Selasa, 10 Desember 2013

Pemuda, Aset Bangsa
created by: Ahmad Suwandi


 “Pemuda, Aset Bangsa”, slogan yang mungkin sering kita saksikan di iklan-iklan media massa seperti koran, televisi maupun yang terpampang di brosur yang tertempel di jalanan. Yang bertujuan memberikan motivasi serta dorongan kepada generasi muda kita agar tetap berpikir positif dan kreatif demi merealisasikan apa yang menjadi angan-angan di benak mereka agar bermanfaat bagi masyarakat luas.                                                                                                                                               
Akan tetapi realita yang sering kita dapatkan berbeda jauh dengan slogan yang ada di atas tadi. Mulai dari kenakalan remaja seperti tawuran antar pelajar SMA, bolos sekolah, geng motor, sampai tindakan kriminal yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi, misalnya: ABG yang yang hamil di luar nikah, kasus video porno, narkoba, dan masalah-masalah lain yang kiranya sudah acapkali menjadi sebuah kebiasaan. Padahal kelak di tangan generasi mudalah beban dan tanggungjawab negara akan di pikul di pundak calon-calon agen perubahan ini.
Sekarang, adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan pembaharuan. Di sini peran dari segala komponen yang berada di sekitar pemuda pemudi negeri ini seperti halnya orang tua, guru, dan masyarakat sangat berpengaruh demi terciptanya generasi muda yang bermanfaat. Dimulai dari yang paling dekat yakni keluarga, sebagai lingkup yang menjadi dasar pembelajaran manusia sejak lahir yang di dalamnya terdapat penanaman nilai-nilai, norma, agama dan juga pedoman hidup yang nantinya sebagai bekal bagi anak muda untuk mengarungi hidup di masyarakat. Peran vital orang tua ini harus disikapi serius oleh para ayah maupun ibu agar memerhatikan tumbuh dan kembang buah hatinya agar tetap berada di koridor-koridor yang benar. Intenitas pertemuan yang relatif rutin ini tentunya menjadi peluang bagi para orang tua untuk sekedar memberikan nasehat-nasehat kecil maupun berfungsi untuk memonitoring hal-hal apa saja yang menjadi hobi, minat, cita-cita, maupun ketidaksukaan anak terhadap sesuatu. Tentunya sikap yang diambil orang tua ini tetap membebaskan apa yang menjadi hak-hak anak dan tidak serta merta saklak mengekang kreativitas dan produktivitas anak itu sendiri.
Kedua, guru menyumbang peran yang besar setelah orang tua, pasalnya pembelajaran di Sekolah yang memberikan ilmu akademik seperti softskill maupun keterampilan yakni hardskill yang nantinya sebagai bekal bagi anak untuk menentukan cita-citanya yang berbekal dari apa yang telah mereka dapatkan tadi. Selain itu makna guru “digugu lan di tiru” sebuah istilah jawa yang memiliki makna seorang guru itu wajib menjadi teladan bagi para murid-muridnya. Seharusnya benar-benar diimplikasikan oleh para pendidik generasi penerus bangsa ini demi mewujudkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang bermanfaat serta berkarakter.
Dan yang tidak kalah pentingnya yakni peran dari lingkungan sekitar yakni masyarakat. Merupakan lingkungan yang sedikit banyak memberikan dampak psikologis maupun jasmaniah yang secara cepat bisa merubah sikap dan perilaku generasi muda ini. Misalnya di sebuah kampung yang mayoritas anak remajanya tidak sekolah dan lebih sering menghabiskan waktu dengan berfoya-foya, duduk-duduk di gang maupun begadang sampai larut malam dengan mabuk-mabukkan, tak menutup kemungkinan bisa saja berpengaruh kepada pemuda religius di kampung tersebut. Mungkin dengan dalih persahabatan, keakraban, dan persaudaraan, remaja alim tersebut juga bisa ikut-ikutan seperti mereka karena dihadapkan oleh kebiasaan. Jadi peran masyarakat yang seharusnya sebagai pengontrol terakhir setelah keluarga dan sekolah seyogyanya menjaga dan membina para generasi muda dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti lomba menyanyi, menulis cerpen, ikatan pemuda masjid dll, demi sebagai alat pengontrol hal-hal yang dilakukan oleh generasi penerus negeri ini.
Jika dari ketiga aspek di atas terpenuhi bisa jadi cita-cita mulia dari para pahlawan yang mendambakan Indonesia yang terbebas dari segala bentuk penjajahan bisa terwujudkan. Walaupun wujud nyatanya tidak berjalan signifikan akan tetapi seiring berjalannya waktu kabar-kabar negatif mengenai masalah-masalah remaja tadi bisa sedikit berkurang dan berkurang. Perlu adanya keseriusan pemerintah dalam hal ini agar apa yang diberikan oleh ketiga aspek tadi berjalan sesuai yang dicita-citakan.
Padahal banyak potensi yang bisa dieksplor lagi dari generasi muda bangsa ini. Telah terbukti dari pelajar yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan menjuarai olimpiade sains, maupun dalam dunia olahraga seperti atlet-atlet seagames, Doni Tata dengan motor besarnya serta Rio Haryanto dengan balap mobilnya. Seharusnya prestasi-prestasi yang mereka dapat menjadi sebuah acuan semangat dan memotivasi para generasi penerus bangsa ini untuk ikut berprestasi seperti mereka ataupun hanya menghindari hal-hal negatif yang akan kita perbuat.
 Wirausahawan sukses dimasa muda?... Why not?. Di era globalisasi dan kemajuan perkembangan teknologi yang serba canggih ini tak menutup kemungkinan untuk menjadi pembisnis sukses diusia muda, telah terbukti banyak kita jumpai ketika jalan-jalan di Bandung, berjejeran outlet-outlet, distro dan toko-toko yang menyediakan baju, celana, tas, sepatu dan aksesoris-aksesoris keren yang merupakan produk yang digagas oleh mojang asli sana. Seperti contonya Hamzah Izzulhaq yang menjadi “The Best Young Entrepreneur of The Year 2011” di usia yang masih amat muda yakni 19 tahun telah memiliki “Picanto Sofabed”. Sebetulnya ide-ide kreatif yang ada di benak pemuda dan pemudi itu lebih kekinian dibandingkan dengan apa yang sudah ada dan tersedia di pasaran. Namun hal ini terkendala dengan adanya pengadaan modal, lokasi dan juga pemasaran yang terbentur dengan pengalaman yang minim sehingga proses perealisasiannya menjadi terhambat dan mengakibatkan hal-hal yang sudah terpikirkan secara matang tak bisa dituangkan pada produk yang nyata.
Anak muda peduli lingkungan?... Why not?. Kebanyakan anak muda memang lebih tertarik dengan menghabiskan waktunya di Mall, padahal banyak hal positif yang bisa kita dapat dari alam. Yakni dengan berpetualang di alam bebas seperti Mountain Climbing, Rafting, Hunting, Diving dll. Dengan adanya korelasi dengan alam membuat para remaja lebih mengenal dan mencintai keberagaman panorama di negeri yang elok ini. Tentunya dengan diselingi dengan kegiatan bermanfaat seperti bersih-bersih sampah di sekitar pantai, penanaman mangrove, dll. Selain refreshing, tentunya kita juga belajar dari alam untuk tetap arif dalam memanfaatkan segala sesuatunya.
Tentunya banyak hal bermanfaat yang bisa kita lakukan demi mengembangkan apa yang ada di benak kita. Hal-hal tersebut bisa kita dapatkan dengan habits (kebiasan), karena dengan terbiasa seseorang bisa melakukan sesuatu secara intensif dan berulang-ulang kali tentunya. Dengan peran serta ketiga komponen tadi yakni orangtua, guru dan masyarakat yang fungsinya sebagai pemberi bekal pembelajaran dan juga alat monitoring para generasi muda bangsa ini untuk tetap semangat mewujudkan apa yang ada dalam benak kita dan sesegera mungkin untuk merealisasikannya. Tentunya hal-hal kreatif dan positif yang harus kita wujud dan kembangkan demi merubah paradigma yang berkembang dimasyarakat bahwa anak pemuda sekarang telah bobrok dengan masalah-masalah tadi. Sekaranglah merupakan waktu yang tepat untuk memulai dari hal-hal yang kecil selagi itu bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitar kita.

Let’s begin it…

0 komentar:

Posting Komentar