Mangrove Cinta di Pulau Bawean
“Berawal dari kegiataan KKL semester
genap ke pulau Bawean selama 3 hari, Bobipun akhirnya bertemu dengan gadis yang
tengah menanam mangrove, hal ini
bertujuan untuk membantu menyelesaikan tugas paper,maka ia, Gea dan Gilang meminta bantuan pada gadis itu untuk
dijadikan sebagai responden. Akhirnya Bobipun memberanikan nyalinya untuk
menembak gadis tersebut yang bernama Nia dan Niapun menerimanya, akan tetapi
konflikpun terjadi karena sebenarnya sudah sejak lama Gea memendam perasaan
cintanya pada Bobi. Tapi dengan wajah polos Bobi tak tau menau apa yang tengah
Gea pendam tanpa penjelasan dari Gilang, namun akhirnya berkat hati emas Gea, ia
pun rela mengorbankan perasaannya demi melihat sahabat baiknya bahagia dengan
gadis incarannya. Dan setelah KKL itu berakhir, hubungan yang dilandasi oles
kesetiaanpun tetap terjaga dengan LDR “Long
Distance Relationship” serta komitmen yang kuat dari keduanya”.
Terik matahari yang menyengat kulit itupun
mengiringi perjalanan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) rombongan mahasiswa salah
satu kampus di Surabaya. Ditambah perjalanan yang telah mereka tempuh selama 2
jam setengah itu tak juga mengantarkannya ke pulau yang akan menjadi destinasi
kegiatan rutin yang dilakukan mahasiswa setiap semester genap ini. Desiran
ombak yang memecah dinding-dinding kapal yang mereka tumpangi menambah sensasi
dalam menerjang laut utara pulau jawa ini.
Bawean,
nama pulau kecil yang akan jadi tempat penelitian, petualangan maupun bakti
sosial oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang masih duduk di semester dua ini.
Pulau kecil yang eksotis yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Gresik ini akan di
tempati mereka selama 3 hari berturut-turut. Raut muka kecapean terlebih-lebih
setelah beberapa jam dari Surabaya menuju Gresik menaiki bus ditambah
transportasi laut yang membuat mereka semakin didera kelelahan.
Bobi,
cowok yang tengah asyik memainkan gadgetnya
sembari menyenderkan tubuhnya di kursi tepat di belakang nahkoda ini seakan
merasa biasa saja dengan situasi dan keadaan ini pasalnya cowok yang masih baru
menginjk 19 tahun ini sering bepergian jauh dengan pesawat maupun kapal.
Sehingga raut mukanya tak memperlihatkan kekhawatiran seperti teman-temannya
yang lain.
“Bob,
kamu nggak capek dengan perjalanan ini?” tanya Gea keheranan melihat gelagat
Bobi yang baik-baik saja.
“Ehhh,
Gea… biasa aja kog, soalnya aku sering naik kapal sebelumnya jadi ya seperti
yang kamu lihat aku nggak ngerasa kecapean maupun mabok laut”, ujar Bobi pada
Gea
“Oh, jadi gitu tho Bob, syukurlah”,
ujar Gea.
Setelah
3 jam perjalanan akhirnya rombonganpun sampai di dermaga pulau Bawean. Panorama
pantai pasir putih yang indah, gelombang yang memecah bebatuan karang,
bukit-bukit yang tinggi menjulang di balik pantai, maupun jajaran tanaman mangrove (bakau) terhampar di depan
puluhan pasang bola mata. Seolah-olah penat dan lelah yang telah mereka rasakan
sekejap saat itupun hilang ternetralisir oleh keajaiban yang disuguhkan pulau nan
indah itu.
“Wow….”,
satu kata yang keluar dari mulut Bobi.
“Gilaaa…
cantik benar pemandangannya”, sahut Gea yang seakan menambah ketakjuban Bobi.
Mereka
berdua merupakan sahabat dekat semenjak semester satu yang sering dipersatukan
oleh tugas-tugas kelompok, pasalnya NIM (Nomor Induk Mahasiswa) mereka
berdekatan. Gea sedikit menaruh perasaan terhadap Bobi yang notabene menjadi
komting di rombelnya itu. Akan tetapi gadis ini seakan memendam rasanya itu
demi persahabatan yang telah ia jalin dengan baik dengan Bobi. Gea tak ingin
semuanya hancur ketika ia berani melontarkan kata “I Love You” pada Bobi. Dia piker masih bisa berada di dekat cowok
ini dengan status sahabat baik saja sudah bersyukur. Pasalnya Bobi berkarakter
cerdas, sopan dan juga menghargai sosok wanita. Jadi Gea akan selalu nyaman
bila berada di sampingnya.
Setelah
turun dari kapal, merekapun diantarkan oleh tour
guide menuju kamar penginapannya masing-masih. Bobi mendapat jatah sekamar
dengan Gilang yang kebetulan teman akrabnya di rombel.
“Yaudah,
kalian masuk ke kamar masing-masing dan istirahat sejenak, nanti pukul 16.00
kumpul di aula dekat pantai untuk penyuluhan”, ujar Bu Alya yang merupakan
dosen rombongan mahasiswa tersebut.
“Baik
Bu…..”, seru rombongan mahasiswa.
Setelah
istirahat yang kemudian dilanjutkan penyuluhan rombonganpun akhirnya dibubarkan
untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar pantai untuk mengenal lebih dekat pulau
yang memiliki buah merah yang khas ini. Bobi, Gilang dan Gea merupakan satu
kelompok jadi mereka memutuskan untuk mengamati keindahan dan fenomena yang
terdapat di pantai tersebut secara bersama-sama. Merekapun terlibat
perbincangan ringan sembari menginjakan telapak kakinya di pasir halus pantai
tersebut.
“Kira-kira
penduduk sini ada yang seusia kita nggak ya?”, ujar Gilang membuka pembicaraan
pada mereka berdua.
“Ya
pasti adalah, kemarin kan udah dijelasin sama Bu Alya, pulau ini dihuni oleh
kurang lebih 70.000 jiwa, tapi mayoritas cewek penghuninya, karena kebanyakan
pemudanya pada jadi TKI di Malaysia dan Singapura”, jelas Bobi pada Gilang
sambil sesekali memerhatikan gadis yang tengah sibuk dengan mangrovenya itu.
“Hebat
bener kamu Bob, masih ingat detail banget pula”, ujar Gilang yang tengah
keheranan pada sahabatnya yang cerdas ini.
Tanpa
sepatah katapun Gea lontarkan, hanya senyum sekedarnya.
“Ciyeee…
kamu kenapa Yak kog senyum-senyum gitu, perasaan Bobi yang mendapat pujian,
atau jangan-jangan…?” belum sempat diselesaikan oleh Gilang, Geapun langsung
memutus kalimat yang Gilang lontarkan.
“Apaan
sih Lang, aku cuma terkagum-kagum aja kog sama panorama yang ada disini” sahut
Gea mencoba menepis apa yang hendak Gilang tuduhkan.
Tanpa
berkomentar Bobipun asyik memerhatikan gerak gerik cewek yang tengah menanam mangrove tersebut.
Tiba-tiba
dari jauh terdengar suara yang memanggil-mangil nama Gea bahwa Ayahnya
menelponnya. Dan Geapun ijin kepada mereka berdua untuk kembali ke penginapan
dan sesegera mengangkat telepon dari ayahnya.
“Bentar
Yak, aku antar ya?” ujar Gilang
“Nggak
usah Lang, ntar Bobi sendirian nggak ada yang nemenin”, sahut Gea.
“Aku
nggak papa kog Yak, mending kamu dianterin Gilang deh, Lang cepet anterin Gea
gih… aku masih mau jalan-jalan dulu sambil nunggu sunset”, ujar Bobi.
Akhirnya
Bobipun sendirian dan mencoba mendekati gadis yang telah diperhatikannya tadi.
Dengan langkah pelan ia mencoba memberanikan nyalinya untuk sekedar bertanya-tanya
mengenai pulau Bawean. Dan sampailah Bobi tepat 1 meter di hadapan gadis itu.
“Maaf,
kalau boleh tau kamu sedang ngapain ya?” Tanya Bobi penasaran.
“Sedang
nanam mangrovelah masa sedang masak”,
jawab gadis yang memakai baju lengan panjang yang telah ia lipat di bagian
lengannya itu agar tidak kotor terkena lumpur.
“Hehehe
iyaya, nama kamu siapa?” modus Bobi.
“Nia,
kamu sendiri siapa?”, jawab gadis berjilbab itu.
“Perkenalkan
aku Bobi, asal Surabaya, kampus kami sedang mengadakan KKL di pulau Bawean
ini”, terang Bobi.
“Ohh…”,
sahut Nia yang tengah menyudahi penanaman mangrove
itu. “Yaudah ya Bob aku pulang ke rumah dulu bentar lagi maghrib ntar Umiku
nyariin aku.” Sahut Nia menimpali pernyataan yang telah ia lontarkan tadi.
“Oke…oke,
silahkan”, jawab Bobi yang tengah berbunga-bunga karena bisa berkenalan secara
langsung gadis asli Bawean itu.
Namun
Bobi melihat jam tangan warna merah muda yang tergantung di sebelah tanaman mangrove tak jauh dari yang Nia tanam
tadi.
“Niaa…
Niaa… ini jam tanganmu ketinggalan……”, teriak Bobi sekencang-kencangnya sembari
berlari mengejar agar terdengar Nia yang telah hilang terpisahkan jarak. Namun
ia kehilangan jejak dari gadis berparas cantik itu.
“Pokoknya
aku harus nemuin Nia, dan ngasih jam tangannya yang tertinggal ini”, ujar Bobi
di dalam benaknya.
Pertemuan
di senja itu dihiasi oleh oleh rasa penasaran Bobi. Sunset yang tergores di langit senja yang dibingkai oleh
segerombolan burung-burung yang tengah beranjak kembali ke peraduannya semakin
menambah rasa penasaran cowok yang gemar memainkan gitar akustik ini.
Bobipun
kembali ke penginapan dengan memegang jam tangan yang kemungkinan besar milik
Nia yang tertinggal usai menanam mangrove
tadi.
“Dari
mana Bob, kog baru pulang”, tanya Gea pada Bobi yang tengah asyik memegangi jam
tangan itu.
“Ehhh
Gea, dari hutan mangrove dekat pantai
tempat kita jalan-jalan tadi Yak, oya ayahmu nelpon emang ada kabar apa?” ujar
Bobi penasaran.
“Nggak
kog, Cuma nanyain kabar aku udah nyampe Bawean belum, maklumlah orangtua
sedikit khawatir”, terang Gea.
“Yaudah
aku masuk kamarku dulu yam au mandi, badanku udah bau banget akibat jalan-jalan
tadi”, kata Bobi.
“Oh,
iya Bob, silahkan…”, sahut Gea sambil matanya tertuju pada jam tangan yang
dipegangi Bobi tadi.
Haripun
telah beranjak malam, hembusan angin laut seakan menusuk-nusuk tulang rusuk
seakan dinginnya, akan tetapi keberadaan api unggun yang telah menyala di
tengah-tengah lingkaran mahasiswa itupun sedikit memberikan kehangatan alami
ditambah dengan riuh rendah suara nyanyian yang dilakukan per kelompok untuk
pentas seni. Malam itupun berubah menjadi malam keakraban bagi semuanya,
tepukan meriah, cekikikan candaan yang keluar memecah kesunyian yang ada di
pulau Bawean.
Tak
lupa diskusi antar kelompokpun terselengggara demi mengkaji fenomena-fenomena
keadaan Bawean baik secara fisik maupun sosialpun semakin menambah wawasan
pengetahuan mereka. Tapi dalam benak Bobi yang terbesit di pikirannya hanyalah
gadis penanam mangrove yang ia jumpai
di dekat pantai senja tadi. Kemudian datang Bu Alya memecang suasana ramai
ramaja-remaja itu.
“Anak-anak
untuk diskusi dan pentas seninya saya rasa sudah cukup, saya sudahi saja acara
untuk mala mini, setelah ini kalian menuju ke kamar masing-masing untuk
istirahat, besok pukul 05.00 kumpul di tempat biasa, terima kasih atas
perhatiannya”, pengumuman yang Bu Alya sampaikan kepada para mahasiswa.
“Oya,
agenda besok pagi apa bu?”, sahut Gilang
“Kita
mengadakan bakti sosial yakni penanaman mangrove
dan tugas kalian membuat paper
apa saja yang ada kaitannya dengan mangrove,
jadi kalian harus mewawancarai penduduk asli sini untuk menjadi responden
mengenai tugas paper yang ibu
berikan” jawab Bu Alya.
“Yeahhh… I get it”, teriak Bobi dalam
hati.
Dalam
benaknya dia tak perlu pusing-pusing mencari responden, cukup ke hutan mangrove dekat pantai dan menemui gadis
yang baru ia kenal semenjak senja tadi.
Kemudian
rombongan itupun bubar dan beranjak meninggalkan tempat yang mereka jadikan
pentas seni dan diskusi tadi untuk rehat semalam melonjorkan kakinya dan
meregangkan otot-ototnya yang telah ia porsir selama seharian di perjalanan
darat dan laut yang amat melelahkan.
Bunyi
adzan subuhpun telah berkumandang, setelah mandi dan menyelesaikan sholat yang
dilanjut dengan sarapan, mereka langsung bergegas menuju hutan bakau yang telah
mereka rencanakan tadi malam saat api unggun. Sesampai di hutan mangrove ternyata disana telah banyak
orang asli sana dan juga para turis yang rencananya akan melakukan penanaman mangrove secara masal. Kelompok Bobipun
melalukan penanaman mangrove.
Kesegala
penjuru mata Bobi gerakkan demi menemukan sesosok gadis yang ia temui senja
kemarin namun tak dapat ia jumpai juga. Namun akhirnya sorot matanya tertuju
pada gadis berjilbab yang tengah galau merenung di bebatuan karang tepat di
pinggir pantai. Sepertinya jauh di dalam benaknya tengah memendam duka karena
suatu hal. Tanpa berpikir panjang Bobipun menemui Nia dan duduk tepat di
sebelahnya. Ia pun membuka perbincangan.
“Maaf,
kalau boleh tau kamu kenapa kog sendirian duduk disini, bukannya yang lain
asyik dengan menanam mangrove”, Tanya
Bobi sambil meluruskan kakinya di atas karang.
“Jam
tangan kesayanganku hilang, mungkin jatuh di hutan mangrove kemarin, padahal itu kenang-kenangan dari ibuku yang telah
wafat 3 tahun lalu, dari tadi subuh udah aku cari, tapi nihil”, ujar Nia dengan
raut muka yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya pada pemuda yang baru ia
kenal.
“Ohhh….
Ini bukan?” Tanya Bobi sembari mengeluarkan jam tangan dari saku celananya.
“Alhamdulillah….,
tapi kog bisa ada di kamu?” Tanya Nia keheranan.
“Jadi
giniloh kemarin aku nemuin jam tangan kesayanganmu itu tergantung di pohon
bakau dekat tempat kita bertemu kemarin, nahh pas aku mau nyerahin ke kamu,
kamunya udah jauh, jadi aku bawa ke penginapan”, terang Bobi.
“Makasih
banget ya Bob, walaupun hanya sebuah jam tangan yang bagi orang lain dianggap
biasa akan tetapi bagiku adalah hal yang istimewa, sekali lagi makasih”, ujar
Nia.
“Makasih
aja nggak cukup dong buat benda berharga ini, ehhh Nia, aku boleh minta bantuan
nggak, buat sekedar nanya-nanya tentang mangrove
?”, ujar Bobi dengan nada pengharapan.
“Boleh
kog, sekarang?”, kata Nia sambil memakai jam tangan yang tak jadi hilang itu.
“Iya,
ayo gabung ke kelompokku ntar aku kenalin kedua teman baikku”, jawab Bobi.
Kemudian
merekapun beranjak dari bebatuan karang dan melangkahkan kakinya ke hutan mangrove yang terletak tak jauh dari
tempat mereka tadi. Lalu Niapun dikenalkan dengan Gea dan Gilang yang tengah
menantikan kehadiran Bobi. Setelah berkenalan merekapun satu persatu mewancarai
Nia mengenai mangrove yang bakal jadi
tugas paper.
“Apa
sih definisi dari Mangrove itu
sendiri?” tanya Gea.
“Mangrove
adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan
daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali
ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian
menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang besar. Sungai mengalirkan
air tawar untuk mangrove dan pada
saat pasang, pohon mangrove
dikelilingi oleh air garam atau air payau”, jelas Nia.
“Terus,
manfaat dari mangrove apa saja?”
tanya Gilang.
“Seperti
yang mungkin sudah kalian ketahui manfaat utama dari tanaman mangrove yakni mencegah adanya abrasi
yang diakibatkan oleh gelombang laut, akan tetapi banyak manfaat yang bisa kita
dapat dari tanaman ini, diantaranya: Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai ,
menjernihkan air , mengawali rantai makanan, melindungi dan memberi nutrisi, tempat
menambat kapal, bahan Pembuat obat-obatan, bahan pengawet, bahan makanan, dan bahan
bangunan.
Setelah
beberapa pertanyaan yang telah mereka lontarkan akhirnya lengkap sudah bahan
buat paper. Bobipun merasa kagum
dengan gadis yang seusianya ini, pengetahuannya tentang mangrove patut diacungi jempol. Kemudian Niapun ijin pulang untuk
mengasuh adiknya yang masih balita.
“Nia,
makasih banget ya infonya”, ucap Bobi yang kemudian dilanjutkan oleh Gilang dan
Gea.
“Iya,
sama-sama”, jawab Nia.
“Aku
antar sampe rumah ya sebagai tanda terima kasih dari kelompok kami”, ujar Bobi.
“Baiklah,
ayo”, sahut Nia.
Akhirnya
mereka berdua berjalan melewati jalan setapak dengan lebar 1 meter yang mungkin
hanya bisa dilalui sepeda motor. Di sisi lain wajah Gea yang tidak bisa
menyembunyikan raut muka cemburunya diketahui Gilang.
“Ehm…ehm…
ada yang cemburu nih?” ledek Gilang.
“Apaan
sih Gil, orang aku bukan siapa-siapanya Bobi juga, nggak masalah jika ia mau
dekat dengan siapa aja” jawab Gea dengan nada yang sedikit kesal karena ledekan
yang Gilang lontarkan.
Sementara
di sepanjang jalan Bobi dan Niapun terlibat perbincangan-perbincangan ringan
seputar pulau Bawean dan kehidupannya di pulau yang berpenghuni 70.000 jiwa
ini. Sampai-sampai Bobi sempat keceplosan menanyakan masalah asrama. Dan Niapun
seakan tak tabu dan menjawab semua pertanyaan yang Bobi lontarkan kepadanya.
Dan berujung pada satu pertanyaan pamungkas Bobi.
“Nia,
kamu udah punya pacar…?
Tanpa
kata-kata yang ia jawab diapun hanya menggelengkan kepalanya yang anggun
berselimut jilbab warna putih itu.
“Yes…yes…yes…”
teriak dalam benak Bobi.
“Mau
nggak Nia jadi pacar Bobi, Bobi janji akan setia walaupun nantinya kita akan
LDR “Long Distance Relationship”, terang
Bobi dengan nada pengharapannya pada Nia.
Sekali
lagi Niapun tak berani menjawab dan seketika menghentikan langkahnya yang
kemudian memfokuskan matanya yang tersorot tajam kea rah wajah Bobi. Seakan
Bumi berhenti berotasi, Mataharipun bersorak gembira, dan ombak yang setia
memecah kokohnya karangpun seakan berhenti sejenak menyaksikan saat Bobi
ditatap tajam oleh gadis yang berpengetahuan baik mengenai mangrove ini. Bobipun diam menyambut tatapan mata Nia dan
jantungnyapun berdetak kencang, aliran darahnya pun mengalir cepat. Rasanya dia
sedang mimpi bertemu dengan artis idamannya.
Anggukan
yang Bobi dapat dari Nia yang secara otomatis mengisyaratkan bahwa ia diterima.
“Se..se..rii..us..?”
tanya Bobi pada Nia dengan intonasi yang terpenggal-penggal saking gugupnya.
Niapun
mengulangi anggukannya dan menjawab dengan kata “iya”. Sebuah kata yang
mengandung sejuta makna bagi mahasiswa yang tengah melewati KKLnya di hari
kedua ini. Dalam hatinya ia bersorak gembira menerima kenyataan bahwa cintanya
diterima oleh gadis yang baru saja ia kenal kemarin senja di hutan mangrove itu.
“Makasih
Nia, aku janji akan setia dan komitmen akan hubungan ini”, janji yang ia
lontarkan pada Nia.
Akhirnya
merekapun jadian dan setelah sampai rumahnya kemudian Bobipun pamit untuk
kembali ke penginapan untuk sesegera mungkin mengabarkan kabar gembira ini pada
dua sahabatnya.
Sepanjang
jalan menuju penginapan Bobipun bersenandung lagu-lagu cinta yang seakan
memvisualisasikan apa yang tengah ia rasakan sambil sesekali senyam-senyum
sendirian yang mungkin masih bisa dimaklumi seperti remaja lain seusianya yang
tengah kasmaran.
Tibalah
ia di penginapan dan orang pertama yang ia kabari yakni Gea, sahabat yang telah
ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Dengan wajah sumringah Bobipun
menceritakan dengan detail apa yang baru ia rasakan. Kata demi katapun
terangkai mengungkapkan rasa bahagianya pada sahabatnya ini.
Ekspresi
wajah Niapun berubah 180 derajat yang mencoba sekuat tenaga menahan air mata
yang tak kuasa ia bendung yang harus menerima kenyataan sosok pria yang
dicintainya selama ini yang telah menjadi milik gadis lain. Akhirnya air mata
itupun menetes perlahan dari kelopak mata yang sendu itu dan mulai membasahi
pipinya yang merah merona itu. Bobipun hanya menganggap air mata sahabatnya itu
hanyalah ungkapan gembira. Gea pun hanya bisa menangis dan tak melontarkan
sebuah katapun dihadapan Bobi. Kemudian Bobi berlari untuk mengatakan hal yang
sama dengan Gilang. Gilangpun kaget dan langsung melontarkan pertanyaan:
“Serius kamu Bob, terus kamu udah
bilang ke Gea?”, Tanya Gilang dengan ekspresi serius.
“Udah”, jawab Bobi polos.
“Gila kamu Bob, nggak ngertiin banget
perasaan cewek kayak apa”, ujar Gilang penuh emosi.
“Lohhh… lohh… bentar maksud kamu apa
Lang, jujur aku nggak paham?”, ujar Bobi yang semakin bingung dengan perkataan
Gilang.
“Dia itu udah mendem rasa ke kamu dari
semester satu, tapi dia nggak berani ngungkapin karna dia lebih mentingin
persahabatan kita dibanding dengan egonya demi cintanya ke kamu, tapi malahan
kamu hancurin perasaannya demi gadis itu”, jelas Gilang seterang-terangnya.
Bobipun hanya bisa terdiam menerima penjelasan
dari Gilang, di dalam benaknya tidak bisa membayangkan apa yang tengah Gea
rasakan saat ini, tanpa pamit dahulu ia pun segera berlari meninggalkan Gilang
dan berusaha menemukan keberadaan Gea.
Akhirnya ia berhasil menemukan Gea yang
tengah termenung berjalan di bibir pantai.
“Yak, maafin aku ya, Gilang udah
ngejelasin semuanya ke aku, sebelumnya aku minta maaf telah nyakitin perasaan
kamu dengan pernyataanku tadi”, terang Bobi.
“Nggak usah minta maaf Bob, toh aku
sendiri yang bodoh telah memendam perasaan ini dan nggak sedikitpun berani
mengungkapkannya, semuanya udah terlanjur kamupun telah menjadi milik orang
lain dan akupun akan berusaha menghormati keputusan kamu dan nggak akan coba
ganggu hubungan kalian, aku harap kalian langgeng dan kamu janji harus setia
pada Nia”, ujar Gea.
Ternyata tersimpan hati emas di gadis
ini, walaupun hati dan perasaannya hancur menerima kenyataan pahit, akan tetapi
lapang dada, sikap yang ia tunjukkan pada Bobi.
“Makasih Yak, kamu udah bisa ngertiin
aku, aku janji akan setia pada Nia, tapi aku harap persahabatan kita tetap
seperti sedia kala, yang tak terpengaruh oleh apapun, janji…?” ujar Bobi
“Janji”,
sahut Gea sambil merekatkan jari kelingkingnya pada Bobi sebagai isyarat
perdamaian dan tanda persahabatan mereka.
Hari
ketiga KKLpun akhirnya berakhir dan rombonganpun akhirnya bergegas meninggalkan
pulau Bawean. Dengan rasa yang berkecamuk di benak Bobi karena akan
meninggalkan orang yang dikasihinya ini. Di hutan mangrovepun menjadi tempat pertemuan terakhir sebelum Bobi balik ke
Surabaya. Terik matahari siang itupun hanya menjadi saksi bisu perpisahan dua
sejoli yang hubungannya masih seumur jagung ini.
Niapun
memberikan sebuah kado yang terselimuti kertas warna putih dengan pita yang
menghiasi penutup kado itu. Dan Bobipun memberikan jaket kesayangannya kepada
Nia, yang berharap Nia akan selalu teringat padanya saat angin malam yang
berhembus dari laut maupun terik panasnya pantai saat siang hari. Mereka saling
berpelukan sebagai tanda perpisahan. Tak lupa kecupan manispun mendarat di dahi
Nia.
“Nia…
aku janji akan setia akan komitmen hubungan kita”, terang Bobi.
“Aku
pegang kata-katamu, Bob”, sahut Nia
Akhirnya
jarakpun memisahkan antara Surabaya dan Bawean, namun kenangan-kenangan indah
di Bawean akan selalu menjadi cerita cinta romantik kedua remaja ini.
Terlebih-lebih suasana hutan mangrove
yang akan Nampak indah dihiasi goresan warna oranye senja yang terlukis secara
indah di pulau Bawean. Walaupun sempat ada masalah dengan Gea yang notabene sahabat dekatnya, Bobipun
sanggup menyelesaikannya dan tetap membina hubungan persahabatan yang harmonis
seperti dulu. Hubungan jarak jauhpun mereka jalani dengan intensif, komunikasi
yang intens terjalin semakin meneguhkan kesetiaan yang mereka bina selama ini.














0 komentar:
Posting Komentar