Senin, 16 Desember 2013

E-Learning : Efisiensi Biaya, Waktu, dan Implementasi Paperless Policy

Gambar 1.1 e-learning

Saat mendengar kata e-learning pikiran saya langsung tertuju pada 3 hal, yaitu: internet, efektivitas, dan paperless policy. Sebagai seorang mahasiswa di kampus yang notabene mengusung gerakan konservasi tentunya tak asing lagi dengan proses pembelajaran e-learning yang merupakan salah satu langkah yang diusung demi mengurangi penggunaan kertas dalam proses kegiatan pembelajaran. Sebelum beranjak lebih jauh sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu pemahaman mengenai e-learning.

Apa itu e-learning dan apa saja peranannya?

Segala sesuatu yang kaitannya dengan proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas yang menggunakan media elektronik sebagai sarana pembelajaran dan biasanya berhubungan dengan internet. Padahal e-learning tidak serta merta berhubungan internet, seperti: kegiatan presentasi di kelas yang biasanya diterapkan dalam proses pembelajaran di kampus maupun sekolah-sekolah yang sudah memiliki media LCD proyektor.

Gambar 1.2 Mahasiswa sedang presentasi

E-learning sendiri memiliki 3 peranan, yakni sebagai suplemen (tambahan), komplemen (pelengkap), dan substitusi (pengganti).
Analogi Suplemen, Komplemen, dan Substitusi

Suplemen
Peserta didik berhak mengerjakan tugas paper geografinya melalui 2 cara, yakni: secara konvensional tulis tangan lalu dikumpulkan secara kolektif kepada guru atau alternatif menggunakan Ms.Word lalu mengirimkannya via email kepada gurunya.

Komplemen
Peserta didik melakukan pretest menjelang UAS dengan cara mengomentari postingan blog yang ada kaitannya dengan mata pelajaran yang sudah diterapkan secara konvensional di kelas. Contohnya: tugas mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia via komentar di Blog pribadi dosen saya seperti gambar di bawah ini:

Gambar 1.3 tugas komentar di blog

Substitusi
Dalam kegiatan belajar mengajar tentunya seorang guru apalagi dosen memiliki agenda tambahan yang mengharuskan ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk jangka waktu tertentu, sehingga banyak materi pelajaran yang belum tersampaikan maka alternatifnya yakni e-learning berperan sebagai media yang menyediakan materi-materi dalam bentuk softcopy yang dapat didownload peserta didik kapan saja dan di mana saja asal terdapat koneksi internet. Sehingga ketertinggalan materi tadi dapat teratasi.

Gambar 1.4 file materi dalam bentuk softcopy

Apa saja keunggulan e-learning?

Baik bagi pendidik (Guru, Dosen) maupun bagi peserta didik (Siswa, Mahasiswa)

(1)       Fleksibel
Artinya memungkinkan pembelajaran dilakukan di mana saja dan kapan saja. Selain itu dengan adanya materi yang disajikan bukan dalam bentuk buku (hardcopy) akan tetapi file softcopy yang biasanya disimpan dalam (CD, flash disc) sehingga mudah dibawa kemana saja tanpa beban berat dibanding membawa buku dalam jumlah banyak.

Gambar 1.5 flash disc

(2)       Menarik
Dengan media pembelajaran yang tidak hanya monoton, seorang Guru menerangkan di depan kelas, sedangkan murid mendengarkan maka e-learning hadir dengan berbagai opsi, misal: gambar, animasi, audio, video, bahkan permainan (game), sehingga peseta didik akan terhindar dari kejenuhan.

(3)       Murah
Walaupun dalam pengadaan awal membutuhkan perangkat dengan biaya yang tak murah akan tetapi dalam hal pemanfaatan dan pengoperasian dalam jangka waktu yang panjang sangatlah murah. Kita analogikan saja seperti ini. Dalam pelajaran geografi, membutuhkan banyak literatur baik buku pelajaran maupun penelitian langsung di lapangan. Akan tetapi dengan adanya e-learning, Guru dapat memberikan sumber referensi melalui blog pribadi yang di dalamnya terdapat kumpulan materi dalam bentuk softcopy maupun video pembelajaran yang ada kaitannya dengan tujuan pembelajaran. Sehingga biaya yang dikeluarkan dapat diminimalisir.

(4)       Efisiensi Waktu
Di era globalisasi seperti sekarang, manajemen waktu yang baik sangat diperlukan. Termasuk dalam memperoleh sumber informasi maupun materi pelajaran. Seperti jangka waktu 2x50 menit setiap mata kuliah dirasa kurang optimal apabila materi hanya disampaikan secara konvensional, maka e-learning berperan sebagai komplemen yakni melengkapi materi yang telah diajarkan pada saat tatap muka di kelas. Sedangkan dalam hal ini dibutuhkan seorang pendidik baik guru maupun dosen yang sedikit mengetahui ketrampilan dalam hal mengotak-atik e-learning, agar materi pelengkap tersebut dapat diterima peserta didik secara optimal.

(5)       Pendukung Program Paperless Policy
Dampak pemanasan global tentunya sedikit banyak sudah dapat kita rasakan, misal: musim tak menentu, banjir rob, dan suhu meningkat. Sehingga perlu adanya langkah cerdas untuk sedikit mengatasi hal tersebut. Berawal dari salah satu pilar konservasi yang diterapkan di kampus saya yakni kebijakan pengurangan pemakaian kertas atau yang dikenal dengan istilah Paperless Policy, dengan adanya kegiatan pembelajaran baik dimulai dari pemesanan mata kuliah, input presensi harian, input nilai, dan pengumuman indeks prestasi kumulatif dilakukan berbasis IT, yakni yang lebih akrab dikenal dengan nama “Sikadu” (Sistem Informasi Akademik Terpadu). Sehingga pemakaian kertas yang sumbernya berasal dari pohon dapat kita minimalisir. Sehingga sedikit banyak berkontribusi dalam mengatasi pemanasan global.

Gambar 1.6 Sikadu

Apa saja kendala dalam pemanfaatan e-learning?

(1)       Keterbatasan sarana prasarana
Tentunya e-learning dapat beroperasi dengan adanya perangkat pendukung baik mulai dari seperangkat komputer, jaringan internet, laptop, PC tablet, maupun LCD Proyektor. Sehingga memang dibutuhkan modal besar di awal dan pengadaan dalam jumlah yang masal apalagi bila sasarannya diimplementasikan pada instansi tertentu, misal: sekolah, kampus, maupun kantor pemerintahan.

(2)       Koneksi internet yang belum merakyat
Apabila seluruh perangkat pendukung telah terpenuhi, maka koneksi internet vital peranannya. Pernah pengalaman saya mengalami keterlambatan dalam pemesanan mata kuliah semester 3 ini dikarenakan koneksi gangguan internet saat berada di kampung halaman. Sehingga akan sia-sia saja perangkat lengkap tanpa adanya koneksi internet. Karena pada dasarnya hampir dari keseluruhan sistem e-learning bergantung pada internet.

(3)       Kompetensi SDM yang menguasai e-learning dan perangkat pendukung
Perangkat pendukung sudah, koneksi internet lancar, hal yang dibutuhkan setelah kedua komponen tersebut terpenuhi adalah SDM yang kompeten dan menguasai segala sesuatu yang ada kaitannya dengan perangkat komputer dan sistem e-learning.

Gambar 1.7 BPTIK kampusku


Kembali pada masalah pribadi saya yang mengalami keterlambatan pada pemesanan mata kuliah tadi, sehingga perlu adanya koordinasi dengan operator sistem teknologi pusat kampus yang bernama BPTIK. Balik lagi pada prinsip suatu sistem teknologi yang tidak memandang suku, ras, agama, maupun alasan-alasan klasik seperti koneksi internet yang buruk. Secara otomatis sistem tadi akan tetap mengunci apa yang telah kita input dan menyimpan data apa saja yang telah kita inputkan. Sehingga butuh SDM yang betul-betul melek teknologi dan kompeten dibidangnya.

(4)       Aksesibititas jalan daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal
Masalah infrastruktur yang penting peranannya dalam pendistribusian perangkat komputer pada daerah yang terpencil, terdepan, dan tertinggal seperti daerah yang ada di pedalaman Kalimantan maupun Papua yakni kondisi aksesibilitas jalan yang rusak, dengan medan yang berat, serta akan semakin parah saat musim penghujan. 

Gambar 1.8 jalanan rusak

(5)       E-learning pada pelajaran khusus
Keunggulan e-learning dalam hal efektivitas memang sudah tidak dipertanyakan, akan tetapi pada pelajaran tertentu yang memerlukan interaksi intensif tatap muka dan konsultasi, misalnya: ilmu sosial tertentu, dan bimbingan konseling.
Sehingga e-learning di sini berperan sebagai komplemen (pelengkap), apabila dirasa pembelajaran tatap muka belum lengkap atau keterbatasan waktu maka dibutuhkan pelajaran pelengkap.

Peran Saya (di sini sebagai Mahasiswa/Peserta Didik)

(1)       Mengoptimalkan e-learning yang sudah ada
Dalam artian menggunakan e-learning sebagai suplemen, komplemen, maupun substitusi sesuai dengan kondisi yang diterapkan oleh mata kuliah tertentu.

(2)       Mempelajari e-learning sebagai calon pendidik
Sebagai mahasiswa yang kuliah di jurusan kependidikan maka sudah barang tentu wajib mempelajari e-learning lebih dalam. Apalagi dengan kemajuan teknologi, informasi apa saja yang kaitannya dengan pemanfaatan teknologi sudah sangat lengkap dan dapat dipelajari kapan saja tinggal niat dan tekad untuk menekuninya.

Gambar 1.9 browsing penggunaan emodo

(3)       Menggunakan sistem e-learning sebagai pendukung kebijakan Paperless Policy
Sebagai perwujudan pilar konservasi yang diterapkan di kampus saya maka penggunaan e-learning ini diharapkan menekan laju pemakaian kertas yang berlebihan. Maka pengumupulan tugas lebih baik via email, komentar di blog maupun dengan menggunakan flash disc kelas. Yang sudah diterapkan dalam mata kuliah TIK.

(4)       Mengenalkan e-learning pada orang terdekat
Karena tidak semua orang mengetahui komputer apalagi internet, maka saya berkewajiban mengenalkannya kepada orang terdekat saya. Seperti contohnya orang tua saya, bagaimana cara mengoperasikan laptop, mengetik di Ms Word, maupun browsing berita via internet. Sehingga sedikit demi sedikit ilmu yang telah saya peroleh dapat termanfaatkan, walaupun dalam lingkup yang sempit.

(5)       Menggunakan e-learning secara bijaksana
Tentunya teknologi juga memiliki dua sisi seperti pisau yakni: terkadang memberikan keunggulan dalam hal efektivitas akan tetapi dalam penggunaan yang kurang bijak dapat berdampak buruk. Sehingga perlu adanya kontrol diri dalam penggunaannya. Misal: fasilitas wifi (akses internet secara gratis) di kampus saya selama 24 jam non stop, sehingga informasi apa saja dapat kita peroleh termasuk ketika hari libur, sehingga banyak mahasiswa yang mengakses situs apa saja, baik itu jejaring sosial, mencari literatur untuk tugas, game online, bahkan berjualan secara online, sehingga kontrol diri tadi diharapkan dapat meminimalisir hal-hal buruk yang sangat mungkin bisa terjadi apabila dari penggunaan teknologi yang tidak bijak.

Pada dasarnya teknologi akan memberikan feedback baik apabila kita bijak menggunakannya, begitu sebaliknya.

Gambar pada artikel di atas merupakan koleksi pribadi.
Tulisan ini diikutkan dalam lomba Blog Pendidikan XL


FB Page Indonesia Berprestasi : Facebook Indonesia Berprestasi









Selasa, 10 Desember 2013

             A.    Judul
            “SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card
             Edukasi Seks Bagi Anak-anak Melalui Permainan Kartu dengan Metode Ceria 
             sebagai Alternatif Langkah Preventif Waspada HIV AIDS di Lokalisasi Gang Dolly

Gambar 1.1 stop free sex

             B.     Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Sebelum era globalisasi, bangsa Indonesia terkenal dengan budaya ketimurannya yang sangat mengedepankan norma, nilai-nilai sosial serta budaya ewuh pakewuh (punya rasa malu), akan tetapi beberapa tahun belakangan ini norma dan nilai-nilai sosial yang dipegang teguh kian luntur, apalagi dengan adanya pengaruh negatif budaya kebarat-baratan (westernisasi).
Hal ini amat berpengaruh pada pergaulan para remaja yang semakin bebas. Sehingga budaya seks bebas (free sex) dipandang suatu hal yang wajar apabila dari kedua pihak setuju berdasarkan asas suka sama suka. Selain itu akses internet dan jejaring sosial yang kian mudah didapatkan tanpa adanya filter yang jelas sedikit banyak menyumbang aksi seks bebas tadi. Bayangkan, secara kasarnya anak-anak SD pun dapat mengakses situs-situs porno dengan mudah kapan saja dan dimana saja baik itu via telepon genggam, laptop, maupun warung internet.
Akibatnya budaya seks bebas kian marak. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2007 terhadap 4500 remaja di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan 97% pernah menonton situs porno, 93,7% pernah ciuman, petting, dan oral sex, 62,7% remaja SMP pernah berhubungan seks dan 21,2% siswi SMA pernah aborsi.
Berdasarkan survei tadi 62,7% pelajar SMP pernah berhubungan seks, hal ini tentunya menimbulkan beberapa masalah baru diantaranya: PMS (Penyakit Menular Seksual), praktik aborsi hingga penyebaran virus HIV AIDS. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada akhir Juni 2010 tercatat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1%.
Hal ini semakin parah apalagi di kota-kota besar seperti Surabaya, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2011 terdapat 811 kasus HIV AIDS 161 kasus berasal dari Pekerja Seks Komersial. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Surabaya tepatnya di kawasan Gang Dolly yang notabene menjadi lokalisasi yang disebut-sebut terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang bahkan mengalahkan lokalisasi lain seperti Patpong (Thailand) dan Geiyang (Singapura).
Sejarah Dolly sendiri sejak jaman Belanda yaitu berawal dari wanita keturunan Belanda yang menetap di Surabaya bernama Dolly Van De Mart yang menyulap area pemakaman menjadi lokalisasi yang dikhususnya untuk tentara Belanda, akan tetapi seiring berjalannya waktu tempat tersebut terbuka untuk umum termasuk para pribumi, saudagar hingga turis mancanegara sehingga banyak orang yang bertumpu perekonomiannya pada Gang Dolly mulai dari tukang parkir, laundry, pedagang kaki lima, pemilik losmen, hingga hotel.
Konsekuensi dari lokalisasi Dolly tersebut tentunya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat dewasa, akan tetapi dirasakan pula oleh remaja dan anak-anak sekitar. Sehingga perlu adanya edukasi seks yang benar yang disesuaikan dengan usia mereka. Yang tujuan jangka panjangnya dapat mengurangi resiko penyakit HIV AIDS yang banyak menyerang orang di sekitar mereka.
Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dengan media permainan kartu yaitu “SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card Edukasi Seks Bagi Anak-anak Melalui Permainan Kartu dengan Metode Ceria sebagai Alternatif Langkah Preventif Waspada HIV AIDS di Lokalisasi Gang Dolly. Diharapkan selain bertujuan memberikan pendidikan seks sejak dini agar terhindar virus HIV AIDS termasuk proses penularannya serta sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekitar yang merupakan tujuan dari 3 pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, Penelitian, dan pengabdian masyarakat.
2.      Rumusan Masalah
a. Bagaimana memberikan edukasi seks sejak dini bagi anak-anak yang hidup di lingkungan lokalisasi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa?
b. Bagaimana mengombinasikan edukasi seks dengan permainan konvensional anti individualistis?
c. Bagaimana metode tersebut dapat diterapkan pada anak-anak yang jangka panjangnya untuk mencegah HIV AIDS?
3.      Tujuan Penulisan
a. Sosialisasi edukasi seks melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan lokalisasi.
b. Menghidupkan kembali permainan konvensional yang syarat akan kebersamaan.
c. Langkah preventif untuk mencegah HIV AIDS pada generasi muda di Gang Dolly, Surabaya.
               C.    Pembahasan
1.      Pemahaman mengenai Seks bebas, HIV AIDS, dan Edukasi Seks
a.       Seks Bebas (Free Sex)

Gambar 1.2 stop free sex
Definisi seks bebas menurut (Sarwono, 2000) adalah tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku. Tingkah laku ini beranekaragam, mulai dari saling tertarik dengan lawan jenis, lalu berkecan, bercumbu dan diakhiri dengan dampak yang tidak baik, lalu akhirnya dampak tersebut akan timbul baik bagi lingkungan, sosial, maupun pribadi terutama sangat berdampak pada psikologis. Jika lingkungan psikologis terganggu maka sosial pun akan berubah.
Berdasarkan definisi di atas pengaruh lingkungan cukup berperan penting, apalagi kontrol yang lemah dari keluarga maupun lingkungan sekitar membuat seseorang dengan bebasnya melakukan seks bebas khususnya mereka yang hidup di kota besar seorang diri dan jauh dari orang tua. Apalagi pengaruh lingkungan lokalisasi yang sudah jelas menghadapkan anak-anak dan remaja setiap harinya untuk terpaksa menyaksikan perilaku maupun tata cara berbusana yang tak sepatutnya.
b.      HIV AIDS

Gambar 1.3 cegah HIV AIDS
Pengetahuan remaja tentang HIV AIDS masih cukup rendah, berdasarkan suvei yang dilakukan oleh SKRRI pada tahun 2002, tercatat hanya 42% mengetahui HIV AIDS. Definisi HIV AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem imun (kekebalan tubuh) yang ditularkan melalui beberapa cairan, sehingga orang yang terjangkit virus HIV apabila terkena penyakit sekalipun itu penyakit sederhana seperti flu, batuk, luka lecet dapat berakibat fatal karena sistem imun mereka amat lemah. HIV AIDS sendiri dapat menular melalui 3 cairan, yakni:
1.      Darah (melalui jarum suntik, tindik, tato yang tidak steril dan terkontaminasi HIV).
2.      ASI (proses menyusui ibu yang terkontaminasi virus HIV AIDS terhadap bayinya).
3.      Cairan kelamin (sperma dan vagina).
c.       Edukasi Seks (Sex Education)

Gambar 1.3 edukasi seks
Adalah Suatu bentuk pendidikan seks yang baik dan benar yang di dalamnya berisikan apa itu seks, bagaimana seks bisa terjadi, bahaya yang ditimbulkan seks bebas, penyakit kelamin yang diakibatkan seks bebas serta termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai HIV AIDS dan penularannya.
Edukasi seks merupakan langkah pencegahan yang efektif untuk mengurangi angka seks bebas yang kian memprihatinkan di Indonesia, khususnya bagi mereka generasi muda penerus bangsa. Hal ini bisa dilakukan melalui materi pembelajaran di sekolah, seminar kesehatan, poster dan spanduk, gerakan anti seks bebas maupun melalui permainan konvensional yang menarik bagi anak-anak dan remaja pada khususnya.
2.      Deskripsi Kegiatan
a.       Definisi Program
“SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card adalah bentuk edukasi seks sederhana yang dilakukan oleh mahasiswa melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dalam bentuk permainan kartu dengan metode ceria kepada anak-anak dan remaja di kawasan lokalisasi Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur sebagai alternatif langkah pencegahan seks bebas dan HIV AIDS beserta pemahamannya.
b.      Pelaku
Mahasiswa yang tengah menjalankan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat sesuai dengan 3 pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Selain itu bentuk kontribusi nyata ini diharapkan untuk mengurangi paradigma negatif masyarakat terhadap citra buruk mahasiswa kini seperti tawuran, demonstrasi yang berakhir ricuh, dan aksi kriminalitas yang sama sekali tidak mencerminkan hakikat mahasiswa itu sendiri.

Gambar 1.4 mahasiswa
Program ini dilakukan saat mahasiswa melakukan kegiatan KKN, pada awalnya mahasiswa memberikan sosialisasi kepada para anak-anak dan remaja di Gang Dolly, Surabaya mengenai pemahaman seks bebas, HIV AIDS dan penularannya, setelah itu mahasiswa mengenalkan apa itu “SANTOS CARD” dan bagaimana cara memainkannya, tentunya program ini memerlukan dukungan dari beberapa lini baik itu masyarakat sekitar Gang Dolly itu sendiri maupun Pemerintah.
c.       Sasaran
Kegiatan ini ditujukan pada anak-anak hingga remaja, karena sifat ingin tahu mereka sangat tinggi, apalagi pasaran gadget menyerang mereka dengan mudah, sehingga segala informasi di internet khususnya jejaring sosial dapat mereka akses baik itu yang positif maupun hal-hal yang negatif. Pada dasarnya langkah preventif sangat tepat dilakukan sebelum anak-anak dan remaja tersebut terjerumus dalam seks bebas dan HIV AIDS.

Gambar 1.5 anak-anak
Selain itu masa anak-anak adalah masa bermain dan belajar, sehingga bentuk edukasi seks melalui permainan kartu diharapkan dapat diterima mereka sesuai dengan usia dan tingkat penalaran yang masih sederhana. Dibanding melalui seminar maupun program konseling yang membutuhkan waktu dan penanganan yang khusus.
d.      Lokasi
Berdasarkan survei dari Dinas Kesehatan Surabaya yang menghasilkan angka yang cukup mencengangkan yaitu 811 kasus HIV AIDS pada tahun 2011, sehingga program ini akan lebih efektif dan efisien apabila diaplikasikan di kawasan lokalisasi Gang Dolly, Kota Surabaya, Jawa Timur. Sebagai edukasi seks bagi anak-anak dan remaja yang sejak kecil tumbuh dan mungkin sudah akrab dengan lingkungan prostitusi.
Sehingga pengaruh buruk yang sudah melekat dari lingkungan sekitar diharapkan sedikit ternetralisir dengan adanya kegiatan edukasi seks melalui permainan kartu yang dilakukan oleh para mahasiswa yang tengah melakukan kegiatan KKN di wilayah tersebut.
e.       Produk
“SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card yaitu berupa permainan kartu sederhana mengenai edukasi seks dan pemahamannya yang di dalamnya terdapat komponen gambar, pesan dari gambar tersebut, dan point yang menentukan kalah menangnya pemain kartu tersebut.


Gambar 1.6 dan 1.7 Santos Card
f.       Metode Ceria (Cerdas, Riang, dan Anti Individualistis)
1.      Cerdas
Permainan kartu dengan konten gambar dan pesan mengenai edukasi seks serta pengetahuan HIV AIDS dan penularannya diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan anak-anak dan remaja yang tumbuh di lokalisasi Gang Dolly, Surabaya. Sehingga mereka dapat tumbuh cerdas dan mengenal seks secara benar dan tepat sesuai usia dan penalaran mereka yang masih sederhana.
2.      Riang
Permainan kartu ini diharapkan dapat menciptakan suasana riang gembira bagi anak-anak dan remaja yang sedang memainkannya. Dengan gambar yang variatif dan edukatif bertujuan untuk menghindari kebosanan anak-anak terhadap permainan konvensional pada umumnya, sehingga Santos Card diharapkan menghidupkan kembali permainan konvensional yang kian ditinggalkan akibat menjamurnya permainan digital (PSP, Game Online, dan Gadget)
3.      Anti Individualistis
Karena dimainkan oleh beberapa orang, sehingga Santos Card diharapkan dapat memupuk rasa solidaritas dan kebersamaan selain itu menghindari permainan yang bersifat individualistis seperti permainan digital yang berpengaruh pada pembentukan karakter individualistis yang seakan-akan tidak membutuhkan orang lain. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang artinya tidak dapat hidup sendiri melainkan membutuhkan bantuan orang lain.
Contoh:
- Seorang anak yang tumbuh di lingkungan perumahan yang setiap harinya akrab dengan game online otomatis anak tersebut tumbuh menjadi pribadi individualis yang berdampak pada susahnya bergaul terhadap lingkungan yang baru.
- Bandingkan dengan anak yang tumbuh di lingkungan perkampungan yang setiap harinya akrab dengan permainan tradisional syarat kebersamaan seperti: kelereng, layang-layang, dan petak umpet. Sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.
g.      Mekanisme Permainan
Permainan Santos Card terdiri dari 5 anak yaitu seorang anak sebagai juri (Santos Judges) dan 4 anak sebagai pemain (Santoser). Di sini juri memiliki 40 Santos Card, setiap kartunya terdapat komponen gambar, dua digit poin, dan pesan dari gambar tersebut. Kemudian Santos Judges mengocok seluruh santos card dan kemudian membaginya secara adil ke masing-masing anak, setiap anak mendapatkan kartu sebanyak 10 buah.
Mekanisme permainannya setiap Santoser wajib mengocok kartu sebelum permainan dimulai. Kemudian setiap anak memasang satu kartu terserah sesuai keinginan. Lalu memberi umpan satu kartu ke Santoser yang lain. Setiap kartu terdiri dari 2 digit poin (00-99) dimana yang diikutkan dalam perhitungan yaitu 1 digit belakang dari hasil penjumlahan.
Misalnya: kartu si A yaitu 09 dengan 46 maka skorenya adalah 09 + 46 = 55, dengan kata lain skore anak tersebut adalah 5. Skore sendiri dimulai dari angka 0 sampai 9, dimana skore 0 adalah skore terendah dan 9 adalah skore tertinggi.
Dari ke empat anak tersebut Santoser dengan skore tertinggi yang sementara menjadi pemenang, sedangkan ke tiga Santoser yang kalah wajib menyerahkan kedua kartunya kepada Santos Judges. Dan berkewajiban membacakan pesan yang ada di kartunya sebanyak 3 kali.
Begitu seterusnya sampai tersisa kartu Santos terbanyak dari Santoser, maka dialah yang keluar sebagai pemenang dengan penetapan dari Santos Judges terlebih dahulu. Sebenarnya banyak tipe dari permainan kartu, mekanisme permainan di atas hanya salah satu contoh dari permainan kartu itu sendiri. Dapat dikreasikan sesuai keinginan anak-anak seperti: tiup kartu, efek domino, dan acak kartu.
3.      Tujuan
a.       Mengenalkan edukasi seks untuk anak-anak dan remaja melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di lokalisasi Gang Dolly.
b.      Menghidupkan kembali permainan konvensional syarat kebersamaan yang kian ditinggalkan.
c.       Mengurangi karakter individualistis anak-anak yang lebih memilih permainan digital dibanding permainan tradisional.
d.      Menetralisir pengaruh buruk di kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.
e.       Menanamkan pemahaman mengenai seks bebas, HIV AIDS dan penularannya.
f.       Sebagai langkah pencegahan (preventif) HIV AIDS pada generasi muda penerus bangsa di lokalisasi Gang Dolly, Surabaya.
g.      Sebagai bentuk kontribusi yang nyata yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata).
h.      Mengurangi persepsi masyarakat terhadap eksistensi mahasiswa yang akhir-akhir ini sedikit dipandang buruk akibat kasus tawuran, demonstrasi anarkis, dan kasus kriminal yang pada hakikatnya bukan mencirikan eksistensi mahasiswa.
               D.    Penutup
1.      Simpulan
Berawal dari masalah seks bebas yang kian hari kian memprihatinkan di Indonesia apalagi dengan adanya akses informasi yang dapat diakses secara leluasa oleh semua kalangan khususnya anak-anak dan remaja sehingga perlu adanya langkah preventif yang tujuannya memberikan edukasi seks yang tepat bagi anak-anak dan remaja agar tidak terjerumus ke dalam pengaruh negatif budaya barat yaitu seks bebas yang dampaknya terjangkit virus HIV AIDS.
Untuk itu perlu adanya langkah pencegahan yaitu berupa “SANTOS CARD” Say No to Free Sex Card adalah bentuk edukasi seks sederhana yang dilakukan oleh mahasiswa melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dalam bentuk permainan kartu dengan metode ceria kepada anak-anak dan remaja di kawasan lokalisasi Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur sebagai alternatif langkah pencegahan seks bebas dan HIV AIDS beserta pemahamannya.
Hal ini bertujuan memberikan pemahaman seks sejak dini bagi anak-anak di lingkungan lokalisasi agar mengetahui seks sesuai dengan usia dan penalaran mereka yang masih sederhana, dengan metode permainan kartu diharapkan menghidupkan kembali permainan konvensional syarat kebersamaan sehingga karekter individualistis dari permainan digital dapat sedikit terkurangi, selain itu sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa melalui kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang merupakan 3 pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
2.      Saran
Kegiatan ini akan berjalan secara maksimal tentunya dengan peran serta oleh masyarakat Surabaya, Pemerintah Daerah, maupun Pemerintah Pusat untuk mencanangkan generasi muda penerus bangsa anti seks bebas. Tidak serta merta menghilangkan secara keseluruhan akan tetapi sedikit demi sedikit dapat dikurangi dengan langkah-langkah preventif (pencegahan) secara sederhana.
Sudah barang tentu tulisan dan program ini masih banyak terdapat kesalahan, untuk itu penulis mohon maaf dan sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Semoga kegiatan tersebut dapat terealisasi dan dapat berjalan dengan maksimal dengan adanya dukungan dari segala lini. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih terhadap semua buku maupun sumber dari internet yang sudah menjadi referensi demi terselesaikannya tulisan ini.

                                                    Daftar Pustaka

Dianawati, A. 2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta:
Kawan Pustaka
Surtiretna, N. 2001. Bimbingan Seks bagi Remaja. Bandung: Remaja
Rosdakarya                 
Tjokronegoro, Arjatmo dan Hendra. 2003. Penyakit Menular
Seksual. Jakarta: Balai Penerbit FK UI
Hakiki. 1999. Jejak Pelacur Anak di Gang Dolly. Surabaya: Lutfarisah
Print
Dharmamulya, Sukirman dkk. 2008. Permainan Tradisional Jawa.
Yogyakarta: Penerbit kepel Press Puri arsita A-6
Rusdi Amral. 2013. Kontroversi Lampu Merah di Surabaya. (Online).
            Alfian. 2013. Tri Dharma Perguruan Tinggi.(Online).
            Redaksi Tempo. 2013. Nasib Bayi yang Lahir di Lokalisasi. (Online).
Riyan Galih. 2009. Bahaya Free Sex. (Online).

sex/) Diakses pada Jumat 6 Desember 2013 22.17

Tulisan di atas diikutkan Lomba Menulis Blog yang diadakan oleh Blog FPKR (Forum                     Peduli Kesehatan Rakyat) dengan alamat blognya : www.blogfpkr.wordpress.com