Senin, 16 Desember 2013

E-Learning : Efisiensi Biaya, Waktu, dan Implementasi Paperless Policy

Gambar 1.1 e-learning

Saat mendengar kata e-learning pikiran saya langsung tertuju pada 3 hal, yaitu: internet, efektivitas, dan paperless policy. Sebagai seorang mahasiswa di kampus yang notabene mengusung gerakan konservasi tentunya tak asing lagi dengan proses pembelajaran e-learning yang merupakan salah satu langkah yang diusung demi mengurangi penggunaan kertas dalam proses kegiatan pembelajaran. Sebelum beranjak lebih jauh sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu pemahaman mengenai e-learning.

Apa itu e-learning dan apa saja peranannya?

Segala sesuatu yang kaitannya dengan proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas yang menggunakan media elektronik sebagai sarana pembelajaran dan biasanya berhubungan dengan internet. Padahal e-learning tidak serta merta berhubungan internet, seperti: kegiatan presentasi di kelas yang biasanya diterapkan dalam proses pembelajaran di kampus maupun sekolah-sekolah yang sudah memiliki media LCD proyektor.

Gambar 1.2 Mahasiswa sedang presentasi

E-learning sendiri memiliki 3 peranan, yakni sebagai suplemen (tambahan), komplemen (pelengkap), dan substitusi (pengganti).
Analogi Suplemen, Komplemen, dan Substitusi

Suplemen
Peserta didik berhak mengerjakan tugas paper geografinya melalui 2 cara, yakni: secara konvensional tulis tangan lalu dikumpulkan secara kolektif kepada guru atau alternatif menggunakan Ms.Word lalu mengirimkannya via email kepada gurunya.

Komplemen
Peserta didik melakukan pretest menjelang UAS dengan cara mengomentari postingan blog yang ada kaitannya dengan mata pelajaran yang sudah diterapkan secara konvensional di kelas. Contohnya: tugas mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia via komentar di Blog pribadi dosen saya seperti gambar di bawah ini:

Gambar 1.3 tugas komentar di blog

Substitusi
Dalam kegiatan belajar mengajar tentunya seorang guru apalagi dosen memiliki agenda tambahan yang mengharuskan ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk jangka waktu tertentu, sehingga banyak materi pelajaran yang belum tersampaikan maka alternatifnya yakni e-learning berperan sebagai media yang menyediakan materi-materi dalam bentuk softcopy yang dapat didownload peserta didik kapan saja dan di mana saja asal terdapat koneksi internet. Sehingga ketertinggalan materi tadi dapat teratasi.

Gambar 1.4 file materi dalam bentuk softcopy

Apa saja keunggulan e-learning?

Baik bagi pendidik (Guru, Dosen) maupun bagi peserta didik (Siswa, Mahasiswa)

(1)       Fleksibel
Artinya memungkinkan pembelajaran dilakukan di mana saja dan kapan saja. Selain itu dengan adanya materi yang disajikan bukan dalam bentuk buku (hardcopy) akan tetapi file softcopy yang biasanya disimpan dalam (CD, flash disc) sehingga mudah dibawa kemana saja tanpa beban berat dibanding membawa buku dalam jumlah banyak.

Gambar 1.5 flash disc

(2)       Menarik
Dengan media pembelajaran yang tidak hanya monoton, seorang Guru menerangkan di depan kelas, sedangkan murid mendengarkan maka e-learning hadir dengan berbagai opsi, misal: gambar, animasi, audio, video, bahkan permainan (game), sehingga peseta didik akan terhindar dari kejenuhan.

(3)       Murah
Walaupun dalam pengadaan awal membutuhkan perangkat dengan biaya yang tak murah akan tetapi dalam hal pemanfaatan dan pengoperasian dalam jangka waktu yang panjang sangatlah murah. Kita analogikan saja seperti ini. Dalam pelajaran geografi, membutuhkan banyak literatur baik buku pelajaran maupun penelitian langsung di lapangan. Akan tetapi dengan adanya e-learning, Guru dapat memberikan sumber referensi melalui blog pribadi yang di dalamnya terdapat kumpulan materi dalam bentuk softcopy maupun video pembelajaran yang ada kaitannya dengan tujuan pembelajaran. Sehingga biaya yang dikeluarkan dapat diminimalisir.

(4)       Efisiensi Waktu
Di era globalisasi seperti sekarang, manajemen waktu yang baik sangat diperlukan. Termasuk dalam memperoleh sumber informasi maupun materi pelajaran. Seperti jangka waktu 2x50 menit setiap mata kuliah dirasa kurang optimal apabila materi hanya disampaikan secara konvensional, maka e-learning berperan sebagai komplemen yakni melengkapi materi yang telah diajarkan pada saat tatap muka di kelas. Sedangkan dalam hal ini dibutuhkan seorang pendidik baik guru maupun dosen yang sedikit mengetahui ketrampilan dalam hal mengotak-atik e-learning, agar materi pelengkap tersebut dapat diterima peserta didik secara optimal.

(5)       Pendukung Program Paperless Policy
Dampak pemanasan global tentunya sedikit banyak sudah dapat kita rasakan, misal: musim tak menentu, banjir rob, dan suhu meningkat. Sehingga perlu adanya langkah cerdas untuk sedikit mengatasi hal tersebut. Berawal dari salah satu pilar konservasi yang diterapkan di kampus saya yakni kebijakan pengurangan pemakaian kertas atau yang dikenal dengan istilah Paperless Policy, dengan adanya kegiatan pembelajaran baik dimulai dari pemesanan mata kuliah, input presensi harian, input nilai, dan pengumuman indeks prestasi kumulatif dilakukan berbasis IT, yakni yang lebih akrab dikenal dengan nama “Sikadu” (Sistem Informasi Akademik Terpadu). Sehingga pemakaian kertas yang sumbernya berasal dari pohon dapat kita minimalisir. Sehingga sedikit banyak berkontribusi dalam mengatasi pemanasan global.

Gambar 1.6 Sikadu

Apa saja kendala dalam pemanfaatan e-learning?

(1)       Keterbatasan sarana prasarana
Tentunya e-learning dapat beroperasi dengan adanya perangkat pendukung baik mulai dari seperangkat komputer, jaringan internet, laptop, PC tablet, maupun LCD Proyektor. Sehingga memang dibutuhkan modal besar di awal dan pengadaan dalam jumlah yang masal apalagi bila sasarannya diimplementasikan pada instansi tertentu, misal: sekolah, kampus, maupun kantor pemerintahan.

(2)       Koneksi internet yang belum merakyat
Apabila seluruh perangkat pendukung telah terpenuhi, maka koneksi internet vital peranannya. Pernah pengalaman saya mengalami keterlambatan dalam pemesanan mata kuliah semester 3 ini dikarenakan koneksi gangguan internet saat berada di kampung halaman. Sehingga akan sia-sia saja perangkat lengkap tanpa adanya koneksi internet. Karena pada dasarnya hampir dari keseluruhan sistem e-learning bergantung pada internet.

(3)       Kompetensi SDM yang menguasai e-learning dan perangkat pendukung
Perangkat pendukung sudah, koneksi internet lancar, hal yang dibutuhkan setelah kedua komponen tersebut terpenuhi adalah SDM yang kompeten dan menguasai segala sesuatu yang ada kaitannya dengan perangkat komputer dan sistem e-learning.

Gambar 1.7 BPTIK kampusku


Kembali pada masalah pribadi saya yang mengalami keterlambatan pada pemesanan mata kuliah tadi, sehingga perlu adanya koordinasi dengan operator sistem teknologi pusat kampus yang bernama BPTIK. Balik lagi pada prinsip suatu sistem teknologi yang tidak memandang suku, ras, agama, maupun alasan-alasan klasik seperti koneksi internet yang buruk. Secara otomatis sistem tadi akan tetap mengunci apa yang telah kita input dan menyimpan data apa saja yang telah kita inputkan. Sehingga butuh SDM yang betul-betul melek teknologi dan kompeten dibidangnya.

(4)       Aksesibititas jalan daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal
Masalah infrastruktur yang penting peranannya dalam pendistribusian perangkat komputer pada daerah yang terpencil, terdepan, dan tertinggal seperti daerah yang ada di pedalaman Kalimantan maupun Papua yakni kondisi aksesibilitas jalan yang rusak, dengan medan yang berat, serta akan semakin parah saat musim penghujan. 

Gambar 1.8 jalanan rusak

(5)       E-learning pada pelajaran khusus
Keunggulan e-learning dalam hal efektivitas memang sudah tidak dipertanyakan, akan tetapi pada pelajaran tertentu yang memerlukan interaksi intensif tatap muka dan konsultasi, misalnya: ilmu sosial tertentu, dan bimbingan konseling.
Sehingga e-learning di sini berperan sebagai komplemen (pelengkap), apabila dirasa pembelajaran tatap muka belum lengkap atau keterbatasan waktu maka dibutuhkan pelajaran pelengkap.

Peran Saya (di sini sebagai Mahasiswa/Peserta Didik)

(1)       Mengoptimalkan e-learning yang sudah ada
Dalam artian menggunakan e-learning sebagai suplemen, komplemen, maupun substitusi sesuai dengan kondisi yang diterapkan oleh mata kuliah tertentu.

(2)       Mempelajari e-learning sebagai calon pendidik
Sebagai mahasiswa yang kuliah di jurusan kependidikan maka sudah barang tentu wajib mempelajari e-learning lebih dalam. Apalagi dengan kemajuan teknologi, informasi apa saja yang kaitannya dengan pemanfaatan teknologi sudah sangat lengkap dan dapat dipelajari kapan saja tinggal niat dan tekad untuk menekuninya.

Gambar 1.9 browsing penggunaan emodo

(3)       Menggunakan sistem e-learning sebagai pendukung kebijakan Paperless Policy
Sebagai perwujudan pilar konservasi yang diterapkan di kampus saya maka penggunaan e-learning ini diharapkan menekan laju pemakaian kertas yang berlebihan. Maka pengumupulan tugas lebih baik via email, komentar di blog maupun dengan menggunakan flash disc kelas. Yang sudah diterapkan dalam mata kuliah TIK.

(4)       Mengenalkan e-learning pada orang terdekat
Karena tidak semua orang mengetahui komputer apalagi internet, maka saya berkewajiban mengenalkannya kepada orang terdekat saya. Seperti contohnya orang tua saya, bagaimana cara mengoperasikan laptop, mengetik di Ms Word, maupun browsing berita via internet. Sehingga sedikit demi sedikit ilmu yang telah saya peroleh dapat termanfaatkan, walaupun dalam lingkup yang sempit.

(5)       Menggunakan e-learning secara bijaksana
Tentunya teknologi juga memiliki dua sisi seperti pisau yakni: terkadang memberikan keunggulan dalam hal efektivitas akan tetapi dalam penggunaan yang kurang bijak dapat berdampak buruk. Sehingga perlu adanya kontrol diri dalam penggunaannya. Misal: fasilitas wifi (akses internet secara gratis) di kampus saya selama 24 jam non stop, sehingga informasi apa saja dapat kita peroleh termasuk ketika hari libur, sehingga banyak mahasiswa yang mengakses situs apa saja, baik itu jejaring sosial, mencari literatur untuk tugas, game online, bahkan berjualan secara online, sehingga kontrol diri tadi diharapkan dapat meminimalisir hal-hal buruk yang sangat mungkin bisa terjadi apabila dari penggunaan teknologi yang tidak bijak.

Pada dasarnya teknologi akan memberikan feedback baik apabila kita bijak menggunakannya, begitu sebaliknya.

Gambar pada artikel di atas merupakan koleksi pribadi.
Tulisan ini diikutkan dalam lomba Blog Pendidikan XL


FB Page Indonesia Berprestasi : Facebook Indonesia Berprestasi









2 komentar:

  1. tulisan anda membuat saya mendapatkan pencerahan,.
    dari yg tadinya saya kurang tw tntg e-learning menjadi paham bagaimana e-learning.
    para pendidik seharusnya menerapkan hal seperti ini,. dan mulai mengajarkan hal ini kpda anak didiknya mulai dini,. bkan hanya pendidik tetapi juga masyarakat secara umum,.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, memang sudah sepantasnya begitu

      Hapus