Pemuda,
Aset Bangsa
created
by: Ahmad Suwandi
“Pemuda,
Aset Bangsa”, slogan yang mungkin sering kita
saksikan di iklan-iklan media massa seperti koran, televisi maupun yang
terpampang di brosur yang tertempel di jalanan. Yang bertujuan memberikan
motivasi serta dorongan kepada generasi muda kita agar tetap berpikir positif
dan kreatif demi merealisasikan apa yang menjadi angan-angan di benak mereka
agar bermanfaat bagi masyarakat luas.
Akan tetapi realita
yang sering kita dapatkan berbeda jauh dengan slogan yang ada di atas tadi.
Mulai dari kenakalan remaja seperti tawuran antar pelajar SMA, bolos sekolah,
geng motor, sampai tindakan kriminal yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi,
misalnya: ABG yang yang hamil di luar nikah, kasus video porno, narkoba, dan
masalah-masalah lain yang kiranya sudah acapkali menjadi sebuah kebiasaan.
Padahal kelak di tangan generasi mudalah beban dan tanggungjawab negara akan di
pikul di pundak calon-calon agen perubahan ini.
Sekarang, adalah waktu
yang sangat tepat untuk melakukan pembaharuan. Di sini peran dari segala
komponen yang berada di sekitar pemuda pemudi negeri ini seperti halnya orang
tua, guru, dan masyarakat sangat berpengaruh demi terciptanya generasi muda
yang bermanfaat. Dimulai dari yang paling dekat yakni keluarga, sebagai lingkup
yang menjadi dasar pembelajaran manusia sejak lahir yang di dalamnya terdapat
penanaman nilai-nilai, norma, agama dan juga pedoman hidup yang nantinya
sebagai bekal bagi anak muda untuk mengarungi hidup di masyarakat. Peran vital
orang tua ini harus disikapi serius oleh para ayah maupun ibu agar memerhatikan
tumbuh dan kembang buah hatinya agar tetap berada di koridor-koridor yang
benar. Intenitas pertemuan yang relatif rutin ini tentunya menjadi peluang bagi
para orang tua untuk sekedar memberikan nasehat-nasehat kecil maupun berfungsi
untuk memonitoring hal-hal apa saja yang menjadi hobi, minat, cita-cita, maupun
ketidaksukaan anak terhadap sesuatu. Tentunya sikap yang diambil orang tua ini tetap
membebaskan apa yang menjadi hak-hak anak dan tidak serta merta saklak
mengekang kreativitas dan produktivitas anak itu sendiri.
Kedua, guru menyumbang
peran yang besar setelah orang tua, pasalnya pembelajaran di Sekolah yang
memberikan ilmu akademik seperti softskill
maupun keterampilan yakni hardskill
yang nantinya sebagai bekal bagi anak untuk menentukan cita-citanya yang
berbekal dari apa yang telah mereka dapatkan tadi. Selain itu makna guru “digugu lan di tiru” sebuah istilah jawa
yang memiliki makna seorang guru itu wajib menjadi teladan bagi para
murid-muridnya. Seharusnya benar-benar diimplikasikan oleh para pendidik
generasi penerus bangsa ini demi mewujudkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang
bermanfaat serta berkarakter.
Dan yang tidak kalah
pentingnya yakni peran dari lingkungan sekitar yakni masyarakat. Merupakan
lingkungan yang sedikit banyak memberikan dampak psikologis maupun jasmaniah
yang secara cepat bisa merubah sikap dan perilaku generasi muda ini. Misalnya
di sebuah kampung yang mayoritas anak remajanya tidak sekolah dan lebih sering
menghabiskan waktu dengan berfoya-foya, duduk-duduk di gang maupun begadang
sampai larut malam dengan mabuk-mabukkan, tak menutup kemungkinan bisa saja
berpengaruh kepada pemuda religius di kampung tersebut. Mungkin dengan dalih
persahabatan, keakraban, dan persaudaraan, remaja alim tersebut juga bisa
ikut-ikutan seperti mereka karena dihadapkan oleh kebiasaan. Jadi peran
masyarakat yang seharusnya sebagai pengontrol terakhir setelah keluarga dan
sekolah seyogyanya menjaga dan membina para generasi muda dengan mengadakan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti lomba menyanyi, menulis cerpen,
ikatan pemuda masjid dll, demi sebagai alat pengontrol hal-hal yang dilakukan
oleh generasi penerus negeri ini.
Jika dari ketiga aspek
di atas terpenuhi bisa jadi cita-cita mulia dari para pahlawan yang mendambakan
Indonesia yang terbebas dari segala bentuk penjajahan bisa terwujudkan.
Walaupun wujud nyatanya tidak berjalan signifikan akan tetapi seiring
berjalannya waktu kabar-kabar negatif mengenai masalah-masalah remaja tadi bisa
sedikit berkurang dan berkurang. Perlu adanya keseriusan pemerintah dalam hal
ini agar apa yang diberikan oleh ketiga aspek tadi berjalan sesuai yang
dicita-citakan.
Padahal banyak potensi
yang bisa dieksplor lagi dari generasi muda bangsa ini. Telah terbukti dari
pelajar yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan
menjuarai olimpiade sains, maupun dalam dunia olahraga seperti atlet-atlet seagames, Doni Tata dengan motor
besarnya serta Rio Haryanto dengan balap mobilnya. Seharusnya prestasi-prestasi
yang mereka dapat menjadi sebuah acuan semangat dan memotivasi para generasi
penerus bangsa ini untuk ikut berprestasi seperti mereka ataupun hanya
menghindari hal-hal negatif yang akan kita perbuat.
Wirausahawan sukses dimasa muda?... Why not?. Di era globalisasi dan
kemajuan perkembangan teknologi yang serba canggih ini tak menutup kemungkinan
untuk menjadi pembisnis sukses diusia muda, telah terbukti banyak kita jumpai
ketika jalan-jalan di Bandung, berjejeran outlet-outlet, distro dan toko-toko
yang menyediakan baju, celana, tas, sepatu dan aksesoris-aksesoris keren yang
merupakan produk yang digagas oleh mojang asli sana. Seperti contonya Hamzah
Izzulhaq yang menjadi “The Best Young
Entrepreneur of The Year 2011” di usia yang masih amat muda yakni 19 tahun
telah memiliki “Picanto Sofabed”. Sebetulnya
ide-ide kreatif yang ada di benak pemuda dan pemudi itu lebih kekinian
dibandingkan dengan apa yang sudah ada dan tersedia di pasaran. Namun hal ini
terkendala dengan adanya pengadaan modal, lokasi dan juga pemasaran yang
terbentur dengan pengalaman yang minim sehingga proses perealisasiannya menjadi
terhambat dan mengakibatkan hal-hal yang sudah terpikirkan secara matang tak
bisa dituangkan pada produk yang nyata.
Anak muda peduli
lingkungan?... Why not?. Kebanyakan
anak muda memang lebih tertarik dengan menghabiskan waktunya di Mall, padahal banyak hal positif yang
bisa kita dapat dari alam. Yakni dengan berpetualang di alam bebas seperti Mountain Climbing, Rafting, Hunting, Diving dll. Dengan adanya korelasi dengan alam
membuat para remaja lebih mengenal dan mencintai keberagaman panorama di negeri
yang elok ini. Tentunya dengan diselingi dengan kegiatan bermanfaat seperti
bersih-bersih sampah di sekitar pantai, penanaman mangrove, dll. Selain refreshing,
tentunya kita juga belajar dari alam untuk tetap arif dalam memanfaatkan
segala sesuatunya.
Tentunya banyak hal
bermanfaat yang bisa kita lakukan demi mengembangkan apa yang ada di benak
kita. Hal-hal tersebut bisa kita dapatkan dengan habits (kebiasan), karena dengan terbiasa seseorang bisa melakukan
sesuatu secara intensif dan berulang-ulang kali tentunya. Dengan peran serta
ketiga komponen tadi yakni orangtua, guru dan masyarakat yang fungsinya sebagai
pemberi bekal pembelajaran dan juga alat monitoring para generasi muda bangsa
ini untuk tetap semangat mewujudkan apa yang ada dalam benak kita dan sesegera
mungkin untuk merealisasikannya. Tentunya hal-hal kreatif dan positif yang
harus kita wujud dan kembangkan demi merubah paradigma yang berkembang
dimasyarakat bahwa anak pemuda sekarang telah bobrok dengan masalah-masalah
tadi. Sekaranglah merupakan waktu yang tepat untuk memulai dari hal-hal yang
kecil selagi itu bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitar kita.
Let’s begin it…















0 komentar:
Posting Komentar