Mukena untuk Rara
Bunyi
adzan subuh yang telah berkumandang
sekitar 5 menit
yang lalu itu
belum juga membangunkan
gadis kecil yang
baru berusia 7
tahun ini, Rara,
begitu nama panggilannya.
Dia mempunyai saudara
kembar yang bernama
Rio. Mereka berdua
hanya terpaut 10
menit dalam proses kelahirannya. Yang menjadikan
beda yakni sifat
dan perilaku mereka.
Rio yang berkepribadian rajin
dan baikhati itu
berbeda 180 derajat
dengan Rara anak
manja yang dalam
segala permintaannya harus
dipenuhi oleh ayahnya
yang hanya berprofesi
sebagai tukang becak,
sedangkan ibunya sebagai
guru TPQ (Taman
Pendidikan Al-Qur’an) di
desanya.
Memang sudah
menjadi kebiasaan Rara
untuk susah setiap
kali dibangunkan dari
tidurnya yang nyenyak
itu. Rutinitas untuk
membangunkan Rara tiap
paginyapun rela ibu
jalani demi menanamkan
kedisiplinan sejak dini.
“Rara… bangun
nak, udah jam
setengah lima tuh,
ambil air wudhu
gih…” ujar ibunya dengan
intonasi pelan.
“Satu menit
lagi, Bu…”, bunyi yang
keluar dari mulut
gadis yang gemar
mengoleksi boneka itu.
“Owalah,… bangun tho
nduk, Rio udah
selesai sholat subuh
tuh, ujar ibu
dengan logat jawanya
yang kental itu.
Sambil mengucek-ucek
kedua matanya yang
masih ngantuk, akhirnya
Rarapun beranjak dari tempat tidurnya
mengambil air wudhu
yang kemudian dilanjutkan
sholat subuh.
Usai
sholat subuh, sambil
mengemasi buku-buku yang
hendak ia bawa
ke sekolah Rarapun
mencoba membuka pembicaraan
kepada ibunya yang
tengah menyapu ruang
tengah.
“Bu, minggu
depan di sekolah
Rara ada acara
maulid, Rara pingin
banget make mukena warna
kuning yang kita
lihat di pasar
kemarin, beliin ya
Bu, plisss” pinta
Rara dengan nada
memelas sembari memasukkan
buku matematika ke
dalam tasnya yang
berwarna kuning itu.
“Insya Allah
ya Nak, nanti
ibu usahain”, jawab
ibunya dengan nada
rendah.
“Di usahain
ya Bu, soalnya
tadi temen-temen Rara
pada pamer katanya
mereka udah pada
beli di Mall
Bu”, ujar Rara
polos yang masih
kekanak-kanakan itu.
Mendengar apa
yang dikatakan adikknya
itu, Riopun akhirnya berkomentar : “Dek, sadar
diri dong, ibu
itu lagi nggak
punya duit, duit
yang kemarin itu
udah ibu kasihkan
pada Pak Darko (pemilik rumah
yang mereka tempati),
belum lagi bulan
depan kita bayar
SPP”, ujar Rio kepada
Rara yang serasa
mencoba menjelaskan kepada
adikknya yang manja
itu.
Tanpa sepatah
katapun Rara masuk
ke dalam kamarnya
dan melemparkan tasnya
yang sudah terisi
penuh buku itu
ke lantai rumahnya
yang masih beralaskan
tanah.
“Dasar, anak
manja… huhh..”, ujar
kakaknya yang sedikit
terpancing emosi melihat
kelakuan saudari kembarnya
itu.
“Sudahlah nak,
yang sabar saja
ngadepin adikkmu, dia
memang beda jauh
nggak seperti kamu”,
kata ibunya yang
mencoba meredakan emosi
Rio.
“Maaf ya
Bu, abis Rio
kesel ama Rara”,
Ujar Rio
“Yaudah mandi
sana nak, ntar
kamu telat berangkat
sekolah”, saran ibu
kepada Rio sembari
menyiapkan hidangan sarapan
di meja persegi
ukuran 1x1 meter
itu. Di dalam
benaknya berkecamuk bagaimana
dia harus mengadakan
uang bakal mukena
yang dipinta anak
perempuannya itu. Kemudian
dari pintu samping
terdengar suara langkah
yang memecah kesunyian
di pagi itu.
“Ada apa
tho Bu, kog Ayah
dari luar dengar
suara rebut-ribut, apa
anak-anak pada berantem?”,
tanya ayah yang
baru saja usai
bersih-bersih becak yang
akan ia bawa
untuk mencari nafkah
dipagi buta ini.
“Itu lohh
si Rara minta dibeliin mukena baru, soalnya
disekolahnya mau ada
acara maulid, terlebih-lebih teman-temannya udah
pada beli jadi
Rara ngiri yah “,
adu ibu pada
ayah.
“Yaudah bu,
doain aja ayah
hari ini banyak
penumpang, supaya bisa
beli mukena baru
buat Rara.” Ujar
Ayah dengan nada
pengharapan.
Setelah seharian
bekerja menggenjot becak
tuanya mengelilingi kota
dengan terik matahari
yang menyengat membakar
kulitnya yang hitam
ini akhirnya Ayah
Rara mendapat rejeki
yang lumayan cukup
untuk dibelikan mukena
warna kuning yang
telah menjadi incaran
Rara semenjak pulang
dari Pasar beberapa
hari yang lalu.
Dengan raut
muka yang berbinar-binar akhirnya
pria usia 40
tahun ini pulang
menuju rumah kontrakan
yang telah ia
tempati selama 8
tahun itu. Pedal
becaknyapun ia genjot
dengan ekstra demi cepat-cepat menemui
putrinya itu. Tentunya
dengan mukena warna
kuning dengan motif
bunga-bunga yang menghiasi
lingkar penutup dahinya
dan sedikit aksen
renda di tali
mukena yang ia
beli seharga Rp 50.000,- itu. Di dalam
benaknyapun tak sabar
melihat ekspresi gembira
dari putrinya yang
masih polos dan
manja itu.
Tiba-tiba dengan
kecepatan penuh angkutan
kota warna biru
muda itu menabrak
becak tua yang
tengah dikayuh oleh
Ayah. Pria inipun terpental
beberapa meter ke
trotoar dekat pedagang
kaki lima, dan
naasnya kepalanya membentur
pembatas jalan sehingga
mengeluarkan banyak darah.
Akhirnya pria inipun
menghembuskan nafas terakhirnya
di tempat tersebut.
Sementara di
tempat lain, Rara,
Rio, beserta ibunya
sedang berada di
TPQ yang berjarak
tak jauh dari
tempat ayahnya kecelakaan.
Dan seseorang yang
sambil tengengah-engah setelah
berlarian mencari 3
orang inipun akhirnya
sampai juga di TPQ
untuk memberitahu bahwa
suaminya telah mengalami
kecelakaan. Tanpa berpikir panjang
sosok wanita usia
32 tahun itupun
berlari sekuat tenaga
dengan diikuti kedua
anaknya yang berjarak
tak berjauhan itu
langsung menuju tempat
yang diinformasikan pemuda
tadi.
Kerumunan orang
yang terlihat dari
jarak 10 meter
itupun semakin jelas
terlihat. Air matapun menetes
pada ibu dan
Rara sendiri. Sambil sesekali benak
gadis kecil ini
menepis kemungkinan terburuk
yang dialami ayahnya.
3 orang inipun akhirnya masuk
memecah kerumunan dan
kemudian menangis sejadi-jadinya yang
diwajibkan menerima kenyataan
bahwa Ayahnya telah
meninggalkan mereka untuk
selama-lamanya.
Mukena kuning
itupun masih rapi
terbungkus kertas kado
berpita yang bertuliskan
“Mukena untuk Rara” yang
terselip indah di
atas becak ayahnya itu.
Dalam benak Rara
berkecamuk rasa bersalah
yang mungkin tak
akan dimaafkan dirinya
sendiri sampai kapanpun.
Bahwa karena dengan
sifat manjanya yang
merengek-rengek meminta mukena
baru kepada ibunya,
yang akhirnya direalisasikan oleh ayahnya yang
bekerja keras seharian
demi membelikan mukena
baru yang akan
dikenakan saat acara
maulid itu.
Beberapa hari
setelah pemakaman ayahnya
Rarapun meminta maaf
kepada ibu dan
saudara kembarnya sembari
menangis tersedu-sedu.
“Kak…
Bu…, Rara minta maaf
karna Rara udah…..” belum menyelesaikan
kalimat yang tengah
ia lontarkan tiba-tiba
ibunya memotong pembicaraan
Rara.
“Ini sudah
menjadi kehendak Allah
SWT nak, jadi
lupakan masa lalu
kamu yang manja,
yang selalu minta
dituruti apa saja
yang menjadi kemauan
kamu nak, ingat
pesan dan nasehat
ayah yang menginginkan
kamu menjadi anak
yang penurut dan
sholekhah… pasti ayah senang
jika kamu mau
berubah.” Ujar sang ibu
yang seyogyanya memberikan
ujangan kepada putri
bungsungnya ini.
“Iya bu,
Insya Allah Rara
janji akan berubah
dan nggak akan
manja lagi, supaya
Ayah bangga punya
anak seperti Rara,
dan mukena ini
akan menjadi pengingat
Rara terhadap pesan-pesan dan
nasehat dari Ayah.” Jawab
Rara sembari mengelus-elus
mukena kuning yang
tak terbungkus kado
lagi. Dan akhirnya
Rarapun tumbuh menjadi
anak yang penurut
dan patuh kepada
kakak dan ibundanya.














0 komentar:
Posting Komentar