Senin, 13 Januari 2014

Mangrove Cinta di Pulau Bawean

Mangrove Cinta di Pulau Bawean


       “Berawal dari kegiataan KKL semester genap ke pulau Bawean selama 3 hari, Bobipun akhirnya bertemu dengan gadis yang tengah menanam mangrove, hal ini bertujuan untuk membantu menyelesaikan tugas paper,maka ia, Gea dan Gilang meminta bantuan pada gadis itu untuk dijadikan sebagai responden. Akhirnya Bobipun memberanikan nyalinya untuk menembak gadis tersebut yang bernama Nia dan Niapun menerimanya, akan tetapi konflikpun terjadi karena sebenarnya sudah sejak lama Gea memendam perasaan cintanya pada Bobi. Tapi dengan wajah polos Bobi tak tau menau apa yang tengah Gea pendam tanpa penjelasan dari Gilang, namun akhirnya berkat hati emas Gea, ia pun rela mengorbankan perasaannya demi melihat sahabat baiknya bahagia dengan gadis incarannya. Dan setelah KKL itu berakhir, hubungan yang dilandasi oles kesetiaanpun tetap terjaga dengan LDR “Long Distance Relationship” serta komitmen yang kuat dari keduanya”.
Terik matahari yang menyengat kulit itupun mengiringi perjalanan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) rombongan mahasiswa salah satu kampus di Surabaya. Ditambah perjalanan yang telah mereka tempuh selama 2 jam setengah itu tak juga mengantarkannya ke pulau yang akan menjadi destinasi kegiatan rutin yang dilakukan mahasiswa setiap semester genap ini. Desiran ombak yang memecah dinding-dinding kapal yang mereka tumpangi menambah sensasi dalam menerjang laut utara pulau jawa ini.
          Bawean, nama pulau kecil yang akan jadi tempat penelitian, petualangan maupun bakti sosial oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang masih duduk di semester dua ini. Pulau kecil yang eksotis yang secara administratif  masuk ke dalam Kabupaten Gresik ini akan di tempati mereka selama 3 hari berturut-turut. Raut muka kecapean terlebih-lebih setelah beberapa jam dari Surabaya menuju Gresik menaiki bus ditambah transportasi laut yang membuat mereka semakin didera kelelahan.
          Bobi, cowok yang tengah asyik memainkan gadgetnya sembari menyenderkan tubuhnya di kursi tepat di belakang nahkoda ini seakan merasa biasa saja dengan situasi dan keadaan ini pasalnya cowok yang masih baru menginjk 19 tahun ini sering bepergian jauh dengan pesawat maupun kapal. Sehingga raut mukanya tak memperlihatkan kekhawatiran seperti teman-temannya yang lain.
          “Bob, kamu nggak capek dengan perjalanan ini?” tanya Gea keheranan melihat gelagat Bobi yang baik-baik saja.
          “Ehhh, Gea… biasa aja kog, soalnya aku sering naik kapal sebelumnya jadi ya seperti yang kamu lihat aku nggak ngerasa kecapean maupun mabok laut”, ujar Bobi pada Gea
          “Oh, jadi gitu tho Bob, syukurlah”, ujar Gea.
          Setelah 3 jam perjalanan akhirnya rombonganpun sampai di dermaga pulau Bawean. Panorama pantai pasir putih yang indah, gelombang yang memecah bebatuan karang, bukit-bukit yang tinggi menjulang di balik pantai, maupun jajaran tanaman mangrove (bakau) terhampar di depan puluhan pasang bola mata. Seolah-olah penat dan lelah yang telah mereka rasakan sekejap saat itupun hilang ternetralisir oleh keajaiban yang disuguhkan pulau nan indah itu.
          “Wow….”, satu kata yang keluar dari mulut Bobi.
          “Gilaaa… cantik benar pemandangannya”, sahut Gea yang seakan menambah ketakjuban Bobi.
          Mereka berdua merupakan sahabat dekat semenjak semester satu yang sering dipersatukan oleh tugas-tugas kelompok, pasalnya NIM (Nomor Induk Mahasiswa) mereka berdekatan. Gea sedikit menaruh perasaan terhadap Bobi yang notabene menjadi komting di rombelnya itu. Akan tetapi gadis ini seakan memendam rasanya itu demi persahabatan yang telah ia jalin dengan baik dengan Bobi. Gea tak ingin semuanya hancur ketika ia berani melontarkan kata “I Love You” pada Bobi. Dia piker masih bisa berada di dekat cowok ini dengan status sahabat baik saja sudah bersyukur. Pasalnya Bobi berkarakter cerdas, sopan dan juga menghargai sosok wanita. Jadi Gea akan selalu nyaman bila berada di sampingnya.
          Setelah turun dari kapal, merekapun diantarkan oleh tour guide menuju kamar penginapannya masing-masih. Bobi mendapat jatah sekamar dengan Gilang yang kebetulan teman akrabnya di rombel.
          “Yaudah, kalian masuk ke kamar masing-masing dan istirahat sejenak, nanti pukul 16.00 kumpul di aula dekat pantai untuk penyuluhan”, ujar Bu Alya yang merupakan dosen rombongan mahasiswa tersebut.
          “Baik Bu…..”, seru rombongan mahasiswa.
          Setelah istirahat yang kemudian dilanjutkan penyuluhan rombonganpun akhirnya dibubarkan untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar pantai untuk mengenal lebih dekat pulau yang memiliki buah merah yang khas ini. Bobi, Gilang dan Gea merupakan satu kelompok jadi mereka memutuskan untuk mengamati keindahan dan fenomena yang terdapat di pantai tersebut secara bersama-sama. Merekapun terlibat perbincangan ringan sembari menginjakan telapak kakinya di pasir halus pantai tersebut.
          “Kira-kira penduduk sini ada yang seusia kita nggak ya?”, ujar Gilang membuka pembicaraan pada mereka berdua.
          “Ya pasti adalah, kemarin kan udah dijelasin sama Bu Alya, pulau ini dihuni oleh kurang lebih 70.000 jiwa, tapi mayoritas cewek penghuninya, karena kebanyakan pemudanya pada jadi TKI di Malaysia dan Singapura”, jelas Bobi pada Gilang sambil sesekali memerhatikan gadis yang tengah sibuk dengan mangrovenya itu.
          “Hebat bener kamu Bob, masih ingat detail banget pula”, ujar Gilang yang tengah keheranan pada sahabatnya yang cerdas ini.
          Tanpa sepatah katapun Gea lontarkan, hanya senyum sekedarnya.
          “Ciyeee… kamu kenapa Yak kog senyum-senyum gitu, perasaan Bobi yang mendapat pujian, atau jangan-jangan…?” belum sempat diselesaikan oleh Gilang, Geapun langsung memutus kalimat yang Gilang lontarkan.
          “Apaan sih Lang, aku cuma terkagum-kagum aja kog sama panorama yang ada disini” sahut Gea mencoba menepis apa yang hendak Gilang tuduhkan.
          Tanpa berkomentar Bobipun asyik memerhatikan gerak gerik cewek yang tengah menanam mangrove tersebut.
          Tiba-tiba dari jauh terdengar suara yang memanggil-mangil nama Gea bahwa Ayahnya menelponnya. Dan Geapun ijin kepada mereka berdua untuk kembali ke penginapan dan sesegera mengangkat telepon dari ayahnya.
          “Bentar Yak, aku antar ya?” ujar Gilang
          “Nggak usah Lang, ntar Bobi sendirian nggak ada yang nemenin”, sahut Gea.
          “Aku nggak papa kog Yak, mending kamu dianterin Gilang deh, Lang cepet anterin Gea gih… aku masih mau jalan-jalan dulu sambil nunggu sunset”, ujar Bobi.
          Akhirnya Bobipun sendirian dan mencoba mendekati gadis yang telah diperhatikannya tadi. Dengan langkah pelan ia mencoba memberanikan nyalinya untuk sekedar bertanya-tanya mengenai pulau Bawean. Dan sampailah Bobi tepat 1 meter di hadapan gadis itu.
          “Maaf, kalau boleh tau kamu sedang ngapain ya?” Tanya Bobi penasaran.
          “Sedang nanam mangrovelah masa sedang masak”, jawab gadis yang memakai baju lengan panjang yang telah ia lipat di bagian lengannya itu agar tidak kotor terkena lumpur.
          “Hehehe iyaya, nama kamu siapa?” modus Bobi.
          “Nia, kamu sendiri siapa?”, jawab gadis berjilbab itu.
          “Perkenalkan aku Bobi, asal Surabaya, kampus kami sedang mengadakan KKL di pulau Bawean ini”, terang Bobi.
          “Ohh…”, sahut Nia yang tengah menyudahi penanaman mangrove itu. “Yaudah ya Bob aku pulang ke rumah dulu bentar lagi maghrib ntar Umiku nyariin aku.” Sahut Nia menimpali pernyataan yang telah ia lontarkan tadi.
          “Oke…oke, silahkan”, jawab Bobi yang tengah berbunga-bunga karena bisa berkenalan secara langsung gadis asli Bawean itu.
          Namun Bobi melihat jam tangan warna merah muda yang tergantung di sebelah tanaman mangrove tak jauh dari yang Nia tanam tadi.
          “Niaa… Niaa… ini jam tanganmu ketinggalan……”, teriak Bobi sekencang-kencangnya sembari berlari mengejar agar terdengar Nia yang telah hilang terpisahkan jarak. Namun ia kehilangan jejak dari gadis berparas cantik itu.
          “Pokoknya aku harus nemuin Nia, dan ngasih jam tangannya yang tertinggal ini”, ujar Bobi di dalam benaknya.
          Pertemuan di senja itu dihiasi oleh oleh rasa penasaran Bobi. Sunset yang tergores di langit senja yang dibingkai oleh segerombolan burung-burung yang tengah beranjak kembali ke peraduannya semakin menambah rasa penasaran cowok yang gemar memainkan gitar akustik ini.
          Bobipun kembali ke penginapan dengan memegang jam tangan yang kemungkinan besar milik Nia yang tertinggal usai menanam mangrove tadi.
          “Dari mana Bob, kog baru pulang”, tanya Gea pada Bobi yang tengah asyik memegangi jam tangan itu.
          “Ehhh Gea, dari hutan mangrove dekat pantai tempat kita jalan-jalan tadi Yak, oya ayahmu nelpon emang ada kabar apa?” ujar Bobi penasaran.
          “Nggak kog, Cuma nanyain kabar aku udah nyampe Bawean belum, maklumlah orangtua sedikit khawatir”, terang Gea.
          “Yaudah aku masuk kamarku dulu yam au mandi, badanku udah bau banget akibat jalan-jalan tadi”, kata Bobi.
          “Oh, iya Bob, silahkan…”, sahut Gea sambil matanya tertuju pada jam tangan yang dipegangi Bobi tadi.
          Haripun telah beranjak malam, hembusan angin laut seakan menusuk-nusuk tulang rusuk seakan dinginnya, akan tetapi keberadaan api unggun yang telah menyala di tengah-tengah lingkaran mahasiswa itupun sedikit memberikan kehangatan alami ditambah dengan riuh rendah suara nyanyian yang dilakukan per kelompok untuk pentas seni. Malam itupun berubah menjadi malam keakraban bagi semuanya, tepukan meriah, cekikikan candaan yang keluar memecah kesunyian yang ada di pulau Bawean.
          Tak lupa diskusi antar kelompokpun terselengggara demi mengkaji fenomena-fenomena keadaan Bawean baik secara fisik maupun sosialpun semakin menambah wawasan pengetahuan mereka. Tapi dalam benak Bobi yang terbesit di pikirannya hanyalah gadis penanam mangrove yang ia jumpai di dekat pantai senja tadi. Kemudian datang Bu Alya memecang suasana ramai ramaja-remaja itu.
          “Anak-anak untuk diskusi dan pentas seninya saya rasa sudah cukup, saya sudahi saja acara untuk mala mini, setelah ini kalian menuju ke kamar masing-masing untuk istirahat, besok pukul 05.00 kumpul di tempat biasa, terima kasih atas perhatiannya”, pengumuman yang Bu Alya sampaikan kepada para mahasiswa.
          “Oya, agenda besok pagi apa bu?”, sahut Gilang
          “Kita mengadakan bakti sosial yakni penanaman mangrove dan tugas kalian membuat paper apa saja yang ada kaitannya dengan mangrove, jadi kalian harus mewawancarai penduduk asli sini untuk menjadi responden mengenai tugas paper yang ibu berikan” jawab Bu Alya.
          “Yeahhh… I get it”, teriak Bobi dalam hati.
          Dalam benaknya dia tak perlu pusing-pusing mencari responden, cukup ke hutan mangrove dekat pantai dan menemui gadis yang baru ia kenal semenjak senja tadi.
          Kemudian rombongan itupun bubar dan beranjak meninggalkan tempat yang mereka jadikan pentas seni dan diskusi tadi untuk rehat semalam melonjorkan kakinya dan meregangkan otot-ototnya yang telah ia porsir selama seharian di perjalanan darat dan laut yang amat melelahkan.
          Bunyi adzan subuhpun telah berkumandang, setelah mandi dan menyelesaikan sholat yang dilanjut dengan sarapan, mereka langsung bergegas menuju hutan bakau yang telah mereka rencanakan tadi malam saat api unggun. Sesampai di hutan mangrove ternyata disana telah banyak orang asli sana dan juga para turis yang rencananya akan melakukan penanaman mangrove secara masal. Kelompok Bobipun melalukan penanaman mangrove.
          Kesegala penjuru mata Bobi gerakkan demi menemukan sesosok gadis yang ia temui senja kemarin namun tak dapat ia jumpai juga. Namun akhirnya sorot matanya tertuju pada gadis berjilbab yang tengah galau merenung di bebatuan karang tepat di pinggir pantai. Sepertinya jauh di dalam benaknya tengah memendam duka karena suatu hal. Tanpa berpikir panjang Bobipun menemui Nia dan duduk tepat di sebelahnya. Ia pun membuka perbincangan.
          “Maaf, kalau boleh tau kamu kenapa kog sendirian duduk disini, bukannya yang lain asyik dengan menanam mangrove”, Tanya Bobi sambil meluruskan kakinya di atas karang.
          “Jam tangan kesayanganku hilang, mungkin jatuh di hutan mangrove kemarin, padahal itu kenang-kenangan dari ibuku yang telah wafat 3 tahun lalu, dari tadi subuh udah aku cari, tapi nihil”, ujar Nia dengan raut muka yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya pada pemuda yang baru ia kenal.
          “Ohhh…. Ini bukan?” Tanya Bobi sembari mengeluarkan jam tangan dari saku celananya.
          “Alhamdulillah…., tapi kog bisa ada di kamu?” Tanya Nia keheranan.
          “Jadi giniloh kemarin aku nemuin jam tangan kesayanganmu itu tergantung di pohon bakau dekat tempat kita bertemu kemarin, nahh pas aku mau nyerahin ke kamu, kamunya udah jauh, jadi aku bawa ke penginapan”, terang Bobi.
          “Makasih banget ya Bob, walaupun hanya sebuah jam tangan yang bagi orang lain dianggap biasa akan tetapi bagiku adalah hal yang istimewa, sekali lagi makasih”, ujar Nia.
          “Makasih aja nggak cukup dong buat benda berharga ini, ehhh Nia, aku boleh minta bantuan nggak, buat sekedar nanya-nanya tentang mangrove ?”, ujar Bobi dengan nada pengharapan.
          “Boleh kog, sekarang?”, kata Nia sambil memakai jam tangan yang tak jadi hilang itu.
          “Iya, ayo gabung ke kelompokku ntar aku kenalin kedua teman baikku”, jawab Bobi.
          Kemudian merekapun beranjak dari bebatuan karang dan melangkahkan kakinya ke hutan mangrove yang terletak tak jauh dari tempat mereka tadi. Lalu Niapun dikenalkan dengan Gea dan Gilang yang tengah menantikan kehadiran Bobi. Setelah berkenalan merekapun satu persatu mewancarai Nia mengenai mangrove yang bakal jadi tugas paper.
          “Apa sih definisi dari Mangrove itu sendiri?” tanya  Gea.
          “Mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang besar. Sungai mengalirkan air tawar untuk mangrove dan pada saat pasang, pohon mangrove dikelilingi oleh air garam atau air payau”, jelas Nia.
          “Terus, manfaat dari mangrove apa saja?” tanya Gilang.
          “Seperti yang mungkin sudah kalian ketahui manfaat utama dari tanaman mangrove yakni mencegah adanya abrasi yang diakibatkan oleh gelombang laut, akan tetapi banyak manfaat yang bisa kita dapat dari tanaman ini, diantaranya: Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai , menjernihkan air , mengawali rantai makanan, melindungi dan memberi nutrisi, tempat menambat kapal, bahan Pembuat obat-obatan, bahan pengawet, bahan makanan, dan bahan bangunan.
          Setelah beberapa pertanyaan yang telah mereka lontarkan akhirnya lengkap sudah bahan buat paper. Bobipun merasa kagum dengan gadis yang seusianya ini, pengetahuannya tentang mangrove patut diacungi jempol. Kemudian Niapun ijin pulang untuk mengasuh adiknya yang masih balita.
          “Nia, makasih banget ya infonya”, ucap Bobi yang kemudian dilanjutkan oleh Gilang dan Gea.
          “Iya, sama-sama”, jawab Nia.
          “Aku antar sampe rumah ya sebagai tanda terima kasih dari kelompok kami”, ujar Bobi.
          “Baiklah, ayo”, sahut Nia.
          Akhirnya mereka berdua berjalan melewati jalan setapak dengan lebar 1 meter yang mungkin hanya bisa dilalui sepeda motor. Di sisi lain wajah Gea yang tidak bisa menyembunyikan raut muka cemburunya diketahui Gilang.
          “Ehm…ehm… ada yang cemburu nih?” ledek Gilang.
          “Apaan sih Gil, orang aku bukan siapa-siapanya Bobi juga, nggak masalah jika ia mau dekat dengan siapa aja” jawab Gea dengan nada yang sedikit kesal karena ledekan yang Gilang lontarkan.
          Sementara di sepanjang jalan Bobi dan Niapun terlibat perbincangan-perbincangan ringan seputar pulau Bawean dan kehidupannya di pulau yang berpenghuni 70.000 jiwa ini. Sampai-sampai Bobi sempat keceplosan menanyakan masalah asrama. Dan Niapun seakan tak tabu dan menjawab semua pertanyaan yang Bobi lontarkan kepadanya. Dan berujung pada satu pertanyaan pamungkas Bobi.
          “Nia, kamu udah punya pacar…?
          Tanpa kata-kata yang ia jawab diapun hanya menggelengkan kepalanya yang anggun berselimut jilbab warna putih itu.
          “Yes…yes…yes…” teriak dalam benak Bobi.
          “Mau nggak Nia jadi pacar Bobi, Bobi janji akan setia walaupun nantinya kita akan LDR “Long Distance Relationship”, terang Bobi dengan nada pengharapannya pada Nia.
          Sekali lagi Niapun tak berani menjawab dan seketika menghentikan langkahnya yang kemudian memfokuskan matanya yang tersorot tajam kea rah wajah Bobi. Seakan Bumi berhenti berotasi, Mataharipun bersorak gembira, dan ombak yang setia memecah kokohnya karangpun seakan berhenti sejenak menyaksikan saat Bobi ditatap tajam oleh gadis yang berpengetahuan baik mengenai mangrove ini. Bobipun diam menyambut tatapan mata Nia dan jantungnyapun berdetak kencang, aliran darahnya pun mengalir cepat. Rasanya dia sedang mimpi bertemu dengan artis idamannya.
          Anggukan yang Bobi dapat dari Nia yang secara otomatis mengisyaratkan bahwa ia diterima.
          “Se..se..rii..us..?” tanya Bobi pada Nia dengan intonasi yang terpenggal-penggal saking gugupnya.
          Niapun mengulangi anggukannya dan menjawab dengan kata “iya”. Sebuah kata yang mengandung sejuta makna bagi mahasiswa yang tengah melewati KKLnya di hari kedua ini. Dalam hatinya ia bersorak gembira menerima kenyataan bahwa cintanya diterima oleh gadis yang baru saja ia kenal kemarin senja di hutan mangrove itu.
          “Makasih Nia, aku janji akan setia dan komitmen akan hubungan ini”, janji yang ia lontarkan pada Nia.
          Akhirnya merekapun jadian dan setelah sampai rumahnya kemudian Bobipun pamit untuk kembali ke penginapan untuk sesegera mungkin mengabarkan kabar gembira ini pada dua sahabatnya.
          Sepanjang jalan menuju penginapan Bobipun bersenandung lagu-lagu cinta yang seakan memvisualisasikan apa yang tengah ia rasakan sambil sesekali senyam-senyum sendirian yang mungkin masih bisa dimaklumi seperti remaja lain seusianya yang tengah kasmaran.
          Tibalah ia di penginapan dan orang pertama yang ia kabari yakni Gea, sahabat yang telah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Dengan wajah sumringah Bobipun menceritakan dengan detail apa yang baru ia rasakan. Kata demi katapun terangkai mengungkapkan rasa bahagianya pada sahabatnya ini.
          Ekspresi wajah Niapun berubah 180 derajat yang mencoba sekuat tenaga menahan air mata yang tak kuasa ia bendung yang harus menerima kenyataan sosok pria yang dicintainya selama ini yang telah menjadi milik gadis lain. Akhirnya air mata itupun menetes perlahan dari kelopak mata yang sendu itu dan mulai membasahi pipinya yang merah merona itu. Bobipun hanya menganggap air mata sahabatnya itu hanyalah ungkapan gembira. Gea pun hanya bisa menangis dan tak melontarkan sebuah katapun dihadapan Bobi. Kemudian Bobi berlari untuk mengatakan hal yang sama dengan Gilang. Gilangpun kaget dan langsung melontarkan pertanyaan:
“Serius kamu Bob, terus kamu udah bilang ke Gea?”, Tanya Gilang dengan ekspresi serius.
“Udah”, jawab Bobi polos.
“Gila kamu Bob, nggak ngertiin banget perasaan cewek kayak apa”, ujar Gilang penuh emosi.
“Lohhh… lohh… bentar maksud kamu apa Lang, jujur aku nggak paham?”, ujar Bobi yang semakin bingung dengan perkataan Gilang.
“Dia itu udah mendem rasa ke kamu dari semester satu, tapi dia nggak berani ngungkapin karna dia lebih mentingin persahabatan kita dibanding dengan egonya demi cintanya ke kamu, tapi malahan kamu hancurin perasaannya demi gadis itu”, jelas Gilang seterang-terangnya.
Bobipun hanya bisa terdiam menerima penjelasan dari Gilang, di dalam benaknya tidak bisa membayangkan apa yang tengah Gea rasakan saat ini, tanpa pamit dahulu ia pun segera berlari meninggalkan Gilang dan berusaha menemukan keberadaan Gea.
Akhirnya ia berhasil menemukan Gea yang tengah termenung berjalan di bibir pantai.
“Yak, maafin aku ya, Gilang udah ngejelasin semuanya ke aku, sebelumnya aku minta maaf telah nyakitin perasaan kamu dengan pernyataanku tadi”, terang Bobi.
“Nggak usah minta maaf Bob, toh aku sendiri yang bodoh telah memendam perasaan ini dan nggak sedikitpun berani mengungkapkannya, semuanya udah terlanjur kamupun telah menjadi milik orang lain dan akupun akan berusaha menghormati keputusan kamu dan nggak akan coba ganggu hubungan kalian, aku harap kalian langgeng dan kamu janji harus setia pada Nia”, ujar Gea.
Ternyata tersimpan hati emas di gadis ini, walaupun hati dan perasaannya hancur menerima kenyataan pahit, akan tetapi lapang dada, sikap yang ia tunjukkan pada Bobi.
“Makasih Yak, kamu udah bisa ngertiin aku, aku janji akan setia pada Nia, tapi aku harap persahabatan kita tetap seperti sedia kala, yang tak terpengaruh oleh apapun, janji…?” ujar Bobi
          “Janji”, sahut Gea sambil merekatkan jari kelingkingnya pada Bobi sebagai isyarat perdamaian dan tanda persahabatan mereka.
          Hari ketiga KKLpun akhirnya berakhir dan rombonganpun akhirnya bergegas meninggalkan pulau Bawean. Dengan rasa yang berkecamuk di benak Bobi karena akan meninggalkan orang yang dikasihinya ini. Di hutan mangrovepun menjadi tempat pertemuan terakhir sebelum Bobi balik ke Surabaya. Terik matahari siang itupun hanya menjadi saksi bisu perpisahan dua sejoli yang hubungannya masih seumur jagung ini.
          Niapun memberikan sebuah kado yang terselimuti kertas warna putih dengan pita yang menghiasi penutup kado itu. Dan Bobipun memberikan jaket kesayangannya kepada Nia, yang berharap Nia akan selalu teringat padanya saat angin malam yang berhembus dari laut maupun terik panasnya pantai saat siang hari. Mereka saling berpelukan sebagai tanda perpisahan. Tak lupa kecupan manispun mendarat di dahi Nia.
          “Nia… aku janji akan setia akan komitmen hubungan kita”, terang Bobi.
          “Aku pegang kata-katamu, Bob”, sahut Nia

          Akhirnya jarakpun memisahkan antara Surabaya dan Bawean, namun kenangan-kenangan indah di Bawean akan selalu menjadi cerita cinta romantik kedua remaja ini. Terlebih-lebih suasana hutan mangrove yang akan Nampak indah dihiasi goresan warna oranye senja yang terlukis secara indah di pulau Bawean. Walaupun sempat ada masalah dengan Gea yang notabene sahabat dekatnya, Bobipun sanggup menyelesaikannya dan tetap membina hubungan persahabatan yang harmonis seperti dulu. Hubungan jarak jauhpun mereka jalani dengan intensif, komunikasi yang intens terjalin semakin meneguhkan kesetiaan yang mereka bina selama ini. 

0 komentar:

Posting Komentar