E-Learning : Efisiensi Biaya, Waktu, dan Implementasi Paperless Policy
Gambar
1.1 e-learning
Saat mendengar
kata e-learning pikiran saya langsung
tertuju pada 3 hal, yaitu: internet, efektivitas, dan paperless policy. Sebagai seorang mahasiswa di kampus yang notabene mengusung gerakan konservasi
tentunya tak asing lagi dengan proses pembelajaran e-learning yang merupakan salah satu langkah yang diusung demi
mengurangi penggunaan kertas dalam proses kegiatan pembelajaran. Sebelum
beranjak lebih jauh sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu pemahaman mengenai e-learning.
Apa
itu e-learning dan apa saja peranannya?
Segala
sesuatu yang kaitannya dengan proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di
luar kelas yang menggunakan media elektronik sebagai sarana pembelajaran dan biasanya
berhubungan dengan internet. Padahal e-learning
tidak serta merta berhubungan internet, seperti: kegiatan presentasi di kelas
yang biasanya diterapkan dalam proses pembelajaran di kampus maupun
sekolah-sekolah yang sudah memiliki media LCD proyektor.
Gambar
1.2 Mahasiswa sedang presentasi
E-learning
sendiri memiliki 3 peranan, yakni sebagai suplemen (tambahan), komplemen
(pelengkap), dan substitusi (pengganti).
Analogi
Suplemen, Komplemen, dan Substitusi
Suplemen
Peserta
didik berhak mengerjakan tugas paper
geografinya melalui 2 cara, yakni: secara konvensional tulis tangan lalu
dikumpulkan secara kolektif kepada guru atau alternatif menggunakan Ms.Word
lalu mengirimkannya via email kepada
gurunya.
Komplemen
Peserta
didik melakukan pretest menjelang UAS
dengan cara mengomentari postingan blog yang ada kaitannya dengan mata
pelajaran yang sudah diterapkan secara konvensional di kelas. Contohnya: tugas
mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia via komentar di Blog pribadi dosen saya
seperti gambar di bawah ini:
Gambar
1.3 tugas komentar di blog
Substitusi
Dalam
kegiatan belajar mengajar tentunya seorang guru apalagi dosen memiliki agenda
tambahan yang mengharuskan ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk jangka
waktu tertentu, sehingga banyak materi pelajaran yang belum tersampaikan maka
alternatifnya yakni e-learning
berperan sebagai media yang menyediakan materi-materi dalam bentuk softcopy yang dapat didownload peserta didik kapan saja dan di
mana saja asal terdapat koneksi internet. Sehingga ketertinggalan materi tadi
dapat teratasi.
Gambar
1.4 file materi dalam bentuk softcopy
Apa saja keunggulan e-learning?
Baik bagi pendidik (Guru, Dosen) maupun bagi
peserta didik (Siswa, Mahasiswa)
(1)
Fleksibel
Artinya memungkinkan pembelajaran dilakukan
di mana saja dan kapan saja. Selain itu dengan adanya materi yang disajikan
bukan dalam bentuk buku (hardcopy) akan
tetapi file softcopy yang biasanya
disimpan dalam (CD, flash disc) sehingga
mudah dibawa kemana saja tanpa beban berat dibanding membawa buku dalam jumlah
banyak.
Gambar 1.5 flash disc
(2)
Menarik
Dengan media pembelajaran yang tidak hanya
monoton, seorang Guru menerangkan di depan kelas, sedangkan murid mendengarkan
maka e-learning hadir dengan berbagai
opsi, misal: gambar, animasi, audio, video, bahkan permainan (game), sehingga peseta didik akan
terhindar dari kejenuhan.
(3)
Murah
Walaupun dalam pengadaan awal membutuhkan
perangkat dengan biaya yang tak murah akan tetapi dalam hal pemanfaatan dan
pengoperasian dalam jangka waktu yang panjang sangatlah murah. Kita analogikan
saja seperti ini. Dalam pelajaran geografi, membutuhkan banyak literatur baik
buku pelajaran maupun penelitian langsung di lapangan. Akan tetapi dengan
adanya e-learning, Guru dapat
memberikan sumber referensi melalui blog pribadi yang di dalamnya terdapat
kumpulan materi dalam bentuk softcopy
maupun video pembelajaran yang ada kaitannya dengan tujuan pembelajaran.
Sehingga biaya yang dikeluarkan dapat diminimalisir.
(4)
Efisiensi
Waktu
Di era globalisasi seperti sekarang,
manajemen waktu yang baik sangat diperlukan. Termasuk dalam memperoleh sumber
informasi maupun materi pelajaran. Seperti jangka waktu 2x50 menit setiap mata
kuliah dirasa kurang optimal apabila materi hanya disampaikan secara
konvensional, maka e-learning berperan sebagai komplemen yakni melengkapi
materi yang telah diajarkan pada saat tatap muka di kelas. Sedangkan dalam hal
ini dibutuhkan seorang pendidik baik guru maupun dosen yang sedikit mengetahui
ketrampilan dalam hal mengotak-atik e-learning,
agar materi pelengkap tersebut dapat diterima peserta didik secara optimal.
(5)
Pendukung
Program Paperless Policy
Dampak pemanasan global tentunya sedikit
banyak sudah dapat kita rasakan, misal: musim tak menentu, banjir rob, dan suhu
meningkat. Sehingga perlu adanya langkah cerdas untuk sedikit mengatasi hal
tersebut. Berawal dari salah satu pilar konservasi yang diterapkan di kampus
saya yakni kebijakan pengurangan pemakaian kertas atau yang dikenal dengan
istilah Paperless Policy, dengan
adanya kegiatan pembelajaran baik dimulai dari pemesanan mata kuliah, input
presensi harian, input nilai, dan pengumuman indeks prestasi kumulatif
dilakukan berbasis IT, yakni yang lebih akrab dikenal dengan nama “Sikadu” (Sistem
Informasi Akademik Terpadu). Sehingga pemakaian kertas yang sumbernya berasal
dari pohon dapat kita minimalisir. Sehingga sedikit banyak berkontribusi dalam
mengatasi pemanasan global.
Gambar 1.6 Sikadu
Apa saja kendala dalam pemanfaatan
e-learning?
(1)
Keterbatasan
sarana prasarana
Tentunya e-learning
dapat beroperasi dengan adanya perangkat pendukung baik mulai dari seperangkat
komputer, jaringan internet, laptop, PC tablet, maupun LCD Proyektor. Sehingga
memang dibutuhkan modal besar di awal dan pengadaan dalam jumlah yang masal
apalagi bila sasarannya diimplementasikan pada instansi tertentu, misal:
sekolah, kampus, maupun kantor pemerintahan.
(2)
Koneksi
internet yang belum merakyat
Apabila seluruh perangkat pendukung telah
terpenuhi, maka koneksi internet vital peranannya. Pernah pengalaman saya
mengalami keterlambatan dalam pemesanan mata kuliah semester 3 ini dikarenakan
koneksi gangguan internet saat berada di kampung halaman. Sehingga akan sia-sia
saja perangkat lengkap tanpa adanya koneksi internet. Karena pada dasarnya
hampir dari keseluruhan sistem e-learning
bergantung pada internet.
(3)
Kompetensi
SDM yang menguasai e-learning dan perangkat pendukung
Perangkat pendukung sudah, koneksi internet
lancar, hal yang dibutuhkan setelah kedua komponen tersebut terpenuhi adalah
SDM yang kompeten dan menguasai segala sesuatu yang ada kaitannya dengan
perangkat komputer dan sistem e-learning.
Gambar 1.7 BPTIK kampusku
Kembali pada masalah pribadi saya yang
mengalami keterlambatan pada pemesanan mata kuliah tadi, sehingga perlu adanya koordinasi
dengan operator sistem teknologi pusat kampus yang bernama BPTIK. Balik lagi
pada prinsip suatu sistem teknologi yang tidak memandang suku, ras, agama,
maupun alasan-alasan klasik seperti koneksi internet yang buruk. Secara
otomatis sistem tadi akan tetap mengunci apa yang telah kita input dan menyimpan
data apa saja yang telah kita inputkan. Sehingga butuh SDM yang betul-betul melek
teknologi dan kompeten dibidangnya.
(4)
Aksesibititas
jalan daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal
Masalah infrastruktur yang penting peranannya
dalam pendistribusian perangkat komputer pada daerah yang terpencil, terdepan,
dan tertinggal seperti daerah yang ada di pedalaman Kalimantan maupun Papua
yakni kondisi aksesibilitas jalan yang rusak, dengan medan yang berat, serta
akan semakin parah saat musim penghujan.
Gambar 1.8 jalanan rusak
(5)
E-learning pada
pelajaran khusus
Keunggulan e-learning dalam hal efektivitas memang sudah tidak dipertanyakan,
akan tetapi pada pelajaran tertentu yang memerlukan interaksi intensif tatap
muka dan konsultasi, misalnya: ilmu sosial tertentu, dan bimbingan konseling.
Sehingga e-learning
di sini berperan sebagai komplemen
(pelengkap), apabila dirasa pembelajaran tatap muka belum lengkap atau
keterbatasan waktu maka dibutuhkan pelajaran pelengkap.
Peran
Saya (di sini sebagai Mahasiswa/Peserta Didik)
(1)
Mengoptimalkan
e-learning yang sudah ada
Dalam artian menggunakan e-learning sebagai
suplemen, komplemen, maupun substitusi sesuai dengan kondisi yang diterapkan
oleh mata kuliah tertentu.
(2)
Mempelajari
e-learning sebagai calon pendidik
Sebagai mahasiswa yang kuliah di jurusan
kependidikan maka sudah barang tentu wajib mempelajari e-learning lebih dalam. Apalagi dengan kemajuan teknologi,
informasi apa saja yang kaitannya dengan pemanfaatan teknologi sudah sangat
lengkap dan dapat dipelajari kapan saja tinggal niat dan tekad untuk
menekuninya.
Gambar 1.9 browsing penggunaan emodo
(3)
Menggunakan
sistem e-learning sebagai pendukung
kebijakan Paperless Policy
Sebagai perwujudan pilar konservasi yang
diterapkan di kampus saya maka penggunaan e-learning
ini diharapkan menekan laju pemakaian kertas yang berlebihan. Maka pengumupulan
tugas lebih baik via email, komentar
di blog maupun dengan menggunakan flash
disc kelas. Yang sudah diterapkan dalam mata kuliah TIK.
(4)
Mengenalkan
e-learning pada orang terdekat
Karena tidak semua orang mengetahui komputer
apalagi internet, maka saya berkewajiban mengenalkannya kepada orang terdekat
saya. Seperti contohnya orang tua saya, bagaimana cara mengoperasikan laptop,
mengetik di Ms Word, maupun browsing berita via internet. Sehingga sedikit demi
sedikit ilmu yang telah saya peroleh dapat termanfaatkan, walaupun dalam lingkup
yang sempit.
(5)
Menggunakan
e-learning secara bijaksana
Tentunya teknologi juga memiliki dua sisi seperti
pisau yakni: terkadang memberikan keunggulan dalam hal efektivitas akan tetapi
dalam penggunaan yang kurang bijak dapat berdampak buruk. Sehingga perlu adanya
kontrol diri dalam penggunaannya. Misal: fasilitas wifi (akses internet secara gratis) di kampus saya selama 24 jam
non stop, sehingga informasi apa saja dapat kita peroleh termasuk ketika hari
libur, sehingga banyak mahasiswa yang mengakses situs apa saja, baik itu
jejaring sosial, mencari literatur untuk tugas, game online, bahkan berjualan secara online, sehingga kontrol diri tadi diharapkan dapat meminimalisir
hal-hal buruk yang sangat mungkin bisa terjadi apabila dari penggunaan
teknologi yang tidak bijak.
Pada dasarnya teknologi akan memberikan feedback baik apabila kita bijak menggunakannya, begitu sebaliknya.
Gambar pada artikel di atas merupakan koleksi pribadi.
Tulisan ini diikutkan dalam lomba Blog
Pendidikan XL
FB Page Indonesia Berprestasi : Facebook Indonesia Berprestasi
























tulisan anda membuat saya mendapatkan pencerahan,.
BalasHapusdari yg tadinya saya kurang tw tntg e-learning menjadi paham bagaimana e-learning.
para pendidik seharusnya menerapkan hal seperti ini,. dan mulai mengajarkan hal ini kpda anak didiknya mulai dini,. bkan hanya pendidik tetapi juga masyarakat secara umum,.
Terima kasih, memang sudah sepantasnya begitu
Hapus