurid untuk mendaftarkan puta-putrinya agar sukses mengerjakan ujian.
Disela-sela ia mengajar tak sengaja dari balik jendela ia melihat teman-teman
semasa MAnya duluyang baru saja pulang kuliah. Dalam benak Dewi bergelayut
angan-angannya agar tahun ini ia bisa menyusul mereka.
Hari demi hari ia jalani kehidupan
sebagai buruh Pabrik Tekstil, sebagai tenaga pengajar di Bimbel dan tempat
ngaji di Mushola di desanya. Selain itu ia masih menyempatkan waktu untuk
menemani adik-adiknya belajar di malam hari dengan ikhlas dan tak pernah ada
niat sedikitpun untuk mengeluh pada teman-temannya terlebih pada Uminya.
Malam sebelum ia beranjak ke alam mimpi
telepon genggamnya bergetar yang menandakan bahwa ada SMS (Short Message
Service) yang masuk. “Dew, besok kamu ikut tes SBMPTN(Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri) yakni sejenis tes tertulis untuk masuk di Universitas
Negeri, mengenai registrasi dan berkas-berkasnya sudah saya siapkan”, SMS dari
Mas Teguh.
“Serius Mas, ini beneran…?”, Tanya Dewi
dengan raut muka penasaran campur aduk seperti gado-gado.
“Beneran Dew, serius deh,hehe”, jawab
Mas Teguh dengan nada ringan yang seiya mengiyakan pertanyaan serius yang Dewi
lontarkan kepadanya.
“Jadi giniloh, masih ingat dengan
brosur yang saya ambil dari Dinas Pendidikan Kota dulu?, jadi brosur itu
merupakan brosur beasiswa dari Dikti untuk calon Mahasiswa baru Dew”, Ujar Mas
Teguh dengan gamblang seyogyanya menjelaskan pertanyaan serius dari Dewi.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Mas
Teguh akhirnya Dewipun mengiyakan bahwa besok harus mengikuti Tes SBMPTN yang
tidak akan ia lewatkan demi mengejar angan-angannya menjadi tenaga pengajar di
Sekolah dan juga menjadi seorang Penulis. Beberapa bulan kemudian Pengumuman
tes SBMPTNpun dilangsir Dewipun berhasil lolos pada Prodi(Program Studi) di
pilihan pertamanya yakni Pendidikan Bahasa Indonesia. Karena Mas Teguh tahu
betul apa cita-cita dan hobi Dewi yang bercita-cita menjadi seorang guru dan
juga penulis yang handal maka ia mendaftarkan sahabat dari kecilnya ini ke
Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia.
Dewipun dengan mata yang berkaca-kaca
mengetahui hasil dari tesnya beberapa bulan lalu. Ia lolos menjadi Mahasiswi
Progam Studi Pendidikan Bahasa Indonesia S1 di salah satu Perguruan Tinggi
Negeri ternama di daerahnya.
Dengan ketekunan dan keikhlasanya ia
kuliah sembari bekerja sebagai pengajar di Bimbel. Sebisa mungkin Dewi membagi
waktunya dengan keluarganya. Disisi lain bakatnya sebagai seorang penulis
dikembangkannya dengan mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) bidang sastra
yang ia ikuti setiap minggunya dan juga seminar-seminar serta tutorial-tutorial
penulisan juga tak luput ia tekuni.
Tak pelak gadis yang sempat menjadi
buruh Pabrik Tekstil ini dapat menyelesaikan buku perdanaya yang berjudul “Sisi
lain Seorang Wanita” yang menjadi buku Best
Seller di tahun itu juga diusianya yang masih muda dan masih berstatus
menjadi Mahasiswi semester VI ia sudah bisa menjadi penulis yang karyanya
digemari oleh remaja-remaja seusianya. Buku tersebut merupakan buku yang
kisahnya terinspirasi dari seorang tokoh yang ia gemari yaitu R.A Kartini dan
sebagian kisah hidupnya sendiri.
Hubungan persahabatan antara Dewi dan
Mas Teguh yang juga berstatus sebagai mahasiswa semester VIII itupun ke kenjang
ta’arufan. Merekapun intensif dalam hal mengajar ngaji di Mushola dan juga
dalam dunia tulis menulis yang digeluti oleh Gadis semester VI itu dengan
saling mendukung satu sama lain, karena Mas Teguh berbeda jurusan dengan Dewi.
Tetapi ia setia memberi dukungan dan motivasi kepada Dewi untuk menjadi tenaga
pengajar (guru) yang patut untuk (digugu lan ditiru) yakni di teladani oleh
para muridnya dan juga sebagai penulis sejati yang senantiasa menyebarkan
motivasi kepada sesamanya lewat kata-kata yang tertuang di dalam buku dan
novelnya.














0 komentar:
Posting Komentar